Katanya dan Nyatanya: Sebuah Oto-Kritik

Sebelumnya saya minta maaf karena jika lancang untuk menuliskan oto-kritik ini. Ini bukan karena benci, tapi sebaliknya justru karena saya mencintai Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, dimana saya sempat mengenyam pendidikan meskipun tidak lama.

Satu abad lebih umur sekolah ini. Semenjak di bangun pada tahun 1910 (1908?), adalah hal yang maklum saja jika ia telah memberikan konstribusi yang sangat besar bagi kehidupan umat Islam, untuk wilayah Sumatera Barat khususnya, dan Indonesia umumnya. Pahit-manis sejarah telah dihadapi. Namun, nadi dan nafas sekolah ini masih berjalan. Dalam perjalanan itulah, ia telah melahirkan sejumlah nama-nama kawakan dan beken, bahkan hingga level Internasional. Ya, begitulah Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek yang kita kenal (atau yang diperkenalkan kepada kita) selama ini.

Dengan demikian, adalah hal yang maklum juga Madrasah ini menjadi buah bibir bagi masyarakat. Keharuman dan kebesaran namanya diceritakan orang tua kepada anak, mamak kepada kamanakan, nenek/kakek kepada cucu, tokoh masyarakat kepada masyarakatnya, dan ulama/ustaz kepada jama’ahnya.

Puji-sanjung tidak jarang kita dengar. Suatu ketika, saya secara kebetulan menghadiri sebuah sidang di kantor DPRD Agam. Ketika itu, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek menuai puji dengan kemahiran para santri dengan bahasa Arab dan kemampuan membaca kitab kuning.

Itu semua tentu hal yang menyenangkan. Di satu sisi, kita perlu berbangga dengan itu. Tidak ada capaian yang didapatkan dengan mudah; usaha keras lah yang mengantarkan kepada semua itu. Tapi, pada sisi lain, kita juga perlu terus introspeksi, apakah suara-suara di luar sana itu memang begitu adanya?

Ketika itu, satu hal yang langsung terbayang di kepala dan hati saya adalah yang kedua. Dengan berat hati, saya menyatakan, apa ‘katanya’ di luar sana, sayangnya lebih besar daripada ‘nyatanya’ di dalam lingkungan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek sendiri. Apa yang mereka ceritakan di luar sepertinya merujuk ke Madrasah beberapa tahun yang lalu, dan sekarang ini seperti sedang ada kemunduran.

Saya berpandangan demikian, pertama sekali, karena saya, dengan pengakuan pribadi, termasuk kepada siswa-siswa yang langganan dengan pelanggaran peraturan sekolah. Tapi, tetap bagaimanapun juga, saya bersama kelompok siswa bengal di sekolah, tetaplah merupakan representasi dari Madrasah; bukan hanya anak mas nan cemerlang saja.

Pengalaman menjadi siswa bengal, mengantarkan saya kepada sebuah kesimpulan. Ketidak-konsistenan terhadap aturan merupakan salah satu faktor penghambat di Madrasah kita ini. Yang saya maksud adalah bahwa Madrasah telah memiliki seperangkat aturan yang berlaku. Akan tetapi, seringkali saya melihat pihak Madrasah tidak konsisten dengan aturan tersebut. Mungkin ketika itu, saya dan teman-teman merasa senang, karena “dimaafkan”. Tapi, saat ini saya menyadari bahwa maaf tersebut, atau yang lebih pantas disebut “komitmen yang lemah” dalam nuansa yang negatif, merupakan satu faktor lemah yang dimiliki sekolah kita.

Tiada salahnya untuk belajar kepada sekolah-sekolah lainnya. Sebutlah Gontor. Saya pernah mengalami iklim Gontor selama satu tahun. Dapat dikatakan, suasana kedisiplinan dan keteraturan di sana jauh berbeda dengan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Mereka berani mengeluarkan banyak sekali siswanya karena komitmen mereka terhadap peraturan yang mereka tetapkan.

Nah, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek yang memiliki sejarah lebih panjang daripada Gontor, tapi tidak mampu menyainginya, apa yang terjadi?

Di samping itu, masih ada satu hal penting lagi yang penting untuk saya sampaikan di sini. Selama di sekolah, saya memang banyak mendapatkan pembelajaran. Tapi, sayangnya, saya tidak mendapatkan banyak pendidikan. Hanya dari guru tua dan beberapa guru muda saja lah saya mendapatkan pendidikan. Ya, mungkin saja karena saya terlalu sibuk dengan segala pelanggaran dan konsekuensinya. Tapi, saya bukanlah representasi tunggal terhadap kegelisahan tersebut. Perenungan ini juga bisa dibawa kepada siswa-siswa atau alumni yang menyelesaikan studinya di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek beberapa tahun terakhir.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: