Madrasah dalam Pondok Pesantren

Menarik mendengar kisah dari guru-guru kita terdahulu, salah satunya dari Almarhum Inyiak Abdul Ghaffar. Beliau menceritakan mengapa Inyiak Syekh Ibrahim Musa memilihkan nama Pondok dengan sebutan Sumatera Thawalib. Sangat sederhana, karena Inyiak punya cita-cita agar Pondok Pesantren ini segera berkiprah dan dikenal oleh seluruh masyarakat, terutama masyarakat di wilayah Sumatera. Alhamdulillah cita-cita itu tercapai. Pada masa beliau masih hidup, santriwan dan santriwati berdatangan dari seluruh penjuru Sumatera dan bahkan sampai ke megara tetangga. Kita ingat dengan beberapa nama seperti Adam Malik dan Rifa’i Batubara (Mufti salah satu daerah bagian di Malaysia) yang mencerminkan keterwakilan santri dari luar Sumatera Barat, dll.

Dalam konteks kekinian, cita-cita semacam itu dikenal dengan istilah visi, misi dan tujuan sebuah lembaga Pendidikan sebagaimana disyaratkan dalam pendirian lembaga pendidikan jika mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KBK–KKNI ). Meskipun dulu tidak disebut dengan bahasa teknis manajerial semacam itu, wujud dan pencapaiannya sama.

Penamaan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek akhir-akhir ini secara tidak langsung sudah beralih menjadi Pondok Pesantren. Pondok Pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sedangkan Madrasah lahir setelahnya. Kelahiran Madrasah dilatari oleh kritik beberapa Syekh/ Buya/Kiyai/Gurutta/Teuku terhadap sisi lemah pesantren terkait materi ajar yang terkotak pada pelajaran keagamaan semata. Kenyataannya, ketika itu Indonesia sedang di bawah jajahan Belanda, dan ilmu pengetahuan menjadi salah satu kelemahan mendasar Indonesia dari penjajah.  

Meskipun demikian, baik pondok pesantren maupun madrasah memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama bercita-cita untuk melahirkan para ulama dan umara yang akan melawan para penjajah yang tidak hanya mencaplok kekayaan tanah air, akan tetapi juga menyebarkan kayakinan yang berbeda dengan keyakinan masyarakat Indonesia. Adapun perbedaannya terletak pada pandangan beberapa Syekh/ Buya/Kiyai/Gurutta/Teuku yang membuka pendidikan umum di Madrasah.

Terlepas dari perspektif sejarah tersebut, nomenklatur dari peraturan pemerintah yang mengatur pendidikan agama Islam dan keagamaan menyebut bahwa Madrasah lebih dikenal dengan Sekolah Agama setingkat SMP/SMU. Dari situ, maka pesantren menjadi lembaga pendidikan yang khas, berbeda dengan madrasah. Pesantren tetap berada pada porosnya dengan menitik-beratkan pada pembelajaran keislaman berbasis kitab kuning dan dan pendidikan 24 jam dengan kehidupan santri di asrama. Lebih lengkapnya, ada lima komponen yang wajib dimiliki oleh pesantren, yaitu Syekh/Kiyai/Buya atau sebutan-sebutan semisalnya, santri, asrama, Mesjid dan kitab kuning. Beberapa pesantren juga ada yang menambahkannya dengan Hifzh al-Qur’an.

Dari segi kurikulum, perbedaan pesantren dan madrasah terletak pada sumber ajarnya. Pesantren mengajarkan kitab kuning, sementara materi pengajaran di madrasah berupa saduran dari berbagai rujukan disamping materi penguatan-penguatan dibidang umum/sains. Itulah yang selama ini kita kenal dengan nama Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah, baik negeri  ataupun swasta.

Ketika saat ini pesantren mulai membuka diri terhadap materi-materi pembelajaran umum, maka kita melihat proses integrasi antara pesantren dan madrasah. Ini sejatinya bukanlah aib atau langkah mundur dari pesantren. Justru, keterbukaan ini merupakan kelanjutan dari semangat para Syekh/ Buya/Kiyai/Gurutta/Teuku yang dulu menekankan pentingnya pendidikan ilmu sains dan ilmu sosial. Semua ilmu itu, baik ilmu agama maupun ilmu umum, merupakan bekal yang penting bagi para ulama yang faqih, moderat, tasamuh, dan berkiprah aktif di masyarakat. Pada sisi lain, keterbukaan itu menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan basis kuat terhadap Al-Quran dan Kitab Kuning, sebagai wadah yang digemari masyarakat karena ia menjawab kegelisahan moral dan sosial saat ini.

Jika diibaratkan Pondok Pesantren tersebut sebagai lingkaran besar, maka madrasah adalah lingkaran kecil didalamnya. Dan bukanlah Pondok Pesantren istilah milik sekolah-sekolah agama di pulau Jawa semata, akan tetapi Pondok Pesantren hadir diseluruh tanah air.

44882_158721994157824_7901429_n-2

Oleh sebab itu, sulit rasanya jika saat ini Sumatera Thawalib Parabek tetap hanya dikenal sebagai sebuah Madrasah. Rasanya ini akan semakin mengkerdilkan perjuangan Parabek itu sendiri dalam mempertahankan khittah yang telah digariskan oleh Inyiak Syekh Ibrahim Musa dan murid-murid beliau dahulu. Ya, Khittah itu akan tetap bergema jika pembelajaran Kitab Turats ( Kitab Klasik ) itu masih berjalan semestinya, ditambahkan dengan pembelajaran di asramanya. Kecuali, di lain hal madrasah adalah nama baku Pondok Pesantren Sumatera Barat seperti layaknya Badan Dayah di Prov. Aceh Nagroe Darussalam.

Alhamdulillah sekarang, dengan kekhashan yang ada pada Sumatera Thawalib Parabek sebagai salah satu Pondok Pesantren terkemuka, Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia telah memberikan kepercayaan untuk Sumatera Thawalib Parabek untuk mengembangkan potensinya, semakin mengasah kemampuan anak didik dan gurunya, dengan diberikannya SK Pendirian Ma’had ‘Aly yang nota bene merupakan kelanjutan dari pendidikan sebelumnya. Allahu Akbar Walillahil Hamd

Bersambung…

Ilham

Adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 1994-2000. Saat ini ia adalah Pimpinan Pondok Sumatera Thawalib Parabek.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: