Jilbab

Penggunaan terjemahan Al-Quran meningkat. Produksinya pun konsisten. Selain penerjemahan-penerjemahan individu yang dilakukan beberapa tokoh, pemerintah melalui Kementrian Agama juga mengeluarkan terjemahan Al-Quran resmi sejak tahun 1965. Beberapa tahun belakangan, himbauan untuk belajar Al-Quran melalui terjemahan meningkat. Untuk itu, ada baiknya dilakukan review beberapa persoalan yang muncul dalam penerjemahan Al-Quran. Dan kasus terbaik untuk memulainya adalah terhadap kata “jilbab”.

“Jil.bab n kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada”

“Ke.ru.dung n tudung / n kain penutup kepala perempuan.”

Di atas adalah entri Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk kata jilbab dan kerudung. Dari kedua pemaknaan di atas, terlihat bahwa kerudung dan jilbab berbeda dari ukurannya. Kerudung tidak dispesifikasi dengan ukuran, sementara jilbab dijelaskan sebagai kerudung yang lebih lebar. Di luar perihal ukuran, sepertinya Kamus Besar Bahasa Indonesia menyamakan antara jilbab dan kerudung. Dalam bahasa lain, jilbab adalah sinonim dari kerudung.

Sebagai kata yang masuk dalam entri Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka jilbab dan kerudung merupakan dua kata yang dianggap baku dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, pemaknaan kedua kata tersebut juga merupakan representasi dari pemahaman pengguna Bahasa Indonesia terhadapnya. Jilbab mungkin kata yang lebih populer penggunaannya dalam percakapan harian saat ini daripada kerudung. Jika seseorang menyebut atau mendengar kata ‘jilbab’, maka yang terbayang dalam pikiran mereka tidak jauh dari pemaknaan yang disebutkan dalam KBBI sebagaimana di atas; kerudung yang digunakan wanita Muslim untuk menutup kepala, leher, sampai dada. Dengan berkembangnya kategori syar`i dan non-syar`i yang berasosiasi kepada ukuran, terminologi ‘jilbab’ sepertinya mulai kehilangan dimensi ukuran. Dengan kata lain, jilbab berukuran lebar maupun mini tetaplah disebut jilbab, hanya saja seseorang bisa mengidentifikasinya sebagai syar`i atau non-syar`i.

Sebagaimana banyak kata-kata bahasa Indonesia lainnya, jilbab merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini disebut dalam Al-Quran, tepatnya pada surat al-Aḥzāb 59. Mari kita perhatikan ayat dan penerjemahannya dalam Al-Quran dan Terjemahannya Kementrian Agama edisi terbaru:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dalam penerjemahan di atas, terlihat bahwa kata ‘jilbab’ tidak dialihbahasakan kepada Bahasa Indonesia. Tentu saja, karena jilbab telah menjadi Bahasa Indonesia. Dengan demikian, seorang pembaca Al-Quran, ketika menemui ayat ini dan membaca terjemahannya, terutama sekali kata ‘jilbab’, yang muncul dalam pikirannya adalah pakaian penutup kepala bagi perempuan. Dengan kata lain, pembaca terjemah membawa apa yang ia pahami dalam bahasa Indonesia dalam memaknai jilbab dalam bahasa Al-Quran ini.

Hal ini merupakan salah satu problem penerjemahan. Pembaca yang tidak menyempatkan diri untuk membaca tafsir tidak akan menyadari bahwa kata jilbab sebagai bahasa Al-Quran memiliki kandungan makna yang berbeda dengan jilbab sebagai kosa kata bahasa Indonesia. Terjemahan, tidak seperti tafsir, hanya menyediakan penjelasan yang sangat mini untuk setiap kata. Beberapa penerjemah mengakomodasi problem penerjemahan dengan catatan kaki. Akan tetapi, seberapa banyak orang membaca catatan kaki?

Jadi, apakah makna jilbab sebagai bahasa Al-Quran?

Catatan kaki pada Al-Quran dan Terjemahnya Kemenag menjelaskannya dengan “sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah, dan dada.” Mahmud Yunus menerjemahkannya dengan baju mantel, sementara Hamka menjelaskannya dengan pakaian yang menutup seluruh badan.

Ibnu Kaṡīr menyebut 2 makna: al-ridā` fawq al-khimār (pakaian di atas kerudung), dan wa huwa bimanzilat al-izār al-yawm (ia sepadan dengan sarung saat ini). Imam al-Qurṭubi mendefinisikannya al-ṡawb al-akbar min al-khimār (pakaian yang lebih besar daripada khimar). Adapun khimar, Ibn Kaṡīr mendefinisikannya dengan sesuatu yang tertutupi dengannya kepala.

Untuk khimar ini, Hamka menyebutnya dengan selendang yang digunakan Rasuna Said dan Rahmah el-Yunusiah. Adapun Mahmud Yunus menyebutnya dengan tudung. Pemaknaan Hamka dan Mahmud Yunus terhadap khimar sepertinya lebih dekat dengan makna jilbab dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, padanan yang tepat untuk khimar dalam bahasa Indonesia adalah selendang/jilbab. Sementara itu, jilbab dalam bahasa Al-Quran lebih menunjuk kepada baju daripada selendang.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: