Kebijaksanaan dan Rasionalitas: Hikmat bagi Pendidikan [Part 2]

 

Etos Ilahi (sophia), etos ilmu (episteme) dan etos rasa (phronesis) Sebagai Perwujudan Kebijaksanaan dan Rasionalitas: Sebuah Hikmat Pendidikan

Kemajuan dan kemunduran sebuah lembaga terkait erat dengan tiga etos di atas yang diperankan oleh perangkat lembaga itu sendiri. Jika di zaman kemajuan, perangkat lembaga memiliki etos yang tinggi, maka di zaman kemunduran etos tersebut lemah dan mungkin berada di bawah standar. Lemahnya etos tersebut melahirkan segudang masalah lain yang lambat-laun sulit untuk mencari pangkal persoalan dan penyelesaiannya.

Di tengah kegalauan itulah, seringkali obat yang ditawarkan tidak sesuai dengan penyakit yang diderita. Obat gosok penyakit jamur yang mestinya dioles di kaki ternyata dioles di kening, alasannya karena kepala sering pusing memikirkan kenapa penyakit jamur tersebut sulit sekali untuk disembuhkan. Akibatnya banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli obat yang tidak tepat, serta banyak waktu dan tenaga dipakai untuk sesuatu yang tidak banyak manfaatnya.

Logika di atas merupakan persoalan yang melilit lembaga pendidikan dalam format Negara maupun masyarakat. Etos yang hilang digantikan dengan kemalasan, stagnasi, disorientasi, dismanajemen, maladministrasi, pragmatisme, mengikuti arus pasar dan pertentangan horizontal berbagai kelompok dan organisasi. Obat dari penyakit ini adalah bagaimana menggali, mensosialisasikan, mengembangkan, mewacanakan, menggairahkan, membangkitkan, menggelorakan, menfasilitasi, mengorek, membakar, menstimulus dan menghidupkan etos. Salah satu upaya untuk membangkitkan etos adalah dengan mengimplementasikan spirit al-Quran berupa menunaikan amanah dengan baik, bertanggungjawab, jujur tidak hipokrit, berpihak kepada kebenaran, mendahulukan nilai (value) daripada penilaian (citra), ikhlas tidak menjadi hamba hedonisme dan hamba makhluk Allah. Sedangkan spirit alam berupa keteraturan, keseimbangan, kesinambungan, konsistensi, kestabilan, logis, tuntas, tiada henti dan berhenti serta memberikan kemanfaatan.

Kembali kepada pertanyaan utama, persoalan apakah yang dialami oleh sebuah ‘(lembaga) pendidikan yang mundur’ sesungguhnya? Jika diamati maka persoalannya cukup beragam di antaranya adalah persoalan mentalitas akibat lemahnya etos Ilahi (sophia), etos ilmu (episteme) dan etos rasa (phronesis). Segudang persoalan seperti pendanaan, administrasi dan komunikasi sosial yang menyumbang terhadap kemunduran transformasi dan pengembangan ilmu. Kemudian tidak kalah pentingnya persoalan komunikasi sosial antar berbagai elemen. Kultur komunikasi sosial yang rusak telah menghabiskan energy insan akademik yang seharusnya berkutat pada pengembangan keilmuan dan kelembagaan, tetapi justru terjerumus kepada kepentingan politis kelompok dan golongan. Sebagaimana slogan partai politik sungguhan terhadap setiap langkah politisnya, pelaku politik praktis lembaga pendidikan juga menggunakan slogan yang sama “demi kemajuan lembaga” padahal yang dimaksud sesungguhnya adalah “demi kepentingan kelompok dan individu dalam kelompok tersebut”. Kata “lembaga” hanya tumbal dan kedok dari semangat non-keilmuan dan non-akademik.

Akibat dari seluruh persoalan di atas lalu dunia ilmu dan pengembangan akademis menjadi terlantar. Karya ilmiah yang semestinya menjadi ciri komunitas lembaga pendidikan tenggelam di tengah hiruk pikuk persoalan di atas. Persaingan ilmiah tingkat nasional lemah dan selalu tertinggal oleh lembaga pendidikan lain yang giat dalam membangun relasi, kerjasama dan tentu saja potensi internal.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S.al-Taubah:105)

 

Apabila tidak dibenahi, maka akan berlaku pepatah Minangkabau tentang mutu keilmuan produk lembaga pendidikan, yaitu “ka bawah indak baurek ka ateh indak bapucuak” (di bawah tidak punya akar yang kuat – sesuai core ilmunya –  dan ke atas tidak ada pucuknya – karena tidak memenuhi harapan users). Lebih celaka lagi kalau “di tangah-tangah digiriak kumbang” (di tengah-tengah pohonnya dirusak oleh kumbang – karena buruknya manajemen mutu).

Untuk menjawab persoalan yang melilit pengembangan keilmuan di lembaga pendidikan memang tidak cukup dengan satu atau dua langkah. Harus ada langkah-langkah strategis dan tepat untuk menjawab persoalan yang ada. Persoalan yang terkait dengan menejemen diselesaikan dengan memperbaiki menejemen yang ada. Persoalan yang terkait dengan pendanaan dibenahi dengan menyehatkan pendanaan. Persoalan yang terkait dengan keilmuan dianalisis dan dibedah dengan studi keilmuan. Jadi seluruh persoalan tidak dibebankan kepada satu aspek.

Tiga bentuk etos (Ilahi, ilmu, rasa) di atas sebuah harga mati untuk dibumikan dalam rangka meraih kemajuan. Ketiga etos tersebut memberi pesan yang menentukan bahwa manusia tidak berkembang dengan memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, melainkan dengan membuka diri terhadap orang lain. Manusia tidak akan mencapai kemajuan dengan tanpa mengerahkan diri pada usaha bersama. Etos di atas bukanlah etos egois yang mengajarkan agar manusia mengusahakan apa yang paling penting bagi dirinya sendiri, melainkan manusia justru mencapai puncak eksistensinya dalam keterlibatan dengan sesama.

Riki Saputra

Riki Saputra adalah seorang Doktor di bidang Filsafat Agama jebolan UGM. Saat ini ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat, seperti IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Bukittinggi, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2001.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: