LGBT dalam Teks dan Konteks

Jika diambil pengertian secara tekstual, sederhananya gelaran Lesbian diberikan pada perempuan yang secara batin (pemikiran dan perasaan), memiliki kecenderungan lebih menyukai perempuan, yang akhirnya pada tahap perilaku melakukan tindakan fisik dengan sesama perempuan.

Kemudian disebut Gay, penamaan ini ditujukan pada pria yang secra emosional (pemikiran dan perasaan), memiliki kecenderungan lebih menyukai pria, dan pada tahap perilaku melakukan tindakan fisik dengan sesama pria.

Selanjutnya dikatakan Biseksual, istilah ini lahir diberikan pada perempuan dan lelaki yang secara psikologis (pemikiran dan perasaan), memiliki kecenderungan pada keduanya, sehingga pada perilakunya melakukan tinfakan fisik dengan keduanya. Yang wanita menyukai pria sekaligus wanita sesamanya, serta yang lelaki menyukai wanita begitupula dengan pria sesamanya.

Seterusnya Transgender dan ada juga yang menyebutnya dengan Transeksual, muncul dilekatkan pada wanita yang secara gen memiliki dua alat vital, laki dan perempuan. Dan juga istilah yang dilekatkan pada Pria yang secara genetis memiliki dua alat vital, wanita dan sekaligus laki-laki. Secara perasaan dan pemikiran pemilik istilah ini, memiliki kecenderungan pada keduanya, yaitu pada lelaki dan juga wanita. Sehingga pada perilakunya melakukan tindakan fisik, baik dengan perempuan beneran (sesunghuhnya), dan juga lelaki beneran (sesungguhnya), dan atau bahkan dengan sesama gen transeksual/transgender.

Empat atau kelima istilah dan penamaan di atas, lahir dalam konteks seksualitas. Saya tidak lagi menyebut teks, tapi konteks, sekali lagi konteks.

Konteks adalah, pemahaman dan kesimpulan yang lahir akibat adanya suatu peristiwa, terkait waktu, kondisi, tempat, sejarah, keadaan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan munculnya satu per-istilah-an atau penamaan itu. Sehingga, jika melahirkan kesimpulan hukum, dan atau defenisi sosial, dan atau makna serta nilai, baik budaya ataupun agama, maka pengkorelasian teks yang terlahir dengan konteks ketika teks itu lahir, adalah mutlak.

Artinya teks dan konteks, tidak boleh terpisah. Agar pemahaman, kesimpulan dan pengolahan data untuk memunculkan arti sesungguhnya dari suatu teks, tidak keluar dari konteksnya. Yang pada kesimpulannya berakibat salah pengertian dan gagal paham.

Nah, terkait dengan sorak-sorai LGBT, mulai dari pendapat nyeleneh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Siti Musdah Mulia, kemudian seorang Minang bergelar Doktor di FISIP UI, lahir di kota Bandung tahun 1961 yang mengaku berpandangan politik Liberal Islam (berteman facebook dengan adinda DR. Riki Saputra, MA), serta ‘sumbing’-nya pendapat seorang yang dianggap tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Absar Abdalla, yang mengalaskan bahwa Gay itu banyak orang hebat, salah satunya diklaim penemu komputer di Inggris seperti yang disebut Fadhli Lukman dalam laman Qureta.com bernama Alan Turing.

Maka diperdapat kesimpulan, bahwa para pakar ini sepertinya belum menggunakan konsep berfikir yang paralel dan terstruktur. Sehingga konsep-konsep yang dihasilkan, membiaskan dan mengaburkan pangkal pokok persoalan. Antara lain hal LGBT ini. Pertanyaan yang muncul adalah, benarkah demikian?.

Gelar, nama, istilah, sebutan, predikat dan himbauan yang dilekatkan pada keempat penamaan itu (LGBT), dasar pokoknya adalah persoalan janggal, berbeda, dan tabu serta anehnya orientasi, perilaku juga tindakan yang dilakukan para ‘makhluk’ LGBT ini. Agar lebih mudah dipahami saya menyebutnya makhluk.

Perilaku, tindakan, serta orientasi yang saya maksudkan adalah berkaitan dengan hubungan secara emosional, batin, psikologis, pikiran dan perasaan yang menyimpang dari yang seharusnya. Sehingga mewujudkan tindakan penyimpangan, baik secara batin, psikoligis, pemikiran dan perasaan, ataupun terlihat nyata pada tindakan fisik.

Pada tahap yang abstrak, yaitu pemikiran, perasaan, emosi, batin, boleh diganti dengan istilah naluri, sepertinya kejanggalan LGBT ini tidak akan menimbulkan persoalan yang berakibat antipati dan fobia di tengah-tengah masyarakat.

Permasalahan akan muncul ketika, naluri yang menyimpang itu mengkristal dan teraplikasi dalam perilaku dan tindakan yang nyata, fisik dan terlihat jelas. Bahasa sederhananya adalah SEX yang menyimpang, atau pakai istilah Fadhli (different ability). Artinya LGBT, adalah persoalan eksistensi atau keberadaan yang menuntut “pengakuan” atau ingin diakui. Nah, disini lah letak pergunjingannya.

LGBT dalam pandangan medis, sebagian besar dikatakan bukan penyakit, karena penyakit dalam istilah medis adalah luka fisik, cacat fisik, kelainan mental yang terdeteksi, dan sebagainya yang berhubungan dengan fisik. Artinya persoalan fisik dan psikis dalam ilmu kesehatan menjadi paradoks secara alami. Dan ini menjadi pendapat yang aneh tapi ada.

Berbanding terbalik dengan, jika seorang sosiolog memberikan pandangan. Dalam ilmu sosial, LGBT digolongkan ke dalam bentuk penyakit masyarakat. Karena bertentangan dengan nilai serta norma yang sudah terbangun di dalam satu kelompok masyarakat baik itu budaya, dan segala bentuk perilaku yang telah diatur dan dibentengi dengan kebudayaan. Dan tidak ada budaya dimanapun, secara prinsip dapat menerima, jelas akan bersinggungan dengan kebudayaan. Timur ataupun Barat.

Selanjutnya agama memiliki kecenderungan menutup pintu terhadap kejanggalan sekaitan LGBT. Baik dalam hal orientasi bahkan perilaku. Sebab secara teks, penamaan LGBT berorientasi pada perilaku seksual yang menyimpang  dari yang dituntun dan diajarkan oleh agama dalam berbagai kitab suci. Termasuk di dalamnya, inses (hubungan seks dengan keturunan sedarah, keluarga). Apalagi berbeda genetik, seperti melakukan hubungan seksual dengan hewan.

Nah, LGBT dalam hal ini, menginginkan pengakuan dan eksistensinya dianggap. Dan pertanyaan yang muncul tentunya, mungkinkah?, bisakah?, dan benarkah?.

Secara realitas, ada memang. Dan mungkinkah bisa diterima keberadaannya?. Jawabnya mungkin, sebab LGBT juga manusia. Lalu, kalau memang penyakit, bisakah disembuhkan?. Jawabnya bisa. “Kullu Daa-in, Dawaa-un, illa al-Maut”. Dan kalau benar-benar kita mampu berfikir secara benar, pertanyaannya, benarkah orientasi dan perilaku menyimpang itu?. Jawabnya, tentu tidak benar.

Jika saya dan anda saat ini berorientasi menyimpang akan sesuatu, seperti (maaf) berhubungan badan antara saya dengan isteri dan saya membawa serta anda. Apakah saya akan dipermalukan dan dihukum?. Atau saat ini saya berfikir, bernaluri, berasa, berkeinginan untuk berhubungan badan dengan perempuan satu kampung dan ribuan wanita secara bergiliran, apakah saya akan dipancung?. Tentu tidak, jika orientasi ini tidak saya tulis, dan saya ucapkan secara blak-blakan. Bagi manusia, tidak masalah, tidak kedengaran, tidak kelihatan. Berbeda jika anda dan saya, jika mengaku bertuhan. Itu adalah dosa, dan dosa itu abstrak layaknya otientasi, fikiran, perasaan, keinginan, hasrat dan naluri.

Jadi, pembelaan, pembenaran dan jenis argumen sekecil apapun yang sejatinya menyimpulkan keberpihakan terhadap perilaku seksual menyimpang yang dilakukan LGBT, baik dalam orientasi nya (fikiran dan perasaan) apalagi wujud dalam perilaku, tidak dapat dibenarkan. Tidak sunnatullah, bukan fitrah (giften) seperti yang diumbar Siti Musdah Mulia. Dan Tidak dapat dipisahkan antara orientasi dan perilaku seperti yang diocehkan DR. Ade Armando. Ataupun pengalihan simpatik yang dilakukan Ulil Absar yang menyebutkan Gay hebat penemu komputer. Begitu pula tidak dapat dikatakan sebagai difabel ability yang bisa ditolerir dan dapat diobati dengan terapi seperti yang diurai Fadhli Luqman.

Dibutuhkan penegasan, tidak mewacanakan, sehingga menimbulkan pandangan bias dan kabur. Mengaduk-piduk antara pandangan medis, politis, sosial dan budaya. Oleh karena agama, merupakan sumber segala ilmu. Ilmu tanpa agama, akan menyebabkan kehancuran, baik itu pemikiran, pendapat, argumen, teknologi, dalam kata lain budaya dan juga peradaban, atau apapun itu. Sebaliknya agama tanpa ilmu pengetahuan akan menyebabkan kebutaan dan taklid.

Sehingga pantaslah Allah Swt membalikkan tanah, menggulung bumi dimana cikak bakal kaum Nabi Luth yang LGBT saat itu berusaha memperlihatkan eksistensi dan menuntut pengakuan, tak terkecuali isterinya. Kesalahan umatnya saat itu bukan hanya terletak pada perilaku, akan tetapi jelas pada menyalahi fitrah (orientasi menyimpang). Jadi, orientasi anda akan berpihak mana?, hanya anda, Siti Musdah Mulia, Ade Armando, Ulil Absar dan Tuhan anda yang tau.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: