Kesehatan adalah Perilaku

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara mendalam, serta mengamalkannya sebagai pedoman hidup. Namun sangat disayangkan, image pondok pesantren dalam kebersihan dan kesehatan tidak mendapatkan penilaian yang baik di mata masyarakat pada umumnya. Sebagai contoh, santri dikenal sebagai individu yang hidup kumuh dan tidak mengindahkan kebersihan. Tidak sedikit santri yang mencampurkan pakaian bersih dan kotor mereka dalam satu tempat. Hanya sedikit dari santri yang selalu dapat menjaga kebersihan kamar mandi mereka. Begitu pula dengan kamar tidur, sebagaian santri menjadikan kamar tidur sebagaitempat multifungsi. Selain untuk tidur, mereka juga memfungsikan kamar tidur sebagai tempat belajar, bercengkrama, bahkan tempat makan dan meletakkan semua peralatan harian mereka.

Sumatera Thawalib Parabek, adalah salah satu pondok pesantren tertua di Sumatera Barat dan menjadi salah satu pesantren pilihan utama bagi orang tua untuk mendidik anak mereka belajar ilmu agama. Dengan image tersebut, sudah sepantasnya sekolah ini menjadi percontohan bagi pesantren lain, khususnya di pulau Sumatera. Namun begitu, sayangnya Sumatera Thawalib tetap memiliki masalah yang sama dalam hal kebersihan dan kesehatan. Hal ini mencakup kesehatan lingkungan, PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), Gizi, sarana dan prasarana yang memadai untuk menerapkan perilaku bersih dan sehat serta masalah kesehatan reproduksi santri.

Kebersihan dan kesehatan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan; untuk sehat seseorang harus bersih. Bersih merupakan suatu keindahan, sementara suatu yang indah dapat menimbulkan perasaan bahagia, tentram dan menyenangkan. Sebagaimana yang disampaikan Buya Hamka, “Kenal akan keindahan dan sanggup menyatakan keindahan tersebut kepada orang lain, adalah bahagia”.

Sehat dalam Islam mencakup kesehatan jasmani dan rohani. Suatu maklum di telinga kita semua ungkapan seorang pujanngga Romawi yang berbunyi “mens sana in corpore sano .” Artinya adalah “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Begitu populernya, ungkapan ini telah dijadikan jargon kesehatan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Negara kita Indonesia. Hal ini sejalan WHO yang mendefinisikan sehat dengan “a state of complete physical, mental, and social well-being, and not merely the absence of disease or infirmity”. Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan kondisi fisik yang baik, mental, dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Dari ungkapan dan definisi sehat di atas, dapat disimpulkan bahwa sehat tidak hanya mencakup keadaan sehat jasamani atau sehat rohani saja, namun sehat jasmani dan rohani adalah dua hal yang harus ada untuk mencapai kondisi sehat secara sempurna.

Bagiamana membangun lingkungan yang bersih dan sehat di pondok pesantren? Terdapat banyak kendala dalam menerapkan kebersihan lingkungan pesantren. Hidup bersih dan sehat adalah perilaku atau ‘ādah yang harus di bi’ah-kan. Artinya untuk menerapkan perilaku sehat dan bersih, santri, guru, dan lingkungan pesantren harus menjadikan perilaku sehat dan bersih tersebut menjadi suatu kebiasaan, kebutuahan dan membudaya. Ini sangat mendasar, namun seringkali terlupa. Itulah kiranya mengapa image-image jelek begitu melekat pada santri dan pesantren.

Kementrian Agama telah bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan dan Pendidikan membentuk suatu wadah untuk menerapkan perilaku bersih dan sehat yang dinamakan dengan POSKESTREN (Pos Kesehatan Pesantren). Poskestren adalah upaya membudayakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) masyarakat di pondok pesantren untuk mengenali, masalah kesehatan dan tingkatannya serta mampu untuk mengatasi, memelihara, meningkatkan dan  melindungi kesehatan diri. Semua itu diagendakan di bawah prinsip-prinsip “dari, oleh dan untuk warga pondok pesantren yang mengutamakan pelayanan promotif (peningkatan), preventive (pencegahan), tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitative (pemulihan kesehatan) dengan binaan puskesmas setempat”.

Poskestren dan program yang ada di dalamnya diharapkan mampu menjadi lokomotif gaya dan perilaku hidup sehat dan bersih santri serta seluruh masyarakat pesantren. Bebeberapa hal yang terkait masalah ini adalah kebersihan lingkungan (sampah di asrama, jemuran yang berserakan, lantai asrama yang jarang dipel, ketersediaan air bersih), permasalah PHBS (jajanan di pinggir jalan, merokok, olah raga yang teratur), keseimbangan gizi (menu makanan asrama lauk pauk, dan ketersediaan buah dan sayur), dan permasalahan kesehatan reproduksi (kelembaban alat reproduksi yang dapat menyebabkan gatal-gatal, onani, masturbasi, haid dan masa baligh).

Begitu pentingnya sehat dalam Islam, sehingga Rasul SAW menyuruh sahabat untuk memohon nikamat sehat sebagai doa yang utama untuk diminta. Suatu saat Rasul SAW didatangi oleh seorang sahabat. Kemudian sahabat tersebut bertanya tentang doa apa yang paling afdhal. Maka Rasullullah SAW bersabda:

سَلْ رَبَّكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . ثُمَّ أَتَاهُ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الدُّعَاءِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: سَلْ رَبَّكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . ثُمَّ أَتَاهُ فِي الْيَوْمِ الثَّالِثِ فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّ الدُّعَاءِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: سَلْ رَبَّكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَإِذَا أُعْطِيتَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَقَدْ أَفْلَحْتَ.[1]

Artinya:

mintalah ampunan dan kesehatan kepada Rabbmu di dunia dan akhirat” Kemudian laki-laki tersebut dating lagi pada hari kedua dan bertanya “wahai Rasulullah, doa apa yang paling utama ?”Beliau menjawab: “mintalah ampunan dan kesehatan kepada Rabbmu di dunia dan akhirat”. Kemudian laki-laki tersebut dating lagi pada hari ketiga dan bertanya: “wahai Rasulullah, doa apa yang paling utama ?”Beliau menjawab: “mintalah ampunan dan kesehatan kepada Rabbmu di dunia dan akhirat dan jika kamu telah diberi maaf dan kesehatan di dunia dan akhirat, maka kamu telah beruntung.

Namun karena nikmat sehat pula, sering manusia lalai dan tidak mensyukuri apa yang telah mereka miliki. Sebagai mana sabda Rasul SAW:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ، وَالْفَرَاغُ[2]

Dua nikmat yang karenya banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.

[1] Ibn Majah. Sunan Ibn Majh. Dar Ihya al-Kutb al-Araby, j. 2, h. 1265

[2] Muhammad ibn Ismail Abu Abdullah Al-Bukhari. Shahih Bukhari. Dar al-Tuq wa al-Najah. j. 8, h. 88., Ibn Majah. Sunan Ibn Majah. Mesir: Dar Kutb Ihya al-Arabiyyah. j. 2, h. 1396. , Abu ‘Isa Al-Tirmidzi. Sunan Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami. j. 4, h. 126., Abdullah Ibn Mubarak. Al-Zuhd wa al-Raqaiq. Beirut: Dar Kutb al-Ilmiyyah. j.1, h. 1.

Dita Trinastia

I was born in a beautiful village, Payakumbuh, West Sumatra. I graduated from public health in Syarif Hidayatullah Jakarta and Hadith and its science in Darussunnah International Institute in Ciputat, South Tangerang in 2015. Now, I am devoting myself, becoming a teacher in Islamic Boarding School, Sumatera Thawalib Parabek.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: