Kontekstualisasi Pemahaman Hadis

Hadis Nabi Muhammad Saw merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran al-Karim. Salah satu fungsi hadis terhadap al-Qur’an adalah sebagai  bayân atau penjelas. Hadis-hadis yang sampai pada kita sekarang telah melalui proses yang sangat panjang; sejak kemunculnya, diriwayatkan oleh para sahabat, hingga dibukukan oleh para ulama hadis zaman berikutnya. Banyaknya para sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi Saw menjadikan hadis-hadis dalam tema yang sama diriwayatkan oleh banyak rawi dan dengan jalur yang beragam. Selain itu banyaknya persoalan yang terjadi menimbulkan hadis yang cukup banyak.

Dalam memahami hadis-hadis tersebut, pada masa Nabi Saw dan sahabat tidak terlalu sulit untuk memahaminya karena dekatnya jarak mereka dengan Nabi Saw sebagai sumber hadis. Namun, dengan berjalannya waktu, hadis-hadis Nabi Saw mulai agak sukar dipahami terutama hadis dengan memakai istilah-istilah yang jarang dipakai dalam bahasa Arab, maupun hadis yang redaksinya memang sulit dipahami. Sejumlah hadis yang menerangkan satu tema atau persoalan, misalnya, secara lahiriyahnya satu sama lainnya terlihat bertentangan. Fenomena ini lah yang memunculkan suatu disiplin ilmu hadis yang dinamakan dengan fiqh al-hadîts, yaitu bagaimana memahami hadis Nabi Saw dengan tepat dan  benar serta mengambil isi kandungan di dalamnya yang bisa diterima dalam konteks kontemporer.

Memahami hadis secara kontekstual, artinya memahaminya sesuai dengan lingkungan sosio-historis. Ketika lingkungan sosio-historis tersebut berubah, tentu saja harus diadakan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungan dan zaman tersebut. Upaya seperti ini disebut dengan kontekstualisasi pemahaman hadis.

Misalnya, pernah suatu ketika Nabi Saw memerintahkan sejumlah sahabatnya untuk pergi ke perkampungan Bani Quraizhah. Sebelum berangkat, beliau berpesan: “Lâ yushalliyanna ahadukum al-`ashra illâ fî Banî Quraizhah”, (“Janganlah ada salah seorang di antara kamu yang shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”).

Perjalanan ke kampung tersebut ternyata begitu jauh, sehingga sebelum mereka tiba di tempat yang dituju, waktu Ashar telah habis. Di sini mereka merenungkan kembali apa maksud pesan Nabi Saw tersebut. Sebagian memahaminya bukan seperti bunyi lahiriah teks, yaitu melarang shalat kecuali di Bani Quraizhah. Mereka justru memahaminya sebagai perintah untuk bergegas dalam perjalanan agar dapat tiba di tujuan. Dengan demikian, mereka mereka boleh shalat Ashar sebelum tiba di tempat yang mereka tuju. Tetapi sebagian yang lain memahami dengan tekstual. Meskipun waktu Ashar segera habis, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan melaksanakan shalat di Bani Quraizhah.

Contoh lain, hadis tentang larangan melukis:

« إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ »

“Sesungguhnya orang-orang yang menerima siksa paling dahsyat pada hari kiamat di sisi Allah adalah para pelukis”.

Banyak hadis yang menjelaskan larangan melukis makhluk yang bernyawa. Di antaranya hadis yang mengatakan bahwa para pelukis pada hari kiamat kelak dituntut untuk memberikan nyawa kapada lukisannya. Ada juga yang mengatakan bahwa malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang ada lukisannya dan redaksi hadis lain semisalnya.

Hadis di atas kalau dipahami secara tekstual maka kegiatan melukis tidak dibolehkan bahkan diharamkan; begitu juga hasil karya lukisannya. Hal seperti ini kalau dilihat zaman sekarang tentunya akan menghambat kreatifitas manusia untuk berkarya.

Larangan melukis dan memajang lukisan yang dikemukakan oleh Nabi Saw sesungguhnya mempunyai latar belakang hukum yang spesifik. Pada zaman Nabi, masyarakat belum lama terlepas dari kepercayaan syirik, yakni penyembahan berhala. Dalam kapasitasnya sebagai rasul, beliau berusaha keras untuk menyelamatkan umat dari perbuatan musyrik tersebut. Salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan mengeluarkan larangan melukis dan memajang lukisan. Bukan hanya orang yang membuatnya, orang yang memajang pun juga mendapat ancaman siksa berat.

Kalau `illat hukumnya memang demikian, maka pada saat umat Islam tidak lagi dikhawatirkan untuk terjerumus ke dalam kemusyrikan, khususnya dalam bentuk penyembahan terhadap lukisan, maka membuat dan memajang lukisan diperbolehkan. Sebagaimana kaidah ushul fiqh menyatakan: “Hukum itu ditentukan berdasarkan ‘illatnya. Bila ada `illat, maka ada hukum, dan bila ‘illatnya sudah tidak ada, maka hukumnya juga tidak ada.”

Pemahaman secara kontekstual seperti ini bisa saja diterapkan. Misalnya saja, lukisan dilukis pada saat masyarakat berkeyakinan bahwa menyembah patung adalah musyrik, jadi `illat (kekhawatiran patung menjadi sembahan) tidak akan ada. Di samping itu, melukis juga banyak mengandung sisi positif, misalnya kegiatan melukis itu merupakan suatu bentuk kreatifitas manusia dan lama kelamaan bisa mengasah kecerdasannya dalam seni melukis. Dengan demikian untuk zaman sekarang, melukis merupakan sesuatu yang dibolehkan. Hal seperti inilah yang dimaksud dengan kontekstualisasi pemahaman hadis.

Contoh hadis lain, Rasul Saw pernah bersabda:

“Seandainya jika tidak akan memberatkan bagi umatku, maka akan kusuruh untuk bersiwak setiap akan shalat”

 Sebagian orang memahami bersiwak dalam hadis tersebut dengan benar-benar memakai kayu siwak untuk menggosok gigi, selain siwak maka tidak disunnahkan. Namun, jika dipahami secara kontekstual, maka tujuan atau maksud dari hadis ini adalah membersihkan mulut sehingga Allah menjadi ridha karena kebersihan itu. Sedangkan siwak merupakan media untuk mencuci mulut. Disebutkan siwak oleh Rasul Saw, menurut Yusuf al-Qaradhawi, karena siwak mudah didapat di jazirah Arab.

Kalau pemahaman hadis ini dikontekstualisasikan, maka pada zaman sekarang bisa dipahami bahwa siwak dapat diganti dengan barang lain, seperti odol dan sikat gigi karena fungsi dan tujuannya sama dengan siwak. Maka, siwak dan odol sama sunnahnya karena pada hakikatnya tujuan dari keduanya adalah untuk membersihkan mulut, sehingga dengan kebersihan tersebut bisa mendapatkan keridhaan dari Allah Swt.

Selain contoh-contoh di atas masih banyak pemahaman hadis-hadis Nabi Saw yang perlu dikontekstualisasikan agar maksud dan tujuan dari hadis tersebut dapat tersampaikan dengan baik yang semuanya bisa diterima logika. Seperti pemahaman hadis tentang isbal, hadis tentang makan dengan menegakkan satu kaki dan hadis-hadis lain yang sepertinya redaksi dan tujuan dari hadis tidaklah sama. Maka dari itu diperlukan upaya kontekstualisasi pemahaman hadis untuk menangkap pesan Nabi Saw dalam setiap hadis beliau.

Namun tidak semua orang bisa mengkontekstualisasikan pemahaman hadis, karena dibutuhkan syarat-syarat keilmuan yang memadai dan mumpuni untuk hal tersebut. Artinya hanya orang-orang yang mempunyai kapasitas keilmuan dan kompetensi yang memenuhi syarat yang dapat melakukan upaya kontekstualisasi pemahaman hadis-hadis Nabi Muhammad Saw.

Wallahu A`lam Bi al-Shawab…

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: