Mangaji Fathul Mu`in #2

 “الْحَمْدُ للهِ الفَتَّاحِ الجَوَّادِ المُعِيْنِ عَلَى التَّفَقُّهِ فِي الدِّيْنِ مَنْ اخْتَارَهُ مِنَ العِبَادِ وِأَشْهَدُ أَنْ لَا ِإلَهَ إِلَّا اللهُ شَهَادَةً تُدْخِلُنَا دَارَ الخُلُوْدِ وأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُودِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَمْجَادِ صَلَاةً وَسَلَامًا أَفُوْزُ بِهِمَا يَوْمَ الْمَعَادِ” .

Segala pujian milik Allah, Maha pembuka (gudang rahmat bagi semua makhluk), Maha dermawan, lagi Maha penolong hambanya yang terpilih untuk mendalami ajaran-ajaran agama. Aku bersaksi tiada ilah (tuhan yang berhak diibadahi) selain Allah, dengan sebuah persaksian yang dapat mengantarkan kita ke syurga yang kekal, dan aku bersaksi pula bahwa sungguh Baginda Muhammad adalah pesuruh dan utusan Allah, Beliau pemilik derjat yang terpuji, semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam atas beliau, kemudian keluarga dan sahabat-sahabatnya yang terpuji, shalawat dan salam yang aku harapkan (faidahnya) kelak pada hari kiamat.

 

Pendekatan teks dari ucapan syaikh al-Malibary:

الحمد لله

Merupakan jumlah ismiyah terbentuk dari komponen mubtada’ dan khabar syabah jumlah (jar majrur). Orang Ushuliy memahami bahwa alif dan lam yang menempel kepada kata hamdu memberi pengertian umum. Alif lam istighraq istilahnya. Karena itu, frase tersebut diartikan “segala bentuk pujian.” Al-‘Allamah ‘Imrithy dalam Syarah Lathaif al-Isyarat menyebutkan bahwa alif lam seperti demikian bermakna umum sebagaimana dalam bait nazhm beliau:

الجمع والفرد المعرفان    باللام كالكافر والإنسان

isim jenis jama’ dan kalimat mufrad yang dimasuki alif lam dimaksud adalah ‘amm

sebagai contoh lafal al-Kafiru dan al-Insanu

Dari segi qadhiyyah, ungkapan pengarang diatas tergolong kepada qadhiyyah hamliyyah muhmalah mujabah shadiqah. Ia dapat dipastikan kebenarannya karena secara keyakinan mutlak memang hanya Allah yang berhak atas pujian ikhtiyari. Maksudnya bersendirianlah Allah atas pujian yang tidak tergantung terhadap apapun; ketika seseorang menerima ni’mat atau tidak, Allah tetap terpuji.

Syaikh al-Malibary seakan mengajarkan pembaca untuk selalu memuji Allah karena itu salah satu upaya untuk membuktikan rasa syukur. Penting juga untuk diketahui, para ulama hampir bersepakat bahwa mengucapkan al-hamdu lillah ketika menerima ni’mat hukumnya wajib. Disamping itu banyak sekali anjuran dan perintah Rasulullah berkenaan dengan amalan membaca tahmid ini, diantaranya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari jalur sahabat al-Aswad bi sari’:

عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا أُنْشِدُكَ مَحَامِدَ حَمِدْتُ بِهَا رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى؟ قَالَ: ” أَمَا إِنَّ رَبَّكَ يُحِبُّ الْحَمْدَ “

dari Al-Aswad ibnu Sari’ yang menceritakan, “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, maukah engkau bila aku bacakan kepadamu pujian-pujian yang biasa kupanjatkan kepada Rabbku Yang Mahasuci dan Maha Tinggi.’ Nabi Saw. menjawab, ‘Ingatlah, sesungguhnya Tuhan-mu menyukai alhamdu (pujian)’.”

Hadis ini memang diperdebatkan oleh para ulama lantaran dalam mata rantai sanadnya terdapat Auf bin Abi Jamilah yang dituduh qadariyyah dan syi’ah. Namun, di sisi lain ditemukan paling tidak 3 syawahid (hadis yang semakna) yang mendukungnya. Oleh sebab itu, hadis ini disimpulkan sebagai hadis hasan lighairihi dan karenanya dapat dijadikan pegangan. Ketiga syawahid tersebut adalah riwayat Imam Hakim, Allamah Abu Nu’aim al-Ishfahaniy, dan riwayat dari Abu Sa’id An-Niqasy.

Kata pujian kepada Allah al-hamdu (الحمد) ini dapat dilihat dari 2 sisi. Pertama, ia adalah pujian yang qadim. Maksudnya, ia adalah Allah terhadap diri-Nya sendiri sebagaimana firman Allah الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض. Ia juga merupakan pujian Allah terhadap hambanya yang saleh. Contohnya bisa dilihat dari firman Allah (نعم العبد انه أواب). Kedua, pujian ini bersifat hadis seperti ucapan seorang hamba dengan frase “الحمد لله”  ketika menerima kebahagiaan atau karena kehendak mutlaq. Pujian manusia kepada manusia lainnya juga termasuk kepada pujian dalam hadis ini.

Sebagai catatan, membaca “الحمد لله”  hukumnya dapat berubah sesuai kondisi dan keadaan. Pertama, ia bersifat wajib seperti membacanya ketika shalat dan khutbah jum’at. Kedua, ia sunat seperti pada awal membaca do’a, setelah minum, setelah membaca buku pelajaran, dan sebagainya. Ketiga, ia menjadi makruh apabila diucapkan di tempat-tempat kotor seperti rumah penyembelihan dan selokan yang jorok. Keempat, ia bahkan bisa menjadi haram jika dibaca setelah berbuat kemaksiatan atau untuk memperolok olok lafaz tahmid tersebut.

 

الفتاح الجواد 

Frase ini menempati posisi  na’at terhadap lafaz Allah. Lafaz al-fattah adalah salah satu dari nama-nama Allah yang mulia, asma` Allah al-Husna. Diantara makanya adalah bahwa Allah lah semata yang membuka gudang rahmat dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya. Satu pendapat lain mengatakan bahwa al-fattah bermak yang Maha memutuskan perkara diantara manusia. Makna ini terambil dari makna kata hakama. Abu Bakar Syatha menambahkan pendapat lainnya bahwa diantara makna al-fattah adalah Allah membuka hati hamba-Nya yang dikehendaki untuk menerima hidayah dan taufiq. Lafaz al-jawwad bermakna sangat banyak kebaikan dan kedermawanan Allah. Istilah ini dalam beberapa literatur seperti kitab at-Tuhfah diidentifikasi tanpa tasydid; “al-jawad” .

Frasa pembuka tersebut mengajarkan bahwa sangat dianjurkan untuk memulai pekerjaan yang ada manfaatnya dengan berharap penuh kepada Allah dengan mensyukuri taufiq yang diberikan sehingga hati tergerak berbuat keaikan seperti yang dicontohkan pengarang dalam usahanya mensyarah Qurratu ‘Ain. Pengharapan itu dilahirkan dengan memuji Allah dengan menyeru nama-nama-Nya yang baik dan mulia.

 

المعين على التفقه في الدين من اختاره من العباد 

Adalah syabah jumlah yang menjadi na’at kembali kepada Allah. Maksudnya, Allah memberi tuntunan kepada hamba yang dikehendaki untuk menggerakkan semua daya upayanya dalam menempuh jalan pembelaan ilmu agama Islam. Kata at-tafaqquhu adalah kalimat sulasiy mazid satu huruf. Sebagai kata dalam bina tafa`ul, maknanya menghendaki nuansa takalluf, yaitu pembebanan. Tersirat dari kalimat tersebut bahwa Allah akan membantu hambanya yang ikhlas untuk menjadi mutafaqqih yang tidak hanya sekedar faqih namun ilmuwan berbudi tinggi yang memiliki integrasi.

Pemahaman mendalam yang dimaksud dengan tafaqquh ini adalah sebuah penalaran dan pemaknaan yang betul-betul rinci, detail dan akurat setelah menempuh pembuktian ilmiyah seacara berangsur angsur. Oleh karena itu tidak ada orang arab mengatakan فقهت أن السماء فوقنا yang berarti “saya paham bahwa langit ada di atas”. Pilihan kata yang lazim digunakan untuk contoh di atas adalah saya tau, bukan saya paham.

Lafaz الدين  maksudnya setiap syariat yang dibawa oleh baginda Rasulullah sebagai hukum, keyakinan dan adab kehidupan.

Potongan teks di atas adalah khutbah pembuka kitab. Itulah kiranya mengapa pengarang merasa perlu mencantumkan ibarat tasyahhud yang seolah-olah mengiyaskannya kepada khuthbah jum’at. Dalam sebagian riwayat disebutkan apabila khutbah tidak tertuang didalamnya ungkapan tasyahhud maka sama dengan tangan yang terpotong. Maksudnya, khutbah kitab ini akan terasa memiliki berkah bila disertakan didalamnya tasyahhud.

Tasyahhud adalah ucapan yang tulus yang keluar dari jiwa dengan penuh kesadaran sebagai pengakuan dan penghambaan diri kepada Zat yang berhak untuk diibadahi. Ia juga bermakna ketundukan terhadap apa saja yang dibawa oleh baginda Rasulullah.

Kemudian Syaikh al-Malibary mengajak pembaca untuk bershalawat kepada baginda Rasulullah karena begitu banyak faidah yang akan diperoleh dan begitu besar manfaat yang dijanjikan Beliau, sebagaimana penggalan hadis sahih dari Imam Bukhariy No. 582:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ: ” أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ يَقُولُ: إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Dari Abdillah bin Amr bin al-‘Ash sesungguhnya beliau pernah mendengar baginda Nabi bersabda : jika kalian mendengarkan seruan mu’azzin, maka jawablah seperti apa yang diserukannya, kemudian bersalawatlah atas aku , maka sesungguhnya siapa saja yang bersalawat atasku satu salawat, Allah akan memuliakannya dengan sepuluh kebaikan.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: