Leil (Malam)

Lorong di setiap rumah sakit ternyata terasa sama. Mencekam.

Mungkin karena bayang kematian terasa begitu kentara di setiap sudut, hingga tak menyisakan sebidang ruang pun untuk bersuka cita. Mereka yang berkeliaran di sekitar lorong terlihat paham betul.

Sepanjang yang kulihat, tidak ada seorang pengunjung pun yang berani tertawa lebar. Yang ada hanyalah kumpulan wajah suram yang hilir mudik kesana kemari, entah melakukan apa. Atau kebanyakan dari mereka yang memaksakan sebuah senyum bagi si pesakit.

Sialnya aku menambah panjang daftar mereka.

Setelah panggilan itu mengacaukan hariku, memaksaku memacu diri untuk secepatnya sampai disini, sebuah senyum palsu pun tak bisa ku toreh. Rahangku mengeras, mungkin kerutan sudah terpahat di dahiku. Rasa kantuk akibat insomnia berkepanjangan seolah mati, terbunuh oleh panggilan terkutuk itu.

“Leil” panggil suara itu membuatku menghela nafas panjang, lega. Aku masih melihatnya, tak tertutup kain.

“Kenapa kau sampai tumbang lagi Yuu?” nadanya mungkin terdengar bagai dingin dan menusuk bagi orang-orang yang baru mengenalku. Aku duduk di sebuah kursi kecil yang memang disediakan bagi keluarga pasien. Dasi abu-abu yang tadi pagi ia lekatkan padaku kutarik melonggar. Jas putih kusampirkan di sandaran kursi itu, menyisakan kemeja dengan warna sama.

Yuu hanya tertawa ringan. Kulitnya yang putih terlihat lebih pucat. Tangannya bergerak menyentuh dahiku. Jemarinya terasa dingin.

“Kau bisa cepat jadi kakek-kakek kalau hobi berkerut  seperti ini Leil…” ucapnya masih tertawa ringan. Biasanya aku akan menyela, dia juga akan dipanggil nenek saat aku jadi kakek-kakek, “….sayang aku mungkin tak bisa melihatnya” lanjutnya tersenyum, menyedihkan. Refleks tanganku menyentuh miliknya.

Kau akan bertahan? Yakinlah kau akan kembali sehat? Kita akan melewatinya? Aku muak dengan kata-kata itu. Sejak penyakit kanker paru-paru positif dijatuhkan atasnya, semua mimpi yang kami bangun seolah rubuh. Dan ia terlihat mengerti, tak mengeluh, bahkan membesarkan hatiku. Aku benar-benar merasa lemah.

“Pak Dokter tidak boleh berkerut seperti ini” ucapnya jahil menjentil dahiku pelan. Mungkin ingin membuat sebuah lelucon dimana kami bisa tertawa.

Namun aku terdiam. Lama sunyi menyeruak di antara kami. Bagiku yang mengerti bahwasanya waktu adalah musuh terbesar kami saat ini, suasana sepi ini begitu menyakitkan. Seharusnya aku lebih paham bahwa setiap detik yang kulewatkan dengannya haruslah sebuah kebahagiaan. Namun entah kenapa aku selalu gagal menerjemahkan setiap isi hatiku. Selalu berakhir dingin.

“Waktu bukan lagi musuh bagiku Leil” ucapnya seolah membaca fikiranku. Satu-satunya orang yang bisa mengerti isi hatiku tanpa aku bersusah payah merangkainya menjadi kata-kata. Hal yang paling tidak ku kuasai di dunia.

Aku ingin sekali menarik bibirku untuk tersenyum. Ingin sekali. Bahkan sebuah senyum palsu, apa pun itu, setidaknya agar membuatku terlihat sedikit lebih kuat di hadapan perempuan ini. Sayang, kata-kata berikutnya yang akan dia lontarkan sudah begitu lekat dalam otakku. Kata-kata yang selalu mencabik hatiku lagi dan lagi.

“Aku akan merangkul erat sang waktu. Hingga saat kematian itu datang, aku bisa tersenyum. Menerima kematian itu layaknya kawan lama. Oleh karena itu, kau tak perlu khawatir Leil. Aku hanya akan pergi ke tempat sahabatku”

“Tidurlah!” ucapku seraya begitu saja meninggalkan ruangan itu. Sebelum pintu itu sempurna tertutup, kulihat wajah istriku yang mendung. Sedang air mataku sudah siap meluncur.

Kami sama tahu, bahwa kami tengah menangis. Mencengkram dada masing-masing. Mengutuk perasaan sakit yang menyeruak hebat. Kematian. Perpisahan. Aku membencinya. Kami membencinya. Aku seorang dokter yang membenci kematian, bayangan yang selalu mencuat di rumah sakit. Rumah keduaku.

Lalu hari berganti begitu saja. Musim hujan datang, memperburuk keadaannya. Suhu dingin membuat saluran pernafasan menyempit. Mungkin aku memang spesialis mata, dan tak begitu mengerti mengenai organ dalam. Tapi melihat wajahnya yang makin pucat, serta panggilan terkutuk yang makin sering datang membuatku paham. Sahabatnya akan segera datang menjemput.

Yuu seolah mengerti. Hari itu ia memutuskan untuk meminta pulang. Aku menurutinya, membuat surat izin untuk jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Aku akan menemaninya. Sampai sahabatnya datang mengetuk pintu rumah kami.

“Senangnya berada di rumah” ujarnya terlihat ceria. Terusan lavender yang kebesaran  cantik di tubuhnya, lebih baik daripada seragam rumah sakit.

“Kau mau makan apa?” tanyanya semangat memasuki dapur. “Apa saja” balasku. Dan ia langsung mengangguk senang. Tapi wajahnya kecewa seketika melihat kulkas.

“Bahan yang kutingglkan masih seperti ini. Kau pasti tak makan dengan benar saat aku di rumah sakit” cerocosnya.

Aku tak bisa mengaku jadwal makan dan tidurku kacau tanpanya.

“Aku tak suka memasak”

Yuu tertawa singkat, sebelum batuk mengiringi. Aku mendekat, mengusap punggungnya pelan. Yuu tahu aku berbohong. Setidaknya aku bisa memasak. Bahkan aku yang mengajarinya memasak. Yuu payah dalam hal memasak.

Yuu melanjutkan harinya dengan mengelilingi setiap sudut rumah. Mengunjungi setiap ruang, membersihkannya. Bahkan mengganti seprai kasur yang bahkan tak pernah kutiduri sejak ia rawat inap di rumah sakit. Yuu selalu marah saat tahu aku menungguinya semalaman. Yuu tak pernah meminta pergi kemana pun. Dia selalu terlihat senang saat menghabiskan waktu kami berdua, di rumah kami.

“Kau tahu, kadang aku tak suka kau memanggilku Leil. Aku lebih suka kau memanggilku dengan namaku” ucapku saat kami tengah menikmati secangkir teh kala senja tengah menjemput malam.

Yuu menggeleng. “Kamu Leil. Akan selalu Leil bagiku” jawabnya mantap. Aku mengerenyit bingung. Yuu selalu memanggilku Leil semenjak diagnosa penyakitnya.

“Baiklah. Akan kuberitahu rahasia kecilku padamu. Leil artinya malam”

“Kenapa malam?”

“Bagiku malam selalu panjang, pekat dan sunyi. Menyapa malam membuatku bertanya-tanya, apa aku bisa melihat matahari terbit esok hari? Atau aku sudah terlanjur bertemu dengan kematian?”

Aku terdiam. Malam sepertinya bukan nama yang bagus. Aku tak suka.

“Tapi, kalau kau menjadi malam untukku, aku yakin aku akan merangkulnya. Menjadikannya malam terakhir tempat aku tersenyum di dunia. Kau malam Leil, tempat aku menutup mata”

Sungguh, aku tak suka nama ini. Aku juga tak suka Yuu yang selalu memikirkan terlalu dalam arti dari sesuatu.

Dan pada hari ke tujuh, Yuu akhirnya memintaku menemaninya. Tempat yang benar-benar ingin ia kunjungi katanya. Pusara kedua orang tuanya.

Mobilku melaju pelan dan konstan. Kami singgah di sebuah toko bunga. Berbeda dengan orang kebanyakan yang meminta Lily putih atau mawar, Yuu langsung meminta rangkaian Basil tanpa pikir panjang. Waktu itu aku tak mau ambil peduli.

Sepulang dari pusara, kondisi Yuu makin memburuk. Nafasnya terlihat makin berat. Darah senantiasa menemani iringan batuknya. Dan malam itu, saat hujan melebat, sahabat Yuu akhirnya datang. Yuu tak berbohong. Dia tersenyum. Merangkul erat kematian layaknya sahabat lama. Aku menggenggam tangan Yuu erat, tak terlihat bayang kecewa dari sinar matanya.

Malam itu, malam terberat dalam hidupku.

Sejak saat itu aku memutuskan pergi. Meninggalkan kota, rumah sakit, bahkan rumah kami. Aku pergi tanpa membawa apa-apa, membiarkan semuanya tetap seperti selayaknya.

Kini waktu tak lagi menjadi musuh bagiku. Bahkan aku hanya sekedar melirik layaknya kenalan. Musim berganti. Dan kerutan benar-benar sudah tercetak di wajahku. Beberapa uban terselip. Tapi aku lebih senang seseorang memanggilku Paman daripada Kakek.

“Jarang sekali kau minta cuti Armigo. Apa sudah begitu rindu pada kampung halamanmu?” guyon dokter kepala. Aku memasang senyum tipis. Kemampuanku merangkai kata-kata sama sekali belum mengalami kemajuan.

Besok adalah hari istimewa. Aku bahkan sudah melingkari tanggal itu sejak sepuluh tahun lalu. Mobilku mulai melaju, menuju tempat yang dulu kutinggalkan.

Aku menyempatkan diri datang ke tempat yang paling tak ingin ku kunjungi. Tempat Yuu.

Mekarlah setiap kelopak ungu kebiruannya diantara dedaun hijau asri. Seikat basil ditanganku kini telah beralih ke pangkuannya.

“Apa pernah kau pelajari bahasa bunga? Sesungguhnya Basil yang kini dipangkuanmu adalah perlambangan dari keinginan terbaik dan cinta” senyumku. Aku yakin Yuu tahu. Ia juga selalu membawa bunga ini saat ke pusara orang tuanya.

Yah, Basil memang berarti keinginan terbaik dan cinta. Namun disatu sisi, ia berarti kebencian. Kau tahu Yuu? Aku membenci sahabatmu yang membuatku berpisah denganmu.

Aku berhanjak pergi. Tak ingin berlama-lama. Tak ingin bentuk pusaramu tertaman dalam otakku.

Hari ini udara cerah. Berbeda dengan hujan lebat sepuluh tahun lalu. Aku sudah berada tepat di rumahku, rumah kami. Tanganku agak bergetar saat hendak membuka pintu.

Banyak teman yang menanyakan kabarku. Mereka seolah paham, bahwa kepergian Yuu menghilangkan ‘kami’ meninggalkan aku dengan separuh hati yang dibawanya serta. Aku menutup telinga, menutup mata. Mereka mungkin menganggap cintaku menguap seketika kematian itu datang.

Salah, sungguh salah. Aku pergi, meninggalkan semuanya. Memutuskan untung tak berkunjung, tak lagi melihat saat-saat dimana waktu menjadi musuhku.

Manusia terlalu cepat beradaptasi. Bahkan sebenarnya adaptasi ini yang membuat manusia dapat bertahan di dunia yang keras ini. Dan aku takut, aku akan mulai beradaptasi, terbiasa dengan segala hal setelah kepergiannya. Aku akan mulai melupakan setiap geraknya di rumah kami, tergantikan oleh kosong. Aku akan mulai melupakan suaranya, tergantikan oleh televisi yang mungkin akan selalu kubiarkan menyala nyaring, mengusir senyap.

Dan benar saja, seketika aku membuka pintu, aku masih bisa melihatnya. Yuu masih berada disana. Seolah menunggu kedatangnku. Dalam wujud dan ingatan yang sama. Tiada berubah sedikitpun. Perempuan manisku, Yuu.

“Aku pulang, Yuu” dan Yuu balas tersenyum padaku.

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: