Lulus Sekolah, Mau Ngapain?

Masa setelah UN adalah masa galau bagi para siswa. Bagaimana tidak? Karena nantinya mereka akan ditodong dengan pertanyaan, apa yang akan dilakukan setelah itu. “Udah selesai UN ya? Abis ini kuliah dong? Rencananya mau kuliah dimana? Ambil jurusan apa?”. Inilah pertanyaan yang paling sering ditanyakan ketika kita telah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas. Pertanyaan ini bisa dikatakan sebagai awal mula pertanyaan-pertanyaan yang tak berkesudahan setelahnya (kapan lulus? kapan nikah? kapan punya anak? kapan ngasih adik buat si anak? bla..bla..bla..) Pertanyaan ini bisa ditanyakan oleh siapa saja dan dimana saja. Pertanyaan ini juga terkadang membuat galau karena yang ditanyakan pun sebenarnya masih bingung dengan jawabannya.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi pilihan terkait apa yang akan dilakukan setelah lulus, yaitu: kuliah, kerja, atau malah mau langsung menikah. Untuk memilih salah satu di antara ketiganya diperlukan pertimbangan-pertimbangan sehingga menghasilkan keputusan yang matang. Sedikit bernostalgia, saya pun dulu mengalami masa-masa galau ini. Setelah lulus dari sekolah tercinta, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, saya memutuskan untuk kuliah. Saya pernah berkeinginan kuliah ke Al-Azhar, Kairo, tapi tidak mendapat restu dari orang tua. Cerita punya cerita, alhamdulillah, dengan bantuan dari sekolah (terutama Ustadz Zulfahmi), saya dan keenam teman saya (Rahmi Edriyanti, Nikmah Rasyid Ridha, Faizah, Faisal, Syukrina, dan Widia Astuti) bisa mengikuti seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementrian Agama. Jurusan untuk program keagamaan waktu itu hanya ada tiga pilihan, Tafsir Hadis (UIN Jogja), Ilmu Falaq (IAIN Semarang), dan Hukum Islam (IAIN Surabaya). Meskipun belum memiliki alasan yang kuat, saya akhirnya memilih jurusan Tafsir Hadis di UIN Jogja. Masih terlintas di benak ini bagaimana usaha kami agar bisa lulus beasiswa tersebut. Berangkat setelah subuh dari Parabek ke Padang diantar Inyiak Katik (rahimahullah), Ustadz Deswandi, dan Ustadz Nurdin dengan mobil putih sekolah.

Sebenarnya saya belum yakin apakah akan lulus beasiswa itu atau tidak. Maka saya mendaftarkan diri untuk ikut bimbingan belajar di salah satu tempat kursus ternama di Padang untuk persiapan mengikuti seleksi masuk PTN. Tidak hanya sampai di situ, saya juga sempat mengikuti seleksi beasiswa dari Universitas Paramadina. Entah karena ingin mengikuti jejak senior yang ada di sana (Rini Ariani), atau memang sudah yakin karena Kak Rini menjelaskan panjang lebar tentang peluang kerjanya, saya memilih jurusan psikologi. Sampai pada tes tahap akhir, wawancara, saya ditanya apakah sudah mengikuti tes beasiswa lain atau tidak, ya saya jujur saja bahwa sudah mengikuti tes PBSB. Si pewawancara lantas menanyakan kalau lulus dua-duanya, mau pilih yang mana? Saya lupa waktu itu jawab apa. Hehe.

Singkat cerita, pengumuman PBSB lebih dulu keluar dibandingkan Paramadina. Saya masih ingat, waktu itu sedang berada di atas angkot berwarna merah jambu jurusan Kalawi-Lubuk Lintah-Pasar Raya, di Padang. Entah ditelpon, atau lewat sms, yang jelas saya dikabari oleh senior saya, Fadhli Lukman, bahwa saya, Nikmah, dan Faizah dinyatakan lulus PBSB. Terharu? Tentu saja. Bahagia? Apalagi. Sampai meneteskan air mata dan lupa kalau lagi di angkot. Tentang pengumunan beasiswa Paramadina, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana hasilnya. Mungkin tidak lulus. Tentang pendaftaran kursus yang biayanya sudah dilunasi tapi kursusnya belum dimulai, alhamdulillah ada kenalan yang mau menggantikan. Maka nikmat Tuhan manakah lagi yang akan kita dustai? Saya yang awalnya tidak punya alasan mengapa mengambil jurusan Tafsir Hadis, lambat laun menyadari bahwa di sanalah passion saya dan saya menikmatinya. Tapi saya sarankan, adik-adik tidak mengikuti cara ini. Beruntung bisa menikmatinya ketika sudah berjalan, kalau tidak? Hanya akan ada penyesalan dan waktu yang terbuang. Untuk itu, saya ingin memberikan beberapa tips sebelum adik-adik mengambil keputusan mau apa setelah lulus sekolah.

Pilihan pertama adalah kuliah. Permasalahannya, jurusan apa yang akan diambil? Untuk menentukan hal tersebut, kita perlu mengetahui minat, bakat, cita-cita, dan kemampuan kita. Jika kita suka menulis puisi dan cerpen, pilihlah jurusan bahasa dan sastra. Jika bercita-cita ingin jadi pengacara, kuliahlah di fakultas hukum. Dan jika ingin menjadi penerus Quraish Shihab, maka ambillah jurusan Tafsir Hadis (di beberapa tempat sudah dipisah menjadi dua jurusan, Ilmu Hadis & Ilmu al-Qur’an dan Tafsir). Kita juga perlu mengukur kemampuan sebelum menentukan pilihan jurusan. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah nanti sanggup menjalaninya? Karena tidak jarang orang yang akhirnya tidak sanggup kuliah di jurusan tertentu dan mengakibatkan kuliahnya keteteran. Itu juga salah satu faktor yang membuat seseorang kuliah bertahun-tahun lamanya. Sebisa mungkin jurusan yang diambil sesuai dengan jurusan ketika di sekolah dulu. Pengalaman seorang teman yang dulunya di SMA jurusan IPA, tapi kuliah di jurusan Tafsir Hadis, ternyata tidak mudah. Kita juga harus berpikir realistis. Ketika memilih jurusan, lihatlah peluang kerjanya, agar tidak menganggur ketika sudah lulus. Perlu juga melihat apa yang kira-kira banyak dibutuhkan setelah 4 atau 5 tahun ke depan.

Pilihan kedua, kerja. Beberapa orang memilih untuk tidak melanjutkan studi dan memutuskan untuk bekerja karena alasan-alasan tertentu. Untuk kasus ini, diperlukan keterampilan-keterampilan yang memadai. Bagi yang lulusan SMK, mungkin tidak sulit jika langsung bekerja atau membuka usaha sendiri setelah lulus sekolah. Karena di SMK siswa-siswanya sudah punya keahlian khusus dan memang diprospek untuk hal tersebut. Yang jurusan otomotif, bisa buka bengkel. Yang jurusan tata busana, bisa buka jasa menjahit pakaian. Yang jurusan tata boga, bisa buka toko kue dan lain sebagainya. Tapi bagi yang lulusan SMA atau Madrasah Aliyah, disarankan untuk mengikuti pelatihan, kursus, dan sejenisnya sebelum bekerja. Kecuali jika memang sudah memiliki keterampilan khusus, karena akan bersaing dengan para lulusan dari SMK.

Last but not leaset, menikah. Tidak jarang orang yang memutuskan untuk menikah setelah lulus sekolah, terutama perempuan. Biasanya si perempuan sudah dipinang terlebih dahulu sebelum dia lulus sekolah, dan menikah setelah lulus. Ini terjadi pada beberapa orang yang saya kenal. Keputusan menikah di usia yang masih terbilang muda tentu ada dampak positif dan negatifnya. Untuk menghindari dampak-dampak negatifnya (seperti perceraian) dibutuhkan kematangan berpikir, kemantapan hati, dan kesiapan lahir-batin.

Itulah ketiga hal yang bisa menjadi pilihan setelah lulus sekolah. Namun saya sarankan adik-adik untuk memilih yang pertama, yaitu kuliah. Selain untuk memperdalam dan tentunya menambah wawasan keilmuan, juga untuk menambah pengalaman. Dan juga, jangan hanya mendaftar ke satu PTN atau mencoba satu beasiswa saja. Tapi cobalah mendaftar ke beberapa PTN sebagai persiapan untuk kemungkinan terburuk (tidak lulus). Khusus bagi yang tamatan pesantren, jika nanti kuliah jauh dari orang tua (khususnya di pulau Jawa), ada baiknya kuliah sambil mondok. Apalagi untuk yang mengambil jurusan umum, kebanyakan kitab-kitabnya tidak dibuka lagi ketika sudah kuliah. Dengan mondok, kitab-kitab itu akan tetap dipelajari. Demikian cerita dan beberapa tips dari saya. Semoga bermanfaat.[]

Imroati Karmillah

Imroati Karmillah adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Menyelesaikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2 di pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: