HomePojok MadrasahMajalah Al Bayan Al Mubin 1919-1921; Refleksi menuju 1 abad 1919-2019

Majalah Al Bayan Al Mubin 1919-1921; Refleksi menuju 1 abad 1919-2019

Pojok Madrasah 0 0 likes 11 views share

Revolusi mesin cetak sebagai fitur penting abad 20 turut menarik perhatian kalangan ulama di Minangkabau untuk ambil bagian menjadikan majalah dan surat kabar sebagai medium dakwah strategis mengikuti perkembangan zaman, seperti website di internet kita hari ini. Meskipun sedikit terlambat, fase pertama penerbitan majalah Islam ditandai dengan kemunculan majalah Al Moenir (1911-1916) sebagai corong kalangan Islam modernis kemudian disusul majalah Soeloeh Melajoe (1913-1915) dari kalangan tradisional. Fase ini, terbit juga majalah Al Achbar (1913-1914). Sayangnya, usia ketiga majalah ini tidak bertahan lama dengan berbagai faktor penyebab, mulai dari persoalan kebakaran percetakan Syarikat Ilmu sebagai penerbit Al Moenir, permasalahan bayaran langganan pembaca yang tidak lancar sehingga penerbit menanggung rugi dan terpaksa tutup untuk kasus Soeloeh Melajoe.

Praktis, hampir dua tahun lamanya dari 1916 sampai 1918 tidak ada majalah dan surat kabar Islam diterbitkan di wilayah Minangkabau sampai kemudian muncul majalah Al Mizan (1918-1922) di Maninjau oleh syarikat Ihsan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Tak lama kemudian keluar nomor perdana lanjutan majalah Al Moenir dengan nama baru yaitu Al Moenir al Manar (1918-1922) di Padang Panjang oleh Zainuddin Labai el Yunusi di bawah perkumpulan (jaamiat) Sumatera Thawalib Padang Panjang. Setahun berselang perkumpulan Sumatera Thawalib di Parabek Bukittinggi juga menerbitkan majalah Al Bayan (dalam aksara jawi di salah satu cover majalah tertulis Al Bayan Al Mubin). Berturut turut kemudian perkumpulan sumatera thawalib di Padang Japang, Batusangkar juga menerbitkan majalah serupa dengan nama berbeda beda.

 

Selayang Pandang Tentang Majalah Al Bayan

Majalah Al Bayan sendiri kemunculan sulungnya hadir pada tanggal 1 Muharram 1338 H/ 5 September 1919 ditulis dalam aksara arab melayu/pegon/jawi dan beberapa bagian menggunakan aksara rumi di satu halaman sampul majalah, pemberitahuan/pengumuman, dan Iklan. Cover majalah yang ditulis dalam arab melayu menampilkan no edisi, tanggal terbit, periode tahun penerbitan dan keterangan tentang majalah “usaha orang alam Minangkabau, majalah Islamiyah pada pengajaran pengetahuan dan perkhabaran”. Halaman sampul ini juga memuat susunan dewan redaksi penerbit Rais Tahrir (ketua redaksi) Jama’in Abdul Murad,  Muharrir (redaktur) Abdul Mu’in, Mudir (pimpinan perusahaan) Sain Al Maliki Sianok Fort de Kock, An Nazir H.S.S Perpatiah. Masih di halaman sampul ini juga dituliskan bahwa majalah ini dibantu oleh Jam’iyyah Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi (pada tahun kedua berganti menjadi Sumatera Thawalib Parabek Agam) “Dipimpin oleh Ulama al Ghayyur (hemat dan cermat pada agama Islam). Terbit setiap awal bulan Arab dan pertengahan, dipimpin oleh Tsmaratul Ikhwan Bukittinggi.  Selanjutnya halaman ini memuat detail model langganan, harga dan kontak informasi berlangganan dan alamat majalah.

Sampul majalah dalam aksara rumi menampilkan informasi yang lebih ringkas merangkumi nama majalah, motto “Soerat chabar oentoek keperloean segala hal tentangan Agama Islam”. Detail informasi dan harga langganan. Separoh dari halaman ini berisi iklan berbagai produk seperti buku arab, batik dan, obat-obatan. Sementara layout isi majalah dalam satu halaman dibuat menjadi dua bagian dengan garis vertikal di tengah-tengah halaman, kecuali judul beberapa rubrik akan mengambil penuh posisi halaman. Sementara penomoran halaman majalah untuk 1 tahun penerbitan nomor halaman terus bersambung setiap edisinya, seperti edisi tahun pertama, nomor halaman di edisi ke 24 sebagai edisi penutup tahun pertama sampai di angka halaman 374. Satu nomor penerbitan rata rata adalah 24 halaman termasuk halaman sampul.

Baca juga:  Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Mengenai rubrikasi,  dari beberapa naskah majalah yang penulis miliki mencakup rubrik editorial yang menyentuh berbagai isu dan dalam beberapa edisi pembahasan editorial tidak selesai dalam satu nomor edisi sehingga kemudian disambung pada edisi berikutnya. Rubrik lainnya adalah Tafsir, Artikel (makalah) kemudian diikuti oleh Fatawa Al Bayan, dan rubrik Soal Jawab. Selain dewan redaksi majalah yang telah disebutkan diatas, kontributur untuk berbagai rubrik majalah diantaranya adalah Muhammad Salih Ar Rayhani, Haji Abdul Latif Syakur, Zainuddin Ahmad, Haji Ibrahim Abdul Ghani, H. M Siddiq, Basyuni Ahmad. Pembaca majalah Al Bayan tidak terbatas di wilayah sekitar Parabek tapi tersebar sampai ke Palembang, Aceh, dan Semenanjung Malaya.

Sama seperti majalah dan surat kabar Islam lainnya pada masa itu, Al Bayan tidak berumur panjang, penulis belum menemukan informasi dan sumber yang menyebutkan kapan majalah ini berhenti terbit karena dari beberapa buku dan sumber yang mengulas Al Bayan hanya menjelaskan kemunculan dan sedikit informasi mengenai isi majalah sementara kapan berakhir penerbitan masih belum jelas. Tapi, kalau kita merujuk kepada ketersediaan naskah dari penelusuran penulis diperkirakan majalah Al Bayan hanya berusia 2 tahun dari 1919-1921. (Silahkan dikoreksi jika ada informasi lain)

Sementara ketersediaan naskah sampai hari ini seperti informasi bibliografi dalam buku Ahmad Adam berjudul “Suara Minangkabau; Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat 1900-1941” (2012) ada di perpustakaan nasional (PN) Jakarta di penerbitan tahun 1 (September 1919- Agustus 1920) Edisi No 19-23 (18 Juni – 15 Agustus 1920) sementara penerbitan tahun No 1-10 (14 September 1920 – 25 Jan 1921). Ketika penulis bertemu dengan Prof Ahmat Adam dan bertanya mengenai informasi ini, beliau katakan bahwa itu hasil observasinya ke PN Jakarta tahun 80 an. Pertanyaan sekarang, apakah koleksi itu masih ada? perlu untuk dilacak kembali karena menurut info dari beberapa sumber, banyak koleksi manuskrip dan majalah di PN Jakarta yang raib dan rusak.

Tempat koleksi naskah lainnya dapat ditemui di Pusat Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PIDKM) Padang Panjang. Koleksi Al Bayan disini hanya dalam bentuk fotocopy bukan naskah asli sehingga banyak bagian majalah hilang dan teks tidak lengkap dan susah dibaca karena sebagiannya tertutup ketika naskah tersebut difotocopy. Di PIDKM, penulis menjumpai majalah Al Bayan edisi Tahun 1 No 19, 22, 23 dan Tahun 2 no 9 dan 10. Kemudian penulis juga mendapatkan satu naskah asli Al Bayan Tahun 1 No 24 dari ustaz Zakiar Asman di Parabek kemudian penulis fotocopy dan naskah asli dikembalikan, berharap ustaz Zakiar masih menyimpan naskah asli tersebut untuk rencana kedepan jika semua naskah ditemukan bisa didigitalisasi.

 

Majalah Al Bayan, What next..?

Kurang dari 3 tahun lagi, majalah Al Bayan akan berumur 100 tahun tepatnya 5 September 2019. Lantas apa yang kita bisa lakukan untuk menghormati warisan pendiri dan pendahulu Madrasah Sumatera Thawalib Parabek ini? Penulis mempunyai pemikiran bagaimana karya penting ini tetap wujud dan kita lestarikan baik naskah, isi maupun misi majalah Al Bayan ini dibentuk oleh pendahulu Sumatera Thawalib Parabek.

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Kalau dari segi naskah, kita hanya berharap koleksi yang ada baik di Pusatak Nasional (PN) Jakarta masih wujud, begitu juga di PIDKM meskipun hanya untuk mengambil isinya karena yang ada hanya dalam bentuk fotocopy, ataupun koleksi pribadi dari murid inyiak Parabek maupun pembaca jika masih ada yang menyimpan. Jika naskah asli berhasil dikumpulkan meskipun tidak keseluruhan, berharap ada pihak yang bersedia untuk mendigitalisasi naskah tersebut sebagai pelestarian warisan sejarah.

Jika memungkinkan maka tahap selanjutnya adalah, menyalin teks yang ada kemudian disusun mendekati naskah asli baik dari isi maupun layout, setidaknya warisan berharga ini dapat melanjutkan perjalanannya buat generasi mendatang. Belajar kepada lembaga lembaga di Malaysia seperti Khazanah Fataniyah di Kuala Lumpur yang bekerjasama dengan satu perusahaan percetakan, mereka mengetik ulang berbagai jenis manuskip kuno dan langka kemudian cetak ulang dan dijual, lebih lanjut mengenai koleksi di khazanah fataniyah bisa klik disini http://khazanahfathaniyah.com.my/ .

Opsi lainnya adalah membuat transliterasi majalah Al Bayan ke dalam aksara rumi dengan tujuan supaya khalayak umum bisa menikmati isi majalah dan usaha ini cukup penting dari segi kemanfaatan isi majalah dan tentu ini menjadi amal jariah kembali kepada penulis artikel dan rubrik, sebab warisannya tidak sebatas objek sejarah yang hanya bermanfaat bagai peminat sejarah tapi jika dipublikasi meluas akan semakin banyak segmen pembacanya.

Penulis sendiri telah memulai sedikit dari naskah yang ada sambil terus melengkapi koleksi edisi lainnya, harapannya ada pihak yang ikut ambil bagian usaha ini termasuk surauparabek jika bisa memfasilitasi.. Sehingga ketika 1 abad majalah Al Bayan 1919-2019 ada persembahan yang bisa diberikan.

Kenapa ini penting? Setelah membaca dan menelaah isi majalah Al Bayan, atmosfir informasi dan keilmuwan ketika majalah ini wujud 1 abad yang lalu sangat luar biasa. Majalah adalah platform pengetahuan yang sedikit berbeda dengan buku ilmiah yang bersifat satu arah sementara majalah arus informasinya terjadi dua arah, tidak saja dari penulis sebagai orang yang sudah dianggap memiliki keilmuwan mumpuni akan tetapi kita juga dapat dilihat bagaimana luasnya pemahaman dan pengetahuan pembaca terlihat dari bobot pertanyaan yang mereka ajukan, di level majalah Al Bayan ini sangat menarik dan pertanyaan pertanyaan yang diajukan pembaca juga spesifik baik dalam persoalan fiqih, tafsir, akidah, dan lain sebagainya.

Jika usaha ini berhasil diwujudkan maka satu prestasi besar tidak saja dalam konteks sebagai alumni Parabek, penghormatan kepada warisan pendiri sekolah tapi juga menimbulkan semangat kepada usaha melestarikan khazanah keilmuwan majalah majalah yang diterbitkan oleh ulama dan perkumpulan di Minangkabau lainnya, seperti Al Moenir, Soeloeh Melajoe dan lain lain karena sampai hari ini tak banyak yang memberikan perhatian dan koleksi yang tersisa hanya menunggu waktu akan ditelan zaman. Wallahu ‘alam.

 

Referensi:

Mahmud Yunus (1979), Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Penerbita Mutiara

Burhanuddin Daya (1995), Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya

Mafri Amir (2000), Historiografi Pers Islam: Mengenal Majalah Soeloeh Melajoe (1913-1915), Padang: Quantum

Ahmat Adam (2012), “Suara Minangkabau; Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat 1900-1941”, Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *