Jika Ramadhan seperti Biji Kopi

Jika Ramadhan seperti biji kopi, maka ia adalah biji kopi terbaik yang ditanam di atas tanah terbaik oleh petani terbaik. Proses bercocok tanam, penyiangan, pemupukan, dan panennya dilakukan dengan cara terbaik menggunakan alat-alat dan fasilitas terbaik. Singkat cerita, biji kopi yang dihasilkan adalah biji kopi plihan. Hasil dari kolaborasi yang terbaik.

Jika Ramadhan seperti biji kopi, maka ia adalah biji kopi terbaik. Ketika biji kopi terbaik bertemu dengan pasangan terbaik, diracik oleh peracik terbaik dengan tingkat didih air terbaik, maka akan menghasilkan citarasa kopi terbaik. Percampuran air mendidih  dan kopi terbaik akab menjadi kolaborasi yang tidak lagi bisa dipisahkan. Keduanya menyatu menyatakan ikrar bersama-sama. Aroma kopi terbaik akan membuat pecinta kopi menikmati setiap seduhan dari gelasnya. Meresapi citarasa terbaik pada setiap tetesannya, sehingga bersedia berlama-lama agar kopi itu bisa dinikmati sepuasnya.

Jika Ramadhan seperti biji kopi terbaik, ia mempunyai semua syarat untuk menjadi bulan terbaik. Di dalamnya ada malam terbaik, lebih baik dari seribu bulan. Padanya juga diturunkan kitab suci terbaik, kepada nabi terbaik, untuk ummat terbaik. Padanya juga ditebarkan kualitas-kualitas pahala terbaik dalam bentuk ibadah terbaik.

Demikianlah Ramadhan dengan segala kualitas terbaik apabila datang kepada manusia-manusia terbaik, orang-orang yang beriman, maka akan menghasilkan kolaboasi terbaik. Orang-orang beriman akan sibuk memperbaiki dirinya, memperbaiki kualitas ibadah wajibnya, menambah kuantitas ibadah sunahnya, mengkhatamkan bacaan Qurannya, melengkapi ibadah jamaahnya. Seperti kopi dan air mendidih, orang beriman tidak bisa dipisahkan dari kenikmatan beribadah di bulan Ramadhan. Keduanya telah menyatu.

Di samping itu, Ramadhan akan menjadi miniatur peradaban manusia yang madani. Manusia yang sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam setiap tindakan. Karena Ramadhan akan mengajarkan manusia untuk berpuasa, menahan ego dan emosi, merasakan kepahitan hidup orang-orang miskin. Ramadhan adalah waktu paling tepat untuk menemukan contoh manusia yang peduli pada sesama, karena pada waktu itu manusia berlomba-lomba melakukan kebaikan. Terinspirasi dari kepahitan yang dirasakan oleh orang-oang miskin dengan berpuasa, maka mereka membayar zakat fitrah. Belum lagi sedekah-sedekah sunah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan, ibarat air yang mengalir dari mata air, tiada hentinya.

Sebaliknya, walaupun biji kopi terbaik yang diracik oleh peracik terbaik diletakkan begitu saja di atas sebuah batu tanpa diseduh dengan air, maka ia tidak akan memberi pengaruh apapun pada batu tersebut. Ia tidak akan menghasilkan aroma nikmat. Ia hanya terpajang belaka. Bila waktunya datang, angin akan menghembusnya. Hujan akan membawanya mengalir. Tidak ada bekas sama sekali, tidak ada kolaborasi cantik, tidak ada kenikmatan pada kopi terbaik sekalipun.

Demikianlah jika Ramadhan datang pada orang-orang yang hanya menjadikan Ramadhan sebagai sebuah festival, sebuah perayaan budaya tahunan. Mereka menyambut Ramadhan seolah bersuka cita, padahal hanya rekayasa belaka, untuk kepentingan pragmatisnya. Maka di sana tidak ada dimensi spiritualnya. Mengutip Kurnia JR, “Sebulan Kemustahilan” pada Opini Harian Kompas (6/6), “Ketika agama sudah jadi sekedar kegiatan budaya, maka hasilnya adalah festival. Peribadatan jadi perayaan, doa jadi nyanyian. Di sana ada nyanyian. Di sana ada keramaian, kemeriahan, bunyi-bunyian tarian, sajian kuliner, pameran busana dan aksesori, serta simbol-simbol warna dan benda”.

Ramadhan yang dijalani dengan cara seperti ini akan terbang tanpa meninggalkan kesan bagi pelaksananya. Seperti kopi di atas batu yang diterbangkan angin dan dibawa hujan, ia hilang tanpa bekas. Ia kembali ke bentuk semula, keras, sunyi, dan tidak berubah.

Semoga Ramadhan kita adalah Ramadhan tebaik yang datang pada hamba terbaik. Wallahu a’lam.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: