Kamu Lulusan Mana?

Mendengar sebuah nama ‘Sumatera Thawalib’ tentunya tidak asing lagi bagi kita, terutama bagi para pelajar yang telah diberi kesempatan untuk mengenyam ilmu pengetahuan disana. Namun bagaimana dengan orang-orang diluar pelajar Sumatera Thawalib? Apakah mereka tahu atau justru malah sebaliknya?

Tepat satu tahun yang lalu, tahun 2015, setelah saya resmi menjadi alumni Sumatera Thawalib Parabek, Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan di salah satu instansi di luar Sumatera Barat. Tentunya, sebagai warga atau mahasiswi baru disana saya berinteraksi dan memperkenalkan diri kepada senior atau sesama teman mahasiswa baru di sana. Tidak jarang pula ada yang ingin berkenalan atau bersilaturahmi.

Kata orang, ‘tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka ditendang‘. Ya, sudah hal alami. Lingkungan baru, suasana baru, aktifitas baru, teman baru, maka perkenalan adalah salah satu hal yang lumrah. Salah satu pertanyaan yang sering saya temukan adalah, ‘kamu tamatan mana?’

Pertanyaan seperti ini sekilas memang terlihat biasa saja. Namun dibalik itu ternyata banyak dari pelajar Sumatera Thawalib menjawab dengan jawaban yang bervariasi. Hal ini terkadang menimbulkan suatu kebingungan yang terjadi pada para pelajar Sumatera Thawalib Parabek. Adapun hal yang membingungkan kami terkait status Sumatera Thawalib Parabek: apakah sebuah pondok pesantren, sekolah swasta, madrasah Aliyah, atau?

Bukan hanya tentang status, variasi jawaban juga berkaitan dengan nama dari Sumatera Thawalib Parabek itu sendiri. “Apakah orang akan tahu nama ‘Sumatera Thawalib’ tersebut, atau sebaliknya?

Di beberapa wilayah, khususnya di Sumatera Barat mungkin nama ‘Sumatera Thawalib Parabek’ tidak asing lagi di telinga masyarakat yang mendengarnya ketika nama itu disebutkan. Lalu, bagaimana dengan masyarakat yang berada di luar Sumatera Barat? Apakah mereka tahu dengan nama ini?

Ini menjadi pengalaman pribadi yang menarik bagi saya. Ketika saya ditanya lulusan dari mana, saya menjawab Sumatera Thawalib. Ketika itu, yang dipahami penanya adalah Thawalib Padang Panjang. Well, Thawalib tidak hanya satu. Ada lebih dari sepuluh pada awalnya. Tapi ketika menyebut istilah Thawalib, ternyata orang memahaminya Thawalib Padang Panjang.

Terkadang, saya menjawab tidak dengan istilah ‘Sumatera Thawalib’, melainkan dengan satu kata saja, yaitu Parabek. Ternyata dengan menyebutkan satu kata itulah orang-orang baru tahu bahwa yang dimaksud adalah sebuah lembaga pendidikan Islam di pinggir kota Bukittinggi, tepatnya di Kabupaten Agam, Sumatera Barat; lembaga pendidikan yang didirikan oleh Syaikh Ibrahim Musa atau dikenal juga dengan nama Inyiak Parabek.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: