Karena Mie Instan tetaplah Mie…

Siapa yang tidak kenal mie instan?? Sahabat sejuta umat yang dikenal sebagai penyelamat ini, baik penyelamat ketika lapar karena preparasinya yang simpel, ataupun penyelamat ketika kantong kering karena harganya yang terjangkau memang sangat menggiurkan. Apalagi mie instan tersedia dengan berbagai varian rasa, seperti rasa Soto, Kari Ayam, Bakso, bahkan rasa rendang. Selain mie instan kuah juga ada mie instan yang kering atau biasa disebut mie goreng. Aroma bumbunya yang semerbak membuat sebagian orang yang awalnya tidak nafsu makan menjadi brutal ingin segera menyantap sajian instan ini.

Menurut Wikipedia, Mie instan adalah mie yang sudah dimasak terlebih dahulu dan dicampur dengan minyak, dan bisa dipersiapkan untuk konsumsi hanya dengan menambahkan air panas dan bumbu-bumbu yang sudah ada dalam paketnya. Mie instan pertama kali diciptakan oleh Momofoku Ando pada tahun 1958. Sedangkan di Indonesia, mie instan pertama kali dikenalkan oleh PT Lima Satu Sankyu yang berganti nama menjadi PT Supermi Indonesia dan PT Sanmaru Foods Manufacturing Indonesia Ltd. yang berdiri pada tahun 1968. Merek Mie instan pertama yang diluncurkan produsen ini adalah  Supermi dan empat tahun kemudian diciptakan lagi produk mie instan terkenal kedua yaitu Indomie.

Menurut Data World Instan Noodles Association, pada tahun 2013 konsumsi mie instan orang Indonesia mencapai 14,9 miliar bungkus yang mengalami peningkatan 1 miliar bungkus dari tahun 2009. Seperti info lain yang dimuat oleh salah satu media Indonesia, menurut hasil Susenas, selama periode 1996-2011 laju peningkatan pangsa pengeluaran rumah tangga Indonesia yang dialokasikan untuk membeli mie instan mencapai 5,95% pertahun. Hal ini menunjukkan bahwa peran mie instan semakin besar dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Keadaan seperti ini menjadikan mie instan salah satu komoditas yang diikutkan dalam perhitungan garis kemiskinan. Data BPS tahun 2015 menunjukkan bahwa kontribusi mie instan di pedesaan mencapai 2,41% dan di perkotaan 2,62%. Tingginya angka ini menempatkan Indonesia pada urutan kedua sebagai negara pengkonsumsi mie instan terbesar setelah Cina, yaitu 46,2 miliar bungkus.

Berdasarkan pengalaman pribadi, ada orang yang “tega-teganya” menganggap mie instan kuah sebagai pengganti sayur. Kira-kira seperti ini, “tunggu sebentar ya, mau seduh mie instan dulu untuk sayurnya”. Mungkin masih ada yang mengira bahwa setiap yang berkuah itu sayur. Padahal, mie instan sangat minim kandungan seratnya, tidak seperti sayur yang tinggi vitamin, mineral, dan serat.  Walaupun sudah difortifikasi dengan beberapa vitamin dan mineral, tetapi tetap saja kandungan gizi di dalam sayur dan mie instan sangat berbeda.

Mie instan hanyalah mie, yang mengandung karbohidrat tinggi. Sama halnya dengan nasi, mie instan sebaiknya tidak dimakan “sendirian”, tetapi harus ada tambahan dalam memasaknya. Seperti menambahkan telur dan beberapa sayur-sayuran ke dalam rebusan mie instan tersebut. Ini tentu saja akan menambah citarasa dari mie instan, selain rasanya yang enak, gizi dari penambahan pangan lain juga bisa didapat.

Karena memiliki kandungan yang sama dengan nasi,  sebaiknya mie instan tidak dimakan bersamaan dengan nasi. Karena nasi mengandung karbohidrat yang tinggi, begitu juga dengan mie instan. Jika tubuh mendapatkan jumlah karbohidrat dalam kadar yang berlebihan, maka yang akan terjadi adalah memperberat kerja insulin dalam metabolisme karbohidrat yang mengakibatkan meningkatnya glukosa dalam darah, dan akan berakhir kepada kegemukan bahkan diabetes. sebagaimana kita ketahui bersama bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Mie instan terbuat dari tepung dengan beberapa teknik proses pengawetan sehingga bisa dikemas dan tahan lama. Selain itu, bumbu yang terdapat dalam kemasannya pun telah mengalami beberapa proses sehingga bisa kering dan awet.  Bumbu ini yang sebenarnya mengandung kadar natrium yang tinggi serta Mono Sodium Glutamat (MSG), tetapi masih dalam batas wajar. Mengkonsumsi mie instan tergolong aman karena MSG dan zat yang lain yang digunakan dalam proses nya dinilai aman oleh Food and Drug Administration (FDA). Keamanan ini juga diperkuat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan  (BPOM) Indonesia dengan adanya kode dari BPOM tersebut. Ini berarti mie instan diakui aman baik secara lokal maupun internasional.

Terigu yang menjadi bahan dasar pembuatan mie memiliki indeks Glikemik (GI) yang tinggi. Indeks glikemik yang tinggi memicu obesitas dan penyakit tidak menular lainnya seperti diabetes. jadi, jika dikonsumsi terlalu sering maka yang ditakutkan adalah semakin tinggi prevalensi atau angka kejadian obesitas dan diabetes serta jantung di Indonesia. Ya, walaupun mie instan bukan satu-satunya penyumbang faktor penyebab penyakit ini, tetapi mengurangi makan mie instan akan membantu mengurangi kejadian berbagai penyakit degeneratif tersebut. Belum lagi MSG yang terkandung di dalamnya. Meskipun masih dalam batas wajar dan aman, jika terlalu sering dikonsumsi juga akan berefek negatif di dalam tubuh.

Memang, mie instan seperti mempunyai magnet tertentu untuk menarik perhatian dan membuat candu. Sekali makan mie instan, biasanya orang akan menginginkan lagi dan lagi. Tetapi kita sebagai konsumen harus cerdas dalam hal memilih panganan. Mie instan tentu saja boleh dikonsumsi, tetapi tetap harus diperhatikan frekuensinya. Misalnya sekali seminggu sebagai selingan di samping makanan pokok. Semoga tidak ada lagi masyarakat yang berpesepsi bahwa semua yang berkuah itu sayur atau menjadikan mie instan sebagai makanan pokok sehari-hari. Salam sehat.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: