Landasan Bekerja dalam Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan semua aktifitas manusia di bumi Allah. Islam adalah Agama yang sudah sempurna dan menjadi panduan kita sebagai manusia untuk hidup di dunia fana ini. Islam sebagai agama yang telah sempurna mengatur semua hal yang berkaitan dengan segala aktifitas manusia di dunia baik urusan ibadah mahdhah mapun urusan ibadah muamalah. Ibadah muamalah adalah ibadah yang berkaitan dengan aspek hubungan sesama manusia. Hubungan sesama manusia adalah aktifitas yang tidak bisa dinafikan. Manusia satu dengan lainnya mau tidak mau, setuju tidak setuju, suka tidak suka pasti akan saling berhubungan.

Manusia hidup di dunia ini tugasnya adalah beribadah kepada Allah. Ibadah Manusia dalam bentuk ibadah mahdhah dan ibadah muamalah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang dilakukan oleh manusia yang berbentuk ibadah ritual sebagai penghambaan manusia kepada Allah. Dalam hal ini sudah digariskan, misalnya adalah shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya. Ibadah muamalah dalam hal ini salah satunya adalah bekerja. Bekerja adalah fitrah bagi manusia. Manusia bekerja adalahsebagai ibadah dan menjadi sebuah keharusan.

Al-Quran memberikan isyarat tentang kerja mencari penghidupan. Mari kita lihat surat al-Naba’: 11:

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan kami menjadikan siang itu untuk mencari penghidupan

Menurut Al-Ghazali ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa kita sebagai manusia telah diberikan gambaran tentang waktu untuk mencari penghidupan. Waktu untuk mencari nafkah dan menghidupi diri kita sendiri dan keluarga. Karena pada ayat sebelumnya juga digambarkan bahwa malam dijadikan sebagai waktu untuk istirahat.

Selain itu juga dalam surat Al-A’raf: 10:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersykur.”

Menurut Al-Ghazali, banyak manusia yang sangat tidak bersyukur dengan anugrah dan nikmat yang diberikan Allah. Allah sudah membuka semua peluang yang ada di bumi. Manusia silahkan gali semua peluang dan lakukan dengan cara yang baik. Nikmat Allah bisa digali dan didapatkan dari mana saja di dunia ini. Oleh sebab itu, manusia harus selalu bersyukur dengan ini. Sebagai tanda syukur kepada Allah adalah, bekerja maksimal dan bersungguh-sungguh dalam mencari poenghidupan di dunia. Inilah bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan. Manusia lebih banyak malas dan lalai; malas untuk menggali potensi diri, malas untuk bekerja keras, malas untuk memuat jaringan, malas untuk memperbaiki diri dalam mencari penghidupan, malas meng-upgrade diri sehingga tidak maksimal dalam prose mencari anugrah Allah.

Manusia terlalu banyak alasan untuk mengatakan bahwa di dunia ini terlalu susah mencari penghidupan. Manusia terlalu gampang untuk mengatakan bahwa sangat sedikit sekali anugrah Allah yang bisa didapatkan. Manusia selalu lupa bahwa karunia Allah itu banyak. Manusia terlalu fokus mengatakan bahwa kemampuan dia sangat minim untuk menggali dan mencari karunia Allah. Manusia sangat lupa bahwa kekayaan yang ada di dunia ini sangtlah tidak terhingga. Manusia hanya bisa membandingkan diri dia dengan orang lain yang telah bekerja keras menggapai karunia Allah dengan baik sedangkan dia hanya bermalas-malasan. Ingat!!! orang terkaya di dunia hanya memiliki uang ratusan trilyun, sedangkan kekayaan Allah tak berbatas.

Apakah kita semua tahu, ternyata dalam Al-quran terkandung suatu ayat yang melegitimasi ketika haji pun kita masih bisa melakukan transaksi usaha. Mari lihat surat Al-Baqarah ayat 198:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.”

Tafsir ayat ini mengatakan bahwa boleh melakukan transaksi pada puncak ibadah haji ketika kita berkumpul di Arafah. Selama ini kita hanya berfikir bahwa Ibadah haji sebagai ibadah mahdhah, tapi ternyata selama itu kita juga bisa melakukan transaksi ibadah muamalah. Betapa Allah sangat memberikan ruang gerak yang luas bagi manusia untuk menyelaraskan antara ibadah mahdhah dengan ibadah muamalah yang dalam hal ini berkaitan dengan dunia kerja dan usaha.

Seluruh penjuru bumi ini adalah karunia Allah yang bebas kita eksplorasi. Ruang dan waktu sudah bisa kita tembus. Hijab dan halangan sudah sudah tidak ada lagi. Zaman sekarang tidak ada sekat antara satu benua dengan benua lainnya. Zaman sekarang ini semua manusia sudah bisa terkoneksi antara satu sama lain. Zaman sekarang ini semua manusia bahkan bisa berinterkasi langsung dalam hitungan detik. Berpuluh-puluh abad yang lalu, manusia satau sama lainnya masih terbatas koneksinya. Bahkan untuk saling bertemu membutuhkan waktu yang cukup lama. Jangankan saling bertemu, bertegur sapa saja belum tentu bisa dilakukan. Hal ini, menunjukkan bahwa , segala aspek yang berhubungan dengan kemanusiaan, teknologi dan informasi mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia itu memiliki kemampuan untuk meciptakan sesuatu yang berbeda, manusia mampu menciptakan suatu karya dengan mengoptimalkan kemampuan akal dan fikirannya. :

Mari kita lihat surat al-Mulk ayat 15:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah kamu jelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya, Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.

Ayat ini sangat tegas memberikan pesan bahwa Allah sudah menciptakan bumi ini khusus buat manusia. Bumi yang diciptakan ini sangat mudah bagi kita untuk menjelajahinya. Itu adalah sebuah pesan, dan tentang bagaimana cara menjelajahinya tentu kita gunakan akal dan fikiran kita, sehingga terciptalah alat transportasi kapal laut, mobil dan pesawat terbang.

Allah sudah menjanjikan ini. Manusia tinggal melakukan tugasnya, manusia tinggal mengasah otaknya untuk berfikir, manusia tinggal memaksimalkan kemampuannya untuk melakukan sebauh terobosan terobosan dalam aspek karya dan karsa. Allah pun meningatkan dalam ayat itu, hanya kepada Allah saja tempat kembali kita, artinya, manusia tidak perlu khawatir, karena semua sudah Allah gariskan dan Allah pula yang akan menjaga kita. Apabila ada manusia yang berani untuk menjelajahi bumi dan seisiinya ini , baik antar pulau, baik antar benua, maka hanya allah yang memiliki kuasa. Betapa kita masih berfikir dan terkagum kagum tentang hebatnya teknologi pesawat. Bagaimana perasaan anda ketika berada di atas awan ketika terjadi guncangan atau turbulensi yang dahsyat, atau ketika petir menyambar pesawat yang kita tumpangi, kepada siapa kita berharap??..hanya kepada Allah saja. Karena ilmu manusia telah sampai kepada tahapan memaksimalkan kemampuan mesin dan teknologi pesawat, namun tentang jaminan keamanan di atas awan hanya Milik Allah secara mutlak. Itulah yang dinamakan Tawakkal. Manusia telah maksimal memainkan peran kemanusiaannya, maka Hak Allah untuk memutuskan semua apapun yang akan terjadi.

Bekerja itu harus dengan landasan Ikhlas

Kita telah melihat uraian kandungan Al-quran di atas seperti pemaparan penulis. Maka apabila kita hidup di dunia ini hanya untuk berleha leha atau hanya sekedar melakukan ritualitas ibadah mahdhah , maka kita belum sempurna sebagai manusia. Oleh sebab itu, bekerja adalah tugas kita sebagai manusia. Bekerja bagi manusia adalah sebuah keharusan untuk menghidupi dirinya, keluarganya dan orang-orang yang ditangungnya.

Oleh sebab itu, dengan landasan Ayat-ayat di atas, maka apabila manusia melakukan suatu pekerjaan dengan berpedoman pada ayat-ayat di atas maka, kita akan melakukannya dengan ikhlas. Ikhlas karena Allah. Ikhlas karena kita tahu dan yakin akhirnya bahwa Allah pun menyerukan kita untuk bekerja. Ikhlas karena kita jadi bersemangat karena Allah telah menyedikan segala karunia yang ada di bumi ini. Ikhlas karena Allah mensyaratkan bahwa kita adalah manusia yang bersyukur apabila memaksimalkan segala karunia dan Angurah Allah sebagai penghidupan kita. Bekerjalah dengan Ikhlas karena landasan Allah yang telah memerintahkan kepada kita. Bekerjalah dengan Ikhlas karena Allah yang mengisyaratkan bahwa tanda syukur itu adalah bekerja dan memaksimalkan karunia-Nya yang ada di bumi ini.

Betapa  Al-Ghazali sangat luar biasa dalam kitabnya dia menshahihkan Hadis  bahwa “ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan istighfar, kecuali dengan kerja keras mencari rejeki (Ihya Ulumuddin Juz I 484). Ini adalah syarah dari hadits nabi “setiap Muslim harus kerja”. Bahwa bekerja itu sama nilainya dengan jihad dalam peperangan. Siapa saja yang bekerja dengan niat untuk kedua orang tuanya, bekerja untuk orang yang dia tanggung (keluarga,pembantu, pekerja, sopir dll), siapa saja yang bekerja untuk dirinya agar terjaga harga dirinya supaya tidak menjadi beban orang lain maka mereka itulah orang yang sama kedudukannya dengan Fisabilillah. Orang  yang selalu berjalan di Jalan Allah.  Syeikh Al-Bani berkata bahwa pengertian Sabilillah di sini adalah apabila dia mati, maka dia syahid, Mati syahid di luar perang. Dalam Buku Ihya Ulumuddin juga ada riwayat yang menceritakan suatu ketika ada seorang anak muda yang gagah di dalam majlis Rasulullah dan sahabat. Para sahabat berkata sesama sahabat waktu itu, kenapa anak muda ini tidak berperang saja supaya mendapatkan Pahala Jihad yang lebih baik. Namun di sisi lain Rasulullah malah mengapresiasi anak muda ini, karena dia berdagang karena untuk menjaga harkat martabat dia, untuk kedua orang tua dan keluarganya, maka Rasulullah mengatakan anak muda ini adalah Sabilillah.

Bekerja dengan Ikhlas artinya tulus. Tulus karena Allah. Tulus karena semata-mata karena mengaharap redha Allah. Tulus karena mendasarkan setiap aktifitas kerja dan usaha karena ayat-ayat Allah yang maha benar. Tulus karena inilah yang mejadi landasan niat kita bekerja. Tulus (Ikhlas) inilah yang menjadi motivasi kita selalu semangat dalam bekerja. Nah, niat ini akan menjadi benar apabila dilandaskan dengan ilmu. Ilmu yang harus senantiasa dipelajari. Maka, Al-quran adalah lautan ilmu yang tiada habis-habisnya untuk di gali dan di eksplorasi. Al-quran adalah pedoman yang maha benar, maha lengkap, maha dalam maknanya, maha tepat perumpamaannya. Oleh sebab itu, mempelajari Ilmu berlandaskan  al-quran, maka ilmu yang didapat akan terasa maknanya yang kuat menghunjam dada dan hati kita. Kuasailah akhiratmu dengan ilmu dan kuasailah duniamu dengan ilmu.

Bekerja itu juga harus cerdas

Manusia dalam hidup di dunia ini selalu berlomba lomba untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Berlomba-lomba ingin menunjukkan supeerioritas masing-masing. Manusia selalu ingin melanggengkan eksistensi diri mereka dihadapan manusia lainnya. Manusia juga selalu ingin mencoba memberikan kebermanfaatan bagi manusia lainnya.

Dalam dunia kerja dan usaha, allah juga sudah memberikan rambu-rambu yang begitu cantik dan halusnya perumpamaan kata-kata. Mari lihat surat 18 ayat 7 yang artinya :

“ Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji mereka , siapakah diantara mereka yang “terbaik perbuatannya”.

Ayat di atas menggambarkan bahwa Allah mengaharapkan manusia menjadi yang terbaik amal dan perbuatannya. Dalam jami’ Ash-shagir, dijelaskan bahwa “ajmiluu Fi thalabi dunya, Fa Inna Kullan Muyassarun limaa kutiba lahu minha. Artinya perbaikilah dalam hal mencari dunia, sesungguhnya segala seuatunya akan menjadi mudah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah.

Ulama ahli bahasa berpendapat bahwa kata-kata ajmiluu bermakna perbaikilah, artinya istiqamah dan jangan melalaikan faktor-faktor keberhasilan. Hal ini mencerminkan bahwa manusia harus selalu memperbaharui kemampuan, memperbaharui potensi dan harus selalu meningkatkan kadar keilmuan  dalam segala hal. Pekerjaan yang dilakukan apabila dikuasai kelimuannya maka akan menjadi mudah. Pekerjaan yang dilakukan, apabila dikuasai dengan baik tingkat kseulitannya, maka akan menjadi lebih sempurna. kecerdasan menjadi landasan dalam bekerja supaya kita mampu mendapatkan hasil yang lebih baik, mendapatkan hasil yang lebih banyak, mendapatkan hasil yang lebih berkah dan mampu memberikan kepuasan terhadap orang-orang yang menerima jasa pekerjaan dan orang-orang yang menggunakan produk usaha kita.

Bekerja itu butuh kerja keras dan optimal.

Kitab Ihya Ulumuddin karya al-ghazali diungkapkan sebuah hadits Thabrani “ Innallaaha yuhibbul mukmin al muhtarif “. Artinya sesungguhnya Allah mencintau muslim yang kerja keras.  Makna kerja keras di sini adalah m anusia diberikan ruang dan waktu yang sangat leluasa. Manusia memiliki waktu 24 jam sehari, 30 hari dalam sebulan (rata-rata) dan 12 bulan satu tahun. Manusia juga diberikan ruang gerak yang sangat luas. Silahkan gunakan waktu dengan baik dan manfaatkanlah hamparan bumi yang sangat luas ini untuk mencari penghidupan.

Surat al-Mulk ayat 15 di atas sudah cukup memberikan isyarat bahwa, manusia bebas melakukan eksplorasi semaksimal mungkin. Lakukan eksplorasi antar daerah, antar pulau dan antar benua sekalipun. Tidak ada alasan, bahwa rejeki di dunia ini sangatlah sedikit. Tidak ada alasan bahwa manusia tidak bisa makan dan menghidupi dirinya karena Allah menghamparkan karunianya dibumi yang luas ini. Tidak ada alasan bahwa, manusia tidak akan mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan mereka.

Apabila ada manusia yang masih merasa kekuarangan pekerjaan, maka berarti dia bermasalah dengan daya juangnya sendiri. Apabila ada manusia yang mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup karena kurang makan, maka berarti dia bermasalah dengan kemampuan diri untuk menghasilkan makanan. Alasan yang paling tepat sebenarnya adalah manusia selalu sibuk dengan alasan “malas”. Manusia terlalu sombong dengan dirinya sendiri, dan menilai dirinya terlalu tinggi, sehingga malu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang halal yang bisa menghasilkan sesuatu yang bisa menghidupi mereka. Manusia terlalu sombong dengan dirinya sendiri sehingga merasa “cukup” dengan apa adanya yang mereka dapatkan tanpa melakukan upaya maksimal. Manusia terlalu mengagungkan “kemalasan” . Kemalasan ini lahir karena kurangnya ilmu, kurangnya pengetahuan, besarnya gengsi dan prestise dan bisa juga karena prinsip hidup yang keliru.[]

Adri Syahrizal

Adri Syahrizal adalah Presiden Direktur Ritelteam Indonesia; sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang Konsultan manajemen Ritel dan UKM, Software ritel, Penjualan Rak Gondola supermarket dan Perlengkapan kasir. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 1991-1997.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: