Mak Dapua is My Hero

Sekolah yang mempunyai asrama pasti memiliki juru masak atau penyedia makanan. Kalau di pondok pesantren kami ini, juru masak nya akrab dipanggil “Mak Dapua” (gak tau sekarang) yang jika di-Indonesia-kan memiliki arti “Ibu Dapur”, maksudnya seseorang yang berperan penting di dapur asrama. Secara tidak disadari, di tangan Mak Dapua inilah sebenarnya status gizi santri ditentukan. Apa yang dimasak, bagaimana cara pengolahan nya, semua tergantung Mak Dapua. Berkat Mak Dapua para santri bisa makan. Berkat Mak Dapua para santri tidak kelaparan. Berkat Mak Dapua para santri mempunyai tenaga untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Begitu penting peran Mak Dapua ini dalam pertumbuhan dan perkembangan santri asrama. Alangkah baiknya jika Mak Dapua juga sangat memperhatikan pangan yang dimasak sehari-harinya. Misalnya Mak Dapua harus memasak daging minimal 2 kali seminggu untuk memenuhi kecukupan protein hewani para santri. atau Mak Dapua juga harus menyertakan sayuran atau buahan setiap harinya. Mungkin penyediaan sayuran ini tidak memberatkan, karena lingkungan asrama di pondok pesantren kami ini sangat mudah ditemukan berbagai macam sayuran, bahkan warga sekitar ada yang menanam sendiri di pekarangan rumahnya. Ya, lingkungan asrama kami yang berada di pinggiran Bukittinggi yang terkenal dengan suhu udara dnginnya ini sangat cocok untuk pertumbuhan sayur-sayuran.

Mak Dapua juga harus memperhatikan variasi dari masakannya. Misal, untuk sarapan Mak Dapua menyediakan Nasi Goreng beserta potongan ayam atau telur dan pisang, untuk makan siang Mak Dapua menyediakan goreng ikan dan sayur kol, dan untuk makan malam disediakan tahu balado dan sayur kangkung bening. Keesokan harinya Mak Dapua mungkin menyediakan bubur kacang hijau untuk sarapan, gulai ayam beserta campuran sayur dan buah untuk makan siang, dan goreng ikan asin campur kacang panjang untuk malam nya. Dalam setiap minggu, penting untuk memperhatikan variasi masakan harian. Ini dimaksudkan agar kecukupan zat gizi tubuh dapat terpenuhi dari versifikasi zat gizi, dan tentu saja agar para santri tidak bosan. Jika para santri bosan, akhirnya mereka mencari makanan berat lain di luar asrama, akibatnya makanan yang telah disediakan pihak asrama menjadi mubazir. Dalam hal ini, Mak dapua tentu saja tidak boleh melewatkan aspek citarasa dari masakannya. Walaupun masakan sederhana, jika citarasanya diperhatikan maka akan terasa seperti makanan berkelas. Tetapi, Mak Dapua juga tidak dianjurkan menggunakan “micin” untuk menambah citarasa, karena penggunaan micin dalam jangka waktu yang lama akan berakibat pada perkembangan otak yang terhambat. Cukup gunakan bahan sederhana seperti gula dan garam serta rempah tambahan lainnya, jika sesuai takaran, hasil masakan juga tidak kalah enak  dibandingkan dengan penambahan micin.

Tentu saja ada peran lain untuk mendukung Mak Dapua ini, pihak asrama. Karena bagaimanapun pihak asrama lah yang memberikan dukungan finansial dan budgetting untuk Mak Dapua. Jika Mak Dapua tidak mendapat dukungan untuk memenuhi menu sesuai standar, sama saja tidak. Pihak asrama tentu saja menginginkan santri yang sehat dan berprestasi. Sehat dan berprestasi itu ditunjang dengan penyediaan makanan bergizi untuk memaksimalkan kerja sel-sel tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan santri. Bayangkan jika para santri terus dipaksa belajar tetapi gizi dari makanan nya tidak diperhatikan, yang terjadi bisa saja para santri menjadi sakit dan tidak bersemangat. Para guru pun menjadi tidak semangat mengajar jika siswa nya lesu dan malas.

Jadi, selama di asrama, Mak Dapua lah yang paling berjasa dalam hal memenuhi kebutuhan lambung para santri. Mak Dapua lah juru kunci dalam proses pertumbuhan dan perkembangan para santri. Masak dalam jumlah besar juga butuh keterampilan tersendiri, karena jika Mak Dapua malas, bisa saja dia tidak memperhatikan kebersihan bahan makanan nya. Berbeda dengan Ibu di rumah yang masak dalam jumlah kecil, hanya untuk keluarga. Semoga para santri, baik yang masih berada di asrama maupun yang sudah menjadi alumni, dapat berterimakasih kepada Mak Dapua yang sangat berjasa ini. Terimakasih Mak Dapua.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: