Kelapa dan Pengorbanan

Sebagai makhuk sosial, manusia tidak bisa lepas dari bantuan orang lain (al insaanu madaniyyun bi thab`ih). Tanpa orang lain, seorang individu tidak mampu memerankan fungsi sosial tersebut. Seorang petani tidak bisa membajak sawah untuk menanam pelbagai macam tanaman tanpa alat bajak. Alat tersebut tidak muncul begitu saja tanpa penjual dan pembuatnya. Artinya, petani butuh si penjual dan pembuat alat bajak. Disinilah adanya simbiosis mutualisme antara petani dengan penjual.

Dengan demikian, seorang manusia tentu tidak bisa menyatakan lebih berperan daripada orang lain; tidak seharusnya merasa lebih hebat atau berperan lebih banyak. Seorang da`i kondang tidak akan dikatakan hebat tanpa pendengar dan jama`ah. Bayangkan seseorang da’i berceramah di atas mimbar tanpa pendengar. Bisakah ia disebut hebat? Tentu tidak. Justru orang akan curiga dan mempertanyakan kewarasannya.

Sama halnya dengan dengan penulis fenomenal. Dia bukanlah orang yang hebat tanpa editor, penerbit, dan terutama sekali pembaca karya-karyanya. Kita ambil satu contoh, penerbitan di media online surauparabek.com ini. Mungkin ada sejumlah nama yang tulisannya ditunggu-tunggu pembaca. Tapi, semua itu melewati proses. Ia mengirim tulisannya, diedit oleh editor, di-publish oleh operator dengan gambar yang menarik, lalu dibagikan oleh orang-orang melalui media sosial masing-masing. Lantas kemudian ia disebut penulis hebat. Tapi lihat, ada berapa tangan yang berada di belakang namanya.

Alam takambang jadi guru, kata orang Minang. Mari kita belajar dari sebuah kelapa. Kelapa hidup di pohon yang sangat tinggi. Hanya orang yang cekatan dalam memanjat yang mampu memetik kelapa; disamping menggunakan alat tentu saja. Ketika itu, kelapa akan dijatuhkan begitu saja, menghantam tanah. Sampai disini kita bayangkan betapa besarnya pengorbanan sebuah kelapa demi sepiring randang yang dinikmati manusia.  Namun ia tak pernah protes.

Ternyata cobaan kelapa belum selesai. Masih ada beberapa fase lagi yang harus dilaluinya. Ia dibawa ke pasar, biasanya dalam jumlah yang banyak. Dengan mobil bak atau truk tentu saja; bukan mobil mewah. Begitulah, ia menjalani hidup seadanya.

Selanjutnya, serabut kelapa akan dikupas, dan ‘tubuhnya’ dibelah. Lalu ia diparut. Mau pakai alat tradisional maupun mesin parut kelapa, hasilnya sama; dagingnya dicabik-cabik. Pengorbanannya  belum selesai; parutan kelapa diremas menggunakan air panas sehingga menjadi santan. Santan dimasukkan ke dalam kuali, dididihkan dengan api yang menyala, bersama dengan daging dan bumbu lainnya.

Begitulah perjalanan kelapa; perjalanan yang tidak ringan. Tapi apa hasilnya? Terhidang makanan yang enak, yang namanya rendang. Ia dihidangkan di acara-acara besar, seperti baralek, acara tasyakuran, atau Hari Raya Idul Adha (selain di restoran tentunya). Bukan hanya itu, ia dijadikan ikon kuliner Minangkabau. Sungguh beruntung nasib si rendang.

Ada macam-macam rendang yang dikenal luas. Randang ayam atau randang dagiang, umpamanya. Tapi tak ada randang karambia (rendang kelapa). Nama kelapa hilang dari peredaran, tapi sungguh tak kan ada rendang tanpa kelapa.

Beginilah hakikat sebuah pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar atau lebih kecil, karena tidak ada pekerjaan besar yang bisa dilakukan sendirian. Dengan berjamaahlah sebuah pekerjaan besar bisa dilaksanakan dengan cepat, rapi, indah serta memiliki nilai lebih. Tatkala pekerjaan besar dilakukan bersama-sama jangan pernah katakan sayalah orang yang berperan dan berkorban lebih besar dari yang lainnya.

Biarkan orang lain menilai peran dan pengorbanan kita. Pengakuan akan datang dengan sendirinya, tanpa dicari dan diupayakan. Kalaupun tidak ada orang yang menilai yakinlah bahwa Allah tidak akan lupa mencatat peran-peran sosial yang telah kita lakukan. Di sini lah kita selalu belajar sebuah kesederhanaan, keikhlasan, dan rendah hati yang membuat diri kita disukai oleh orang lain. Wallahu a`lam.[]

Kairo, 20 Maret 2016 M

Muhammad Awaluddin

Muhammad Awaluddin adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2010. Saat ini adalah mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: