Kunci dan Pintu

Bapak selalu marah saat pulang dan dia mendapatiku lagi-lagi tak mengunci pintu belakang. Terlebih akhir-akhir ini, saat mamak lagi tak di rumah.

Rumah baru kami lebih luas dari kontrakan dulu. Lebarnya sembilan meter dan memanjang sekitar dua puluh meter ke belakang. Lima meter pertama dipakai sebagai ruang tamu dan kamar bapak. Lima meter paling belakang sengaja dibangun bak air dan taman kecil. Selebihnya dibangun tiga kamar berjejer, kamar mandi, dan ruangan lepas tempat tv dan rak buku. Sepuluh meter sebelum gerbang adalah tanah kosong, rencananya bakal dibangun ruko jika nanti jalan diperbesar dan jadi jalan lintas. Tiap-tiap rumah di daerah ini dibatasi dengan sepetak sawah. Di belakang perumahan terdapat salah satu dari tonjolan bukit barisan.

“Sudah kau kunci pintu?” tanya bapak sepulang kerja. Bapak memang selalu masuk lewat pintu depan. Masih belum berganti baju bapak duduk sebentar di sebelahku dengan sebungkus pisang goreng.

Aku mengangguk. Menggunting ikatan asoy dan memberikan sepotong pada bapak. Aku mengintip, mencoba menghitung. Sebelas. Sama seperti kemarin. Dan pasti beberapanya tetap akan berakhir di tong sampah karena tak termakan.

“Kunci pintu belakang! Jaman sekarang ni, entahlah! Duit susah. Orang udah mau bunuh-bunuhan cuma buat makan sekali. Kemaren malam kerbau tetangga dua ekor disemblih di bukit belakang, tinggal dalam perutnya yang tak dibawa, selebihnya disikat habis. Matikan tv dan lampu kalau kau mau ke kamar. Bapak mau tidur lagi.”

Aku mengangguk lagi.

Beberapa menit yang lalu kakak pulang dan mengatakan hal yang sama. Aku tak perlu berfikir. Cukup mengangguk dan mereka akan berhenti bicara. Namun tetap bapak atau kakak berjalan ke belakang memastikan bahwa pintu itu terkunci. Setelah itu mereka akan kembali ke kamar dan bersorak “Jangan lupa kunci pintu kamar kau!”. Aku terpaksa balas bersorak. Anggukanku tak akan menjawab pertanyaan mereka yang tak melihat wajahku.

Satu-satunya pintu yang selalu bisa kubuka tanpa harus mendapat teriakan untuk buru-buru menguncinya hanya jendela kamarku –kalau memang jendela bisa disebut pintu. Tiap lepas jam tujuh malam sengaja aku membukanya lebar-lebar. Suara tv dari kamar kakak yang berada persis di sebelah kamarku sayup-sayup ikut terdengar.

Malam ini aku mangkir dari menyalakan tv di kamarku sendiri. Entah mengapa suara jangkrik lebih menarik untuk didengar.

Terkadang aku berfikir, untuk apa pintu-pintu itu dikunci sedemikian rupa. Gerbang, pintu depan, pintu belakang, kamar-kamar. Apa yang ditakuti bapak? Benarkah dunia sekejam itu sekarang?

Kalau memang begitu, lalu setidaknya, mengapa bapak dan kakak harus mengunci pintu hati mereka?

Dulu rumah lama kami tak pernah sediam ini. Dulu mamak dan bapak senang duduk di beranda saat senja. Lima anaknya –aku, dua abang dan dua kakakku, heboh memperebutkan makanan yang entah kenapa selalu berjumlah sebelas buah. Dua sudah dicarter mamak dan bapak. Lima lagi satu per orang. Lalu yang empat selalu jadi rebutan. Aku selalu ikut bergabung dalam kerusuhan itu. Meski sebenarnya aku tak keberatan hanya kebagian satu porsi. Aku hanya senang dengan keributan itu.

Lalu satu per satu kakak dan abang mulai menempuh hidup baru. Keluarga baru, daerah baru, rumah baru. Rumah makin lama makin terasa luas, makin sepi. Pernah aku bahkan tak bertengur sapa hampir seminggu dengan kakak yang kamarnya di tingat dua. Dia selalu turun saat aku sudah pergi sekolah, dan kembali ke kamar saat aku belum pulang sekolah. Mamak dan bapak sudah jarang duduk berduaan di beranda. Mamak lebih sering di dapur, bapak mengurus tanaman di halaman. Bahkan aku mulai sadar bahwa mamak mulai tidur di kamar yang dulunya punya kakakku yang sudah menikah.

Aku terlambat sadar. Hingga akhirnya saat anggota keluarga tinggal berempat, bapak memutuskan menjual rumah penuh kenangan itu dan mengontrak selagi rumah baru akan dibangun. Aku berdoa agar rumah itu sebuah rumah yang kecil, sempit, supaya aku bisa melihat wajah keluargaku tiap hari. Supaya aku bisa dengar apa yang mereka kerjakan tiap hari.

Namun doaku tak terkabul. Rumah baru kami masih besar. Masih terlalu luas.

“Bagaimana kabar di rumah?” tanya mamak menelpon pagi buta. Jarang-jarang. Bahkan aku sempat terkejut saat melihat nomornya di layar hp. Mamak jarang menelepon. Harus aku yang menghubungi duluan, baru mamak bakal telepon balik.

“Baik, Mak” jawabku seadanya. Aku sudah lelah berkata jujur. Setiap aku bilang bahwa rumah terlalu sepi, mamak selalu sarankan untuk menghidupkan tv. Aku sudah patuhi. Namun mungkin mamak tak mengerti. Tv itu, suaranya ribut, namun tak menghangatkan hatiku. Meski tak bisu, rumah tetap terasa sepi.

“Baguslah. Mamak cuma mau ngasih kabar kalau mamak ngak jadi pulang minggu depan. Mungkin diundur seminggu atau dua minggu.”

“Gimana kabar Kakak, Mak? Cucu baru Mamak sehat? Sudah dikasih nama?”

“Kata bidannya sudah boleh pulang besok. Namanya Nafara Cantika. Tak jadi kau liburan ke sini?”

“Tak boleh sama Bapak, Mak. Kalau boleh sudah pergi aku sejak kemarin!”

“Ya sudah. Dengar saja capak bapak kau! Nanti mamak suruh kakak kirim foto Fara. Sudah dulu ya. Mamak mau masak dulu. Kakak kau masih belum bisa kerja siap melahirkan. Assalamualaikum!”

Panggilan terputus. Aku belum sempat membalas salam itu. Aku memutuskan untuk tak menjawab. Toh suaraku tak akan terdengar lagi oleh mamak.

Pagi bapak berangkat kerja. Selepas itu aku membereskan rumah dan bersih-bersih. Sekitar jam 10 kakak keluar kamarnya dan berangkat pula. Aku tak ambil pusing. Ada tak adanya mereka tak membuat perubahan berarti.

Jam empat sore pintu depan diketuk. Itu jelas bukan bapak. Bapak tak pernah pulang jam segini, dan bapak tak pernah mengetuk pintu. Bapak punya kunci sendiri. Kakak pun selalu pulang lewat pintu belakang.

Dari lubang khusus di pintu aku melihat paman berdiri menyandang ransel besar. Tanpa pikir dua kali aku membukakan pintu, mempersilahkannya masuk dan menghidangkan kopi. Paman mengobrol ringan, menanya kabar mamak dan anak baru kakak yang di Pekanbaru. Tak lama kemudian Paman menyampaikan maksud kedatangannya. Dia bilang dia ingin bicara dengan bapak. Kupersilahkan dia duduk di ruang tamu, menonton tv atau membaca buku. Aku kembali ke dapur.

Bapak baru pulang saat langit sudah lembahyung. Aku sempat terkejut saat bapak pulang dan berteriak mengapa pintu dibuka lebar. Setelah melihat paman baru bapak mulai diam. Keduanya beranjak menuju ruang tamu. Aku tak lagi bisa mendengar pembicaraan mereka.

Aku membuat dua cangkir teh. Suasana di ruang tamu sudah banyak berubah. Bapak dan paman saling tatap, dan tidak dalam konteks menyenangkan.

“Tak usah kau tarok teh itu. Dia sudah mau pulang!” ujar bapak tegak di hadapan pintu.

Paman ikut berdiri. Mengambil ranselnya dan melekatkan sepatu. Baru selangkah paman di luar bapak langsung menutup pintu. Wajahnya merah padam. Entah kenapa.

“Sudah Bapak bilang kunci pintunya!!! Kau anak gadis sendiri di rumah. Mau paman kau, kakek kau, abang kau sekalian jangan kau bukakkan pintu lagi besok!” teriak bapak.

Kunci pintunya? Untuk apa? Maksudku, harus dikunci untuk siapa? Bahkan paman, kakek, pun abangku sendiri? Bapak tak lagi menutup rumah ini dari kejahatan dunia luar! Bapak mengunci pintu ini bahkan pada keluarganya! Atau mungkin dari rasa takut dan tak percaya?

“Apa besok Bapak suruh pula aku kunci pintu untuk kakak? Mamak? Atau lusa bapak suruh aku kunci diriku sendiri di luar?” tanyaku pelan.

Bapak memandang tak suka. Dibantingnya cangkir yang tadi sempat kuletakkan di atas meja. Dia beranjak ke kamar, sebelum menutup dan mengunci pintu kamarnya sendiri, pun bapak berteriak lagi “Jangan lupa kunci pintu!”.

Aku mengangguk. Tanpa membereskan pecahan kaca itu, aku berhanjak ke kamar, mengunci jendela dan pintu kamarku.

“Jangan lupa kunci pintu!” ulangku lagi. Setelah dua kali putaran, kunci itu mandet. Aku mulai memaksa, mulai berteriak.

“JANGAN LUPA KUNCI PINTU!!!”

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: