Mahaguru Sumatera Thawalib Parabek

Beberapa saat yang lalu, surauparabek.com menghimbau para siswa, alumni, dan guru-guru untuk menulis tentang Syaikhul Madrasah Sumatera Thawalib Parabek sebagai catatan sejarah tentang perjalanan hidup beliau; terutama sekali Inyiak Khatib Muzakkir yang belum lama ini kembali kehadirat Allah swt. Ternyata, sewaktu beliau masih hidup, sudah ada satu usaha untuk mencatat tentang perjalanan dan kiprah beliau. Ini adalah tulisan yang pernah dimuat di Majalah Dinding Al-Bayan pada tahun 2012, dan beberapa saat setelahnya dipublikasi di halaman blog aLBayan. Tulisan ini adalah karya dari siswa kelas V ketika itu, Desmilla Nesyia Nora dan Wardatul Ummah. Berikut tulisan yang paling pertama (barangkali) tentang Inyiak Khatib Muzakkir.

 

Dari sisi senioritas, siapakah guru Ponpes Sumatera Thawalib Parabek yang paling senior? Tentu saja jawabannya adalah Inyiak Imam Muzakkir. Akan tetapi, ada satu hal lainnya yang sangat menarik dari kita ini. Beliau adalah Guru para guru yang ada di sini. Beliau adalah Mahaguru Sumatera Thawalib Parabek. 

Inyiak Imam Mudzakir, inilah nama Syaikhul Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Beliau lahir pada tanggal 5 Juli 1942. Beliau adalah murid dari Syaikh Ibrahim Musa. Beliau pernah bersekolah SR kemudian melanjutkan ke SMEP dan terakhir sempat melanjutkan kuliah selama 2 tahun di Universitas Imam Bonjol Bukittinggi. Inyiak pernah mendapatkan peringkat 25 ke atas sewaktu kelas 1 di SMEP Parabek, tetapi pada waktu kelas 2 beliau selalu mendapat peringkat atas.

Guru kita ini mulai mengajar di Parabek pada tahun 1963 bertepatan dengan tanggal lahir beliau, saat beliau berumur 21 tahun. Dalam usia muda ini juga beliau menjadi Khatib di Mesjid Jami’ Parabek. Menjadi Khatib sekaligus menyandang gelar Katik semenjak muda, menjadikan beliau sangat akrab dengan panggilan ini. Meskipun sudah beberapa tahun beliau menyandang gelar Inyiak Imam, panggilanInyiak Katik masih menjadi panggilan yang paling akrab bagi Beliau. Sekarang beliau mengajar di bidang Manthiq dan Qawaid. Beliau adalah pakar di bidang Nahwu, Sharf, dan Fiqh, Tauhid, dan sebagainya.

Setelah hampir 50 tahun mengajar di sekolah ini, tentu saja Beliau sudah memiliki ratusan bahkan mungkin ribuan murid. Hingga saat ini, Beliau masih sering dikunjungi oleh murid-murid beliau. Menurut Ust. Ilham, MA. terkadang alumni Ponpes Sumatera Thawalib datang ke Parabek bukan untuk mengunjungi sekolah. “Seringkali mereka datang hanya untuk mengunjungi Inyiak Katik, sungguh kehormatan dan barakah luar biasa yang beliau sampaikan pada ribuan murid beliau.” cerita Ust. Ilham, MA.

Murid-murid Beliau pun sudah banyak yang menjadi guru di Sumatera ThawalibParabek. Contohnya Ust. Zakiar. Beliau adalah murid tertua Inyiak Katik yang masih mengajar di sekolah kita. Diantara guru-guru senior lainnya yang mengenyam pendidikan di kelas Inyiak Katik adalah Ust. Masyrur Syahar, Ust. Taufik Suar, Ust. Deswandi, Ustz. Yusmaini, Ustz. Yulfahmi, Ust. Zulfahmi, Ust. Abizar, dan masih banyak ustd/ustzh lainnya. Bahkan, Pimpinan Pondok Ponpes Sumatera Thawalib sekarang pun adalah murid Beliau.

Satu hal unik dari perjalanan mengajar Inyiak di sini adalah bahwa beliau mengajar murid Beliau secara langsung, murid dari murid beliau, bahkan murid dari murid dari murid Beliau. Sebagai contoh, Ust. Deswandi adalah murid dari Inyiak Katik. Selain itu, Ust. Zaki Munawwar adalah murid dari Ust. Deswandi. Akan tetapi, pada saat yang sama, Ust. Zaki juga murid dari Inyiak sendiri. Selanjutnya, santri-santri sekarang, terutama sekali kelas Aliyah, adalah murid dari Ust. Zaki, pada saat yang sama juga murid Ust. Deswandi. Bahkan, mereka juga adalah murid dari Inyiak Katik secara langsung. Sungguh beruntung santri Sumatera Thawalib generasi sekarang masih bisa belajar kepada guru dari gurunya guru mereka. Seandainya santri saat ini menyadari, kejadian seperti ini tidak banyak terjadi di dunia ini.

Bagaimana Inyiak menurut para murid Beliau? “Inyiak adalah sosok guru yang sangat menguasai bidangnya apalagi di bidang Mantiq dan Qawa’id” tutur Ust. Zakiar Asman. Menurut Ust. Masyrur “Ilmu Inyiak tidak bisa dibandingkan dengan lulusan universitas, meskipun Inyiak kuliah hanya 2 tahun”. Bahkan, beritanya Inyiak tidak betah kuliah dan memilih berhenti adalah karena Beliau bosan dengan pelajaran di Universitas yang terasa sederhana.

Bagaimanakah metode Iyiak dalam mengajar? “Inyiak mengajar menggunakan sistem otoridak, yaitu mengajar seseorang dari hati ke hati. Dalam mengajar terlihat jelas bahwa Beliau memberikan ilmunya sangat ikhlas. “Inilah yang menjadi nilai terbesar Inyiak di mata murid-muridnya.” menurut Ust. Ilham. Beberapa cirri khas Inyiak dalam mengajar diantaranya adalah ‘jari-jari’ dan ‘santiang’. Beliau akan menciptakan suasana kompetitif di dalam kelas dengan menggunakan kata ‘jari-jari’, dan bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan akan dipuji dengan ungkapan ‘santiang’. Tujuan beliau adalah agar murid yang menjawab bertambah semangat dan murid yang lainnya bertambah semangat dan termotivasi.

Menurut Ust. Habibi, salah satu murid Inyiak, cara pengajaran Inyiak berbeda, memiliki ciri khas mngajar dengan nyanyian membuat murid-murid bertambah semangat.”  Sosok Inyiak sangat semangat dalam mengajar bahkan semangat beliau melebihi semangat para guru lainnya meskipun umur Inyiak sudah cukup tua. “Ketika mengajar, Inyiak mengeluarkan seluruh suaranya, bahkan hingga urat-urat di lehernya kelihatan jelas.” ungkap Ust. Ilham. Kenapa? “Karena menurut saya mengajar adalah suatu amal dan jihad fi sabilillah. Dan jika Allah mengizinkan saya ingin mengajar sampai Allah menjemput saya kembali.” tutur inyiak saat di tanyai di warung beliau. Sungguh luar biasa. Inyiak adalah Mahaguru Sumatera Thawalib Parabek.

Tim Redaksi

Merupakan Garin Termuda di surauparabek.com lahir bersamaan dengan munculnya surau parabek, Salam Kenal Semua Keluarga Besar Surauparabek, -http://toko.surauparabek.com (Pelanggan Setia Toko)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: