Label-label

Jack, loe tau ngak si Joni itu udah tobat lho! Biasanya nongkrong di lapau sambil ngerokok and ngomongin si Fani. Kemaren gue liat dia lagi ngumpul-ngumpul buat lingkaran di masjid dan megang Alquran, adem liatnya Jack.”

“Ooh! Yang itu mah liqa’ PKS Dik. Masak loe kagak tau?!”

Dialog itu fiktif, tentu saja. Tapi realitanya umum. Begitu juga dengan ilustrasi berikut:

Ngapain gue duduk sama loe Zoel?! loe itu Salafi.  Ntar loe bid`ahin gue lagi. Mendingan ngak usah daripada bikin sakit hati. Dikit-dikit nyalahin amalan gue, dikit-dikit nyalahin amalan gue. Gue ini Shufi Zoel

Yang berjenggot dilabeli radikal. Yang bermazhab dilabeli kaum Tradisionalis-konservatif. Yang mencintai Ahlul Bait dilabeli Syi’ah. Yang pakai celana jingkrang, baju lusuh, berpindah-pindah dari satu masjid ke mesjid lain dilabeli Jama’ah Tabligh. Yang selalu teriak-teriak kembali kepada Alquran dan Sunnah dibilang Salafi-Wahabi.

Begitulah label-label yang menjamur dari hari ke hari. Selain minim introspeksi diri, pemain label terkadang tidak adil dalam bertindak.  Dia yang suka menuduhkan koleganya “terjebak di romantisme klasik” lupa bahwa pada saat yang sama ia menyebut-nyebut Aristoteles, Plato, Thomas Alfa Edison, Einstain, dan lain-lain. Terkadang menuai konflik, tak jarang memecah-belah.

Ada yang memonopoli label Ahlussunnah Waljama’ah dan menuduh yang lain Pelaku Bid’ah. Yang membabi buta mengkritisi ulama terdahulu hingga menafikan peran mereka sembari bangga menukil pendapat filosof Barat dilabeli Moderat dan berpikiran mustanir. Yang berpegang teguh dengan agamanya, shalat lima waktu ke masjid, dilabeli Fundamentalis. Yang berbicara dengan istilah rumit dilabeli ilmuan dan intelektual; karangannya disebut karangan ilmiah.

Terkadang bermain label beriringan sikap ‘baper dan gampang minder’. Melabelkan Barat dengan keren, hebat, luar biasa, wa akhawatuha, umpamanya. Berbahasa Inggris dianggap keren. Makan siang di mekdi dan nongkrong malam di starbak disebut kekinian. Tentu saja rela modalin sampe kantong tipis. Bagi yang bokek tapi ikut bermain label, baper karena tak kuat ATM maupun kantong. Pada saat yang sama, rasa minder muncul terhadap diri, identitas, tradisi, dan sejarah sendiri.

Kalau kita lihat sejarah, label-label ini bukan barang baru, melainkan sudah ada sejak zaman saisuak kala. Umat Nabi Nuh ‘alaihissalam yang menolak ajakan beliau dan melabelinya sebagai ‘manusia biasa seperti kami’ dan pengikutnya sebagai orang hina (Q.S. Hud ayat: 27). Begitu juga dengan ucapan kaum Nabi Shaleh `alaihissalam, “wahai Shaleh sungguh engkau kader terbaik kami yang akan melanjutkan estafet kemurkaan kami. Buat apa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami” (Q.S. Hud ayat: 62).  Fir’aun melabeli Nabi Musa orang gila (Q.S. Asysyu`ara`: 27) bahkan pendusta (Q.S. Ghafir: 14).

Manusia paliang mulia, Rasulullah shallallahu `alaihi wasalllam, juga tidak lepas label kafir Quraisy. Masyarakat jahiliyyah kala itu menyebut beliau sebagai orang gila (Q.S. Ad Dukhan: 14) dan juga tukang sihir. Itu semua terjadi hanya karena perbedaan ideologi. Memang benar bahwa al-kufru millah waahidah. Orang-orang kafir tersebut tetap berperilaku sama meskipun zaman sudah berganti. Ketika mereka kehabisan kata mengkritik Islam, mereka malam membuat orang benci Islam dengan label-label negatif.

Memang, label-label itu mesti ada ada. Tapi, kita harus jeli bahwa sebagiannya fiktif dan rekayasa. Ia dijadikan senjata untuk menyerang dan meruntuhkan. Jangan jadikan label-label sebagai alat untuk melancarkan ide-ide destruktif. Bangunlah ide secara elegan tanpa memberi label dan saling memojokkan. Silahkan buat toko Anda sendiri namun jangan hancurkan toko orang lain yang menjadi gantungan rezekinya setiap hari.

Kairo, 15 Maret 2016 M / 6 Jumadil Akhir 1437 H

Muhammad Awaluddin

Muhammad Awaluddin adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2010. Saat ini adalah mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: