HomePojok MadrasahOpiniMadrasah Itu Bernama Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek

Madrasah Itu Bernama Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek

Opini Pojok Madrasah 0 0 likes 54 views share

Madrasah Sumatera Thawalib Parabek pada awalnya hanya merupakan kelompok pengajian atau halaqah yang diadakan oleh seorang ulama pembaru, Sjech Ibrahim Musa. Mungkin disebabkan oleh pengikutnya yang kian banyak dan pengaruh dari modernisasi pendidikan, pada tahun 1910 M halaqah ini berubah menjadi madrasah yang kemudian disebut dengan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Pada awal berdirinya, Sjech Ibrahim Musa merupakan satu-satunya guru yang mengajar di madrasah yang didirikannya ini. Selanjutnya, beliau dibantu oleh guru-guru muda yang notabene merupakan sahabat dan muridnya sendiri. Sesuai dengan namanya, madrasah ini berdiri di sebuah kampung kecil di Kecamatan Banuhampu yang bernama Parabek. Masyarakatnya secara kultural merupakan bagian dari masyarakat Minagkabau yang terkenal sebagai masyarakat egaliter. Masyarakat yang antara satu dengan lainnya duduk sama rendah dan tegak sama tinggi.

Mungkin ada kaitannya dengan kultur masyarakatnya yang egaliter, hubungan guru dengan murid, pada Madrasah Sumatera thawalib Parabek sangat akrab. Guru disini dipanggil dengan sebutan Inyiak, suatu penggilan kasih sayang yang biasanya merupakan panggilan cucu kepada kakeknya. Tentu saja dapat dibayangkan, betapa akrab dan harmoninya hubungan keduanya. Itu pula sebabnya, sangat sulit “memondokkan” siswa madrasah dalam arti sebenarnya. Karena sebagaimana jamak diketahui pondok itu identik dengan peraturan-peraturan yang ketat dan “memaksa”.

Baca juga:  Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Pada lingkungan masyarakat yang egaliter inilah kemudian Madrasah Sumatera Thawalib Parabek hidup dan berkembang. Ruhnya tidak hanya berada pada siswa dan guru saja, melainkan juga hidup pada masyarakat Parabek khususnya dan Minangkabau pada umumnya. Hal ini yang membuat Madrasah Sumatera Thawalib Parabek kemudian menjadi milik masyarakat, bukan milik perorangan atau kelompok. Adapun akte Notaris dan yayasan hanyalah merupakan perpanjangan tangan dari masyarakat secara keseluruhan yang diamanahi untuk mengurus Madrasah ini.

Memperhatikan filosophi dan historis lahir dan berkembangnya Madrasah Sumatera Thawalib Parabek yang ada, tampaknya Madrasah Sumatera Thawalib Parabek meskipun disebut dengan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, tetap saja Madrasah Sumatera Thawalib Prabek. Adalah sulit, kalau tidak dikatakan tidak mungkin, merubah madrasah yang merupakan Instutusi pendidikan yang berdiri dari kultur Minangkabau yang egaliter menjadi institusi Pondok Pesantren yang biasanya berdiri pada kultur Jawa yang feodal.

Di Pondok Pesantren, Kiyai tidak hanya berperan sebagai guru, melainkan juga pemimpin spiritual, dan pemimpin administratif. Kiyai merupakan figur sentral yang memiliki kekuasaan yang sangat luas. Di tangan kiyai terletak hitam putihnya pondok pesantren. Kekuasaan kiyai di pondok pesantren sangat mutlak. A kata kiyai mesti A kata semuanya. Hitam kata kiyai, mesti hitam kata semuanya. Kekuasaan kiyai yang semacam ini, oleh masyarakatnya juga diakui. Hingga, tidak pernah tendengar ada santri membantah kata kiyainya. Tidak ada pula masyarakat kemudian mendatangi pondok untuk meminta informasi tentang perkembangan pondok terhadap kiyai.

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Dengan demikian, Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek hanyalah nama dari Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dari dulu sampai sekarang tetap saja merupakan sebuah madrasah. Sedangkan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek adalah nama yang dibuat sebagai upaya penyesuaian dengan nomenklatur pendidikan tingkat sekolah menengah pada Kementerian Agama RI. Seperti yang diketahui, bahwa terdapat dua lembaga pendidikan agama tingkat menengah di bawah Kementerian Agama RI, Madrasah dan Pondok Pesantren. Tiap-tiapnya memiliki direktorat sendiri yakni Direktorat Madrasah dan Direktorat Pondok Pesantren. Sedangkan pada tingkat Kanwil Kemenag dan Kankemenag Kabupaten dan Kota ada Kasi Madrasah dan Kasi Pondok Pesantren. Jadi, sebutan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lebih merupakan kepentingan administratif birokratis, bukan sebutan sebenarnya. Karena dari dua nomenklatur tersebut Madrasah Sumatera Thawalib memang lebih cocok dinamai dengan pondok pesantren, bukan madrasah. Wallahu a’lam.
===========
Menunggu waktu berbuka, 28 Ramadhan 1437 H/ 3 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *