Kebijaksanaan dan Rasionalitas: Hikmat bagi Pendidikan [Part 1]

 

Pendahuluan

Garis Besar Haluan Negara secara jelas menegaskan bahwa “Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia”. Penegasan ini menunjukkan kesadaran pemerintah dan masyarakat, bahwa segala usaha pembangunan haruslah mengutamakan manusia. Rumusan “pembangunan manusia Indonesia seutuhnya” itu secara terus menerus perlu digali maknanya, sebab pada dirinya sendiri, rumusan itu masih dapat secara kreatif ditafsirkan dan dipahami agar kekayaan isinya semakin terlihat.

Menjadi manusia utuh secara kerohanian khususnya, di sadari atau tidak, merupakan cita-cita manusia itu sendiri. Di kiri kanan di jumpai manusia yang bengkok, miring, berat sebelah, aneh, setengah lumpuh dan tidak utuh kejiwaannya. Lebih mengkhawatirkan lagi, bahwa manusia itu sendiri tidak sadar telah mengalami kemiringan, ketimpangan dan kesakitan kejiwaan.

Penjelasan arti “pembangunan manusia Indonesia seutuhnya” itu semakin penting, bila yang akan membicarakan masalah itu adalah manusia, yang ingin ikut melibatkan diri dalam pendidikan. Pendidikan merupakan bidang yang amat penting dalam keseluruhan usaha pembangunan manusia itu. Pembangunan manusia hanya bisa berhasil baik, apabila pendidikan juga berhasil baik.

Berbicara mengenai pendidikan dan pembangunan manusia, mau tidak mau harus berbicara juga tentang kebijaksanaan dan rasionalitas. Membangun berarti memperbaiki atau menyempurnakan, maka membangun manusia terutama juga berarti memperbaiki atau menyempurnakan manusia. Dalam praktek, hal itu mengandaikan bahwa pimpinan lembaga, civitas akademika, pendidik dan peserta didik bekerja sama untuk menumbuhkan serta mengembangkan lembaga pendidikan beserta perangkatnya dalam menghayati dan mengamalkan kebijaksanaan dan rasionalitas.

Kebijaksanaan dan rasionalitas manusia bermaksud untuk membangun suatu kehidupan yang bermakna dan bahagia. Hal itu dicapai dengan memperlihatkan bagaimana manusia dapat mengembangkan diri, dapat membuat potensi-potensinya menjadi nyata dan bagaimana pada akhirnya ia menjadi pribadi yang kuat, yaitu pribadi kesadaran ego personal yang intelek dalam bahasa filsafatnya atau keikhlasan yang berilmu dalam bahasa agama. Menjadi pribadi yang kuat berarti berhasil dalam kehidupan sebagai manusia. Pribadi yang kuat itulah yang membuat manusia bahagia.

 

Manusia Utama (Insan Kamil): Kebijaksanaan dan Rasionalitas

Apabila manusia melakukan sesuatu, ia selalu melakukannya karena ada tujuannya, yaitu sebuah nilai. Apabila manusia mau mengatur kehidupannya secara nalar, maka pertanyaan kunci baginya adalah; Apakah tujuan manusia? Menurut Aristoteles filosof Yunani Klasik, tujuan hidup manusia itu ada yang sementara dan ada tujuan akhir. Tujuan sementara hanyalah sarana untuk tujuan lebih lanjut, misalnya, orang yang mengikuti kuliah dengan tujuan lulus dan memperoleh gelar sarjana atau magister. Ijazah tersebut bukan tujuan untuk diri manusia itu sendiri, melainkan hanya sekedar sarana untuk dapat memperoleh tempat kerja yang lebih memadai. Tempat kerja itu sendiri hanya tujuan sementara, karena kalau manusia bekerja pasti memiliki sebuah tujuan, yaitu manusia mencari nafkah hidup, mengembangkan diri, atau hanya sebagai batu loncatan untuk kedudukan pekerjaan lain yang lebih tinggi.

Baca juga:  Unsur-unsur Serapan dalam Bahasa Al-Qur`an

Manusia banyak terjebak pada tujuan sementara ini saja, sedangkan tujuan akhir yang lebih substansial atau tidak parsial yaitu kesadaran ego personal atau keikhlasan masih minim bersarang dalam diri manusia. Tujuan akhir inilah yang akan mengantarkan manusia pada level sebuah pemikiran, gagasan, ide, atau pekerjaan yang ber-intelek dan ber-etis. Manusia yang bijak dan rasio inilah yang disebut dengan manusia utama atau Insan Kamil.

Manusia utama itu tidak hanya mengarah kepada orang yang selalu berbuat baik, melainkan pribadi yang kuat batinnya, mantap, tidak goyah, tidak reah, berani, dapat diandalkan, bermutu dan bermakna. Kebijaksanaan merupakan wawasan intelektual dan akan efektif apabila ditunjang oleh kepribadian etis. Hanya orang yang mantap dalam bertindak secara etis akan tetap bijaksana dalam arti yang sesungguhnya. Kebijaksanaan yang tidak tertanam dalam kepribadian etis akan merosot menjadi kepintaran dan opportunisme belaka.

Manusia harus membangun kekuatan intelektual dan kekuatan etis untuk memberi arah yang semestinya pada hidup. Kualitas seseorang ditentukan dari keutamaan yang dimilikinya. Apakah manusia menjadi pemberani atau penakut; orang jujur atau curang; terbuka atau picik; rasional atau emosional; kikir atau besar hati; dangkal atau mendalam; itu tergantung dari keutamaan yang dimiliki manusia. Manusia yang mampu menjadi utuh, mantap dalam dirinya sendiri, dan mengalami kehidupannya yang bermakna mesti mengembangkan keutamaan intelektual dan etis.

Dalam kajian ilmu Filsafat, kata “kebijaksanaan” yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, yaitu sophia, phronesis dan episteme memiliki makna yang berbeda-beda, walaupun selama ini tiga kata bahasa Yunani tersebut dipadukan dengan pengertian tunggal yaitu “kebijaksanaan”. Sophia adalah kebijaksanaan dalam arti kemampuan manusia untuk memandang yang Ilahi atau yang abadi. Phronesis adalah kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari, dalam arti kelakuan yang bijaksana atau kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi secara ‘bijaksana’ dan sebagainya. Sedangkan episteme adalah kebijaksanaan dalam ketajaman pengetahuan ilmiah. Episteme mampu menghitung, berkalkulasi, menarik kesimpulan logis dan sebagainya. Episteme membutuhkan sikap eksak dan ketepatan ilmu-ilmu. Episteme mengamati dan memahami hal yang tampak, yang niscaya seperti hukum alam. Episteme adalah ketajaman berpikir yang dibutuhkan dalam ilmu. Sedangkan phronesis adalah kebijaksanaan manusia dalam bertindak. Keunikan manusia adalah bahwa tindakannya justru tidak dapat dipastikan dengan cara sains. Manusia bertindak menurut pertimbangannya, bukan, menurut hukum alam. Aristoteles mendefinisikan phronesis sebagai “kebiasaan bertindak berdasarkan pertimbangan yang tepat dalam bidang masalah baik dan buruk bagi manusia”.

Baca juga:  Memperkenalkan UIN Jogja kepada Ust. Khalid Basalamah

Episteme dapat diajarkan. Setiap ilmu mempunyai epistemenya sendiri, metodologi tentang objeknya, logika penelitiannya, dan sebagainya. Namun, phronesis tidak dapat diajarkan. Kebijaksanaan phronesis tidak dapat dipelajari seperti orang mempelajari cara kerja (episteme) seorang psikolog. Orang menjadi bijaksana phronesis karena belajar dari pengalaman dan kebiasaan dalam bertindak. Seorang polisi pada akhirnya akan mengetahui apakah orang yang berhadapan dengannnya adalah orang biasa atau seorang kriminal. Hal itu tidak dipelajari dari buku, melainkan dari pengalaman.

Kebijaksanaan phronesis amat penting bagi manusia. Phronesis dapat dibandingkan raso pareso dalam bahasa Minang. Menurut orang Minang, manusia harus mengolah rasanya, maka ia tahu bagaimana ia harus membawa diri dan bagaimana menghadapi orang lain. Rasa tumbuh melalui pengalaman. Begitu halnya phronesis, ia jauh lebih penting dari segala jumlah pengetahuan dan dari episteme, meskipun tentu saja, untuk memecahkan masalah spesifik manusia harus menguasai episteme yang bersangkutan. Phronesis membuat manusia menjadi pandai dan benar dalam membawa diri dan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Apabila manusia memiliki phronesis, maka akan tahu bagaimana bertindak dengan tepat dan etis. Dalam dunia pendidikan formal maupun formal, anak didik sangat perlu untuk dirangsang kebijaksanaan phronesisnya sejak dini.

Bersambung….

Riki Saputra

Riki Saputra adalah seorang Doktor di bidang Filsafat Agama jebolan UGM. Saat ini ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat, seperti IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Bukittinggi, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2001.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: