Kesadaran Rasional: Renungan Pergerakan Mahasiswa

Secara epistemologis, pergerakan mahasiswa merupakan kesadaran bersama yang bersifat common sense (akal sehat). Akal sehat sebuah pemikiran yang lurus, runtut dan rasional dalam melihat objek (persoalan) yang dihadapi si subjek (manusia). Dengan kata lain, pergerakan tersebut merupakan tindakan rasional yang ingin keluar dari kerangkeng atau kungkungan rezim kegelapan yang menghambat lajunya proses demokratisasi.

Dewasa ini, fenomena gerakan mahasiswa telah menampakkan diri (show-up) menodai khittah pergerakan mahasiswa yang ideal (rasional). Tawuran dan aksi kekerasan mahasiswa selalu menggema di berbagai kampus yang menyebar di Indonesia. Sesama mereka maupun pihak di luar kampus, melancarkan aksi demo anarkhisnya dengan cara merusak fasilitas kampus yang susah payah dibangun selama ini. Pola demo ‘radikal” mahasiswa telah termaktub dalam sederetan daftar panjang kampus-kampus lainnya di Indonesia yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pertanyaan yang pantas untuk dimunculkan adalah, apa yang mendasari pola pergerakan tersebut sehingga tetap menjamur, bahkan dipertahankan dalam aksi-aksinya? Apakah niat murni memperjuangkan idealisme membentuk Indonesia yang lebih baik? Atau jangan-jangan ingin mencari sensasi masuk TV?. Karena para jurnalis akan menyoroti segala tindakan aksi demo mahasiswa, seandainya tindakan tersebut mengarah kepada bakar ban, merusak infrastruktur kampus, blokir jalan dan sebagainya.

Baju kebesaran mahasiswa merupakan masa pengenalan, pengembangan, dan penguatan ilmu menuju manusia yang ber-intelektual. Walaupun masih bersifat transisi, yang pasti selama menyelami masa-masa kemahasiswaan akan menentukan perkembangan masa depan mahasiswa itu sendiri. Misalnya, kuliah gagal, mereka sangat kesulitan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di samping gelar akademis yang tidak bisa diraih. Kebanyakan, gagal dalam menuntut ilmu, mengantarkan kita kepada masa depan yang kelam.

Sedangkan bagi para aktivis mahasiswa, dihadapi dengan tugas yang berat untuk bisa sukses menjalani studi, karena mereka harus berbagi “badan” dan pikiran untuk kegiatan-kegiatan di luar kampus dan studinya. Artinya, para aktivis kemahasiswaan memiliki kewajiban moral untuk memikirkan rakyat karena jargon “agent of change” sudah terlanjur melekat serta mesti sukses studi supaya tidak menyandang gelar “mahasiswa abadi”.

Sebagai masyarakat intelektual yang berkecimpung di dunia akademis, aktivisme kemahasiswaan mesti mengedepankan sikap santun, bermoral, berkeadaban serta menjadi tauladan bagi mahasiswa-mahasiswa lainnya dalam menyalurkan aspirasi. Mahasiswa memang sangat dituntut untuk menyalurkan kepedulian sosialnya. Perguruan Tinggi sebagai tempat mahasiswa bernaung untuk mencari ilmu pengetahuan, tidak diharapkan menjadi sebuah lembaga pendidikan yang jauh dari perasaaan ketidakpedulian lingkungannya. Namun yang terlupakan selama ini, bentuk kepedulian sosial yang dirumuskan terkesan menyingkirkan prinsip akademis dan keilmuan lembaga kampus itu sendiri. Mahasiswa mesti ber-tengger di atas nilai-nilai moral, etik, adil dan bersikap ilmiah. Dalam merealisasikan pola pergerakannya, mahasiswa tidak mengedepankan pandangan emosional yang berujung pada sikap yang tidak terkendali bahkan anarkhis. Ada benarnya kata Soren Kierkegaard bahwa nilai-nilai moril atau etik tersebut tidak sebatas untuk diketahui saja, melainkan harus dikejewantahkan dalam bentuk sikap atau perbuatan. Artinya, mahasiswa sebagai kaum intelektual yang telah “kenyang” dengan nilai-nilai moralitas mesti mengarahkan aksi-aksi demonya dengan nilai tersebut.

Sebagai kekuatan moral, pergerakan mahasiswa tidak boleh keluar jalur dari prinsip moral dan etis tersebut. Jika itu terjadi, pergerakan mahasiswa akan kehilangan nilai moralitasnya dalam memperbaiki sebuah keadaan yang lebih baik. Tak kalah pentingnya, pola aktivisme kemahasiswaan ini justru akan meraih piala apatis dari publik, bukan simpati dan empati. Inilah yang dinamakan dengan kesadaran rasional terhadap pola pergerakan kemahasiswaan. Hal ini menjadi sebuah renungan mahasiwa supaya tidak terjerumus atau menjadi pecundang sebagai “manusia yang terlempar” dari nilai-nilai intelektual yang mereka miliki serta tidak tersudut dengan cara berpikir rasionalnya.[]

 

Riki Saputra

Riki Saputra adalah seorang Doktor di bidang Filsafat Agama jebolan UGM. Saat ini ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat, seperti IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Bukittinggi, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2001.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: