Jejak Pena Seorang Alumni Parabek

Perkenalkan, saya Novia Erwida. Saya adalah salah satu alumni Parabek, seangkatan dengan Ustadz Ilham Lc. MA dkk. Saya ingin sharing tentang karir menulis saya, semoga bisa menjadi motivasi buat teman-teman.

Penulis itu bermacam-macam. Bisa blogger, menulis buku fiksi / non fiksi, atau penulis media. Saat ini saya fokus menulis media, karena waktunya bisa lebih longgar tanpa deadline, dan saya bisa menulis sesuai mood.

Saya suka membaca. Dari berbagai bacaan itu, saya mulai belajar menulis sendiri. Waktu itu saya masih tingkat Tsanawiyah. Cerpen pertama saya dimuat di media lokal Sumbar. Girangnya bukan main. Masih ingat saya pinjam mesin tik sepupu untuk menulis cerpen itu. Saya makin semangat menulis dan semua tulisan saya di koran saya kliping dalam sebuah buku.

Saat saya di tingkat Aliyah, seorang teman mengenalkan majalah Annida. Dari Annida saya mulai mengenal menulis sebagai dakwah. Beberapa cerpen saya mulai menghiasi Annida. Sastrawan Joni Ariadinata mengomentari cerpen saya, beliau menulis judul yang membuat hidung saya kembang kempis “Cerpen Bagus Buat Novia Erwida.”

Saya mulai mengikuti lomba menulis. Salah satunya lomba yang diadakan Forum Lingkar Pena dan Kedubes Swiss. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu finalis. Saat mengikuti lomba itu, saya tak berani memimpikan sebagai salah satu pemenang. Alhamdulillah, dengan kemenangan itu, rasa minder saya terkikis. Saya semakin memantapkan diri untuk menjadi penulis.

Ternyata menulis tak cukup hanya tekad. Setelah tamat kuliah dan mulai mengajar, kegiatan menulis saya tinggalkan. Saya selalu tak punya waktu lagi untuk menulis. Semua draft ada di kepala saya, tapi rasanya malas untuk mengetik. Menulis itu butuh perjuangan. Niat, luangkan waktu, dan tulislah. Kalau sekedar angan-angan, tulisanmu tak akan jadi.

Saya kembali menulis setelah punya anak. Mulai mengikuti kelas menulis online di facebook dengan Mbak Nurhayati Pujiastuti dan Mas Bambang Irwanto. Dan saya baru menuai hasilnya setahun kemudian. Nama saya mulai terpampang di majalah Bobo, Kompas, Gadis, Femina, Annida dan Ummi Online. Saya juga punya beberapa antologi dengan teman-teman penulis. Guru menulis saya terus menyemangati. Mereka ingin murid-muridnya juga sukses seperti mereka.

 

Honor, pentingkah?

Di awal menulis, pasti sungkan menanyakan soal honor. Seolah-olah kita adalah penulis matre. Tapi guru menulis saya tidak demikian. Ada hak kita dalam setiap karya yang dimuat. Besar kecilnya tergantung standar media tersebut. Kalau di media lokal, untuk mengambil honor harus ada sedikit perjuangan. Hubungi redaksi atau minta tolong teman mengambilkan di kantor redaksi. Tapi media nasional akan segera mentrasnfer honor penulis.

Tapi bukan berarti kita jadi pasang tarif, ya. Ada saat-saat tertentu yang menuntut keihlasan dalam sebuah karya. Saya juga membuat cerpen tak dibayar, yang keseluruhan penjualan bukunya untuk donasi.

 

Yuk, Menulis

Saya pernah membaca koran, di sana ada tulisan pesantren lain dari Sumbar. Alangkah bangganya kalau nama pesantren yang terpampang di sana adalah karya adik-adik dari Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Saya ingin adik-adik di Parabek mengikuti jejak Buya Hamka, yang saat ini sudah dianjutkan oleh penulis novel Negeri Lima Menara, A.Fuadi.

Menjadi terkenal? Abaikan dulu impian itu. Karena di zaman sekarang banyak cara untuk menjadi terkenal. Niatkan menulis sebagai ladang amal, selama tulisanmu masih ada, pahala akan mengalir untukmu. Seperti kata Helvy Tiana Rossa, penulis itu berumur panjang. Walaupun dia mati, tulisannya tetap hidup.

 

Caranya Gimana?

Menulis itu gampang. (Mindset ini harus ada dulu. Jangan berpikiran sulit, karena itu hanya akan memperparah ide mengalir). Cukup sampaikan satu tema secara terstruktur dalam tulisan, lalu endapkan dan edit kembali. Setelah itu, kirim ke media yang dituju. Tak perlu print out, cukup kirim lewat email, dan pantau tulisanmu.

            Selamat menulis.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: