Manusia?!

 

Lagi….

Entah untuk yang keberapa kalinya aku mual melihat tatapan-tatapan yang tertuju ke arahku. Kurasakan langkah kakiku yang awalnya tenang itu kini mulai terasa canggung, bahkan mungkin terlihat aneh. Namun terus kulangkahkan kakiku. Tak ada yang bisa menghentikannya, bahkan perkataan orang-orang itu.

Tak ada yang tahu isi hati dan fikiranku. Tapi aku tahu apa pendapat mereka tentangku. Menyedihkan. Ya, aku juga merasa bahwa diriku menyedihkan.

Ah…!!!! Tahu apa mereka!

Belum lengkap setahun. Saat namaku masih dielu-elukan sebagai sang juara. Prestasiku di sekolah cukup membanggakan. Orang tuaku terlihat bahagia dengan titel juara kelas yang kudapatkan. Orang disekelilingku menganggapku jenius. Namun pernahkan mereka bertanya? Bahagiakah aku?

Tidak. Tidak ada rasa bahagia yang kurasakan. Bahkan ketika ku melihat angka 9 yang mendekati 10 terukir di atas ijazahku. Orang disekelilingku melihat takjub. Namun juga tak sedikit yang melihat iri, tak tertutupi oleh topeng senyum dan perkataan selamat yang mereka ucapkan padaku.

Namun itu cuma cerita masa lalu. Kini tatapan orang-orang itu seolah berubah. Yang mereka lihat adalah aku yang sudah tak bernilai apa-apa. Nilaiku jatuh, harga diriku merasa tercoreng. Kini tak ada orang yang bisa kupanggil teman. Memang dulu aku pernah memiliki orang yang bisa kupanggil teman. Teman yang tertawa bersama. Namun hanya sekedar itu. Aku tak tertawa dari hatiku. Hanya topeng semu yang kupasang. Setidaknya sebelum itu aku pernah benar-benar tertawa dengan mereka dari hatiku. Sampai kini kurasa hatiku mulai perlaham membeku . Dan semuanya berubah.

Aku tak butuh alasan untuk menjawab mengapa nilai ku jatuh. Atau kenapa kini aku seorang diri. Aku tak butuh alasan bagi orang-orang itu untuk mengasihaniku. Aku tak butuh dikasihkani. Aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku cukup kuat untuk berdiri diatas kakiku sendiri, setidaknya untuk sekarang.

“Ada apa denganmu?” tanya guruku mencoba menatap dalam mataku.

Aku menunduk. Dalam hati aku tertawa. Apa yang ia coba cari dalam mataku ini? Sebuah kenyataan pahit yang ia sebut kebenaran? Atau cukup sebuah alasan masuk akal sehingga ia tak dicap guru yang gagal mendidik seorang anak yang berpotensi? Aku hanya tertawa dalam hati.

“Ibu sudah dengar masalah keluargamu” lanjut guru itu karena tak kunjung mendapat jawaban dariku. Mungkin karena ia juga sudah menyerah mencari jawaban dari mataku.

Aku merasakan ekspresi wajahku berubah seketika. Topengku langsung terbuka ketika mendengar perkataannya. Perkataan yang paling tak ingin kudengar dari siapa pun. Termasuk dari guru ini.

Aku juga tahu bahwa keluargaku menyedihkan. Orang tua ku bertengkar setiap hari. Tepat dihadapan anak-anaknya. Mereka saling lempar sindiran terang-terangan dihadapan kami. Kakakku yang paling besar kini jadi pencandu. Ya, aku juga mengerti. Ia hidup lebih lama dan merasakan hal ini lebih lama dariku. Aku rasa aku juga ingin sepertinya. Merasa lepas dan bebas dari semua masalah ini dengan obat-obatan itu. Namun aku belum segila itu. Setidaknya belum segila kakak pertamaku, atau kakak keduaku yang seorang penikmat kehidupan malam.

Ah…!!! Tahu apa guru itu? Tahu apa orang tentang hidupku??

“Tolong jangan berbicara seperti itu tentang keluargaku” ujarku datar pada guru itu.

“Ibu tidak bermaksud untuk mencampuri urusan keluargamu. Tapi jangan sampai masalah dalam keluargamu membuat nilaimu jatuh seperti ini. Ibu tahu kamu anak yang cerdas. Atau apa kamu punya masalah lain?” tanya guru itu. Ia sudah mulai terlihat takut dengan ekspresi dingin yang kini kuperlihatkan padanya. Aku ingin segera menghentikan pembicaraan ini.

Lagi-lagi aku tertawa dalam hati. Apa andilnya mengasihaniku? Mengasihani keluargaku? Aku bahkan tahu bahwa ia akan segera bercerai dengan suaminya. Apa ia merasa lebih hebat dari keluargaku?

Ditambah lagi ia membahas masalah nilai-nilaiku. Peduli apa dengan angka-angka itu? Angka-angka itu tidak memberiku kebahagiaan. Angka-angka itu tidak membuat kehidupanku lebih berarti. Setidaknya aku merasa seperti itu. Aku muak!

“Ibu dengar kamu bertengkar dengan temanmu. Apa kalian sudah baikan?” lanjut guru itu.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hatiku kini mendesakku untuk berteriak kencang. Memaki guru yang kini mulai mengaduk-aduk perasaanku. Apa salahnya jika aku tak memiliki teman? Apa salahnya jika aku sendirian?

“Apa salahnya jika aku tak punya teman?” tanyaku balik. Aku sudah lelah menghadapi orang ini. Aku benar-benar ingin percakapan ini segera selesai.

Lima belas menit kemudian ia mulai menjabarkan segala hal yang ia ketahui tentang kehidupan social. Manusia adalah makhluk sosial. Cih..!!! Siapa yang tidak tahu? Pelajaran anak SD yang terus diulang-ulang setiap tahunnya. Setidaknya guru dihadapanku ini tidak sekedar gelarnya sana sebagai S. Psi.

Aku mendengar setiap perkataannya. Tapi mendengar bukan berarti menyimak. Pemikiranku kini sudah bertualang entah kemana. Imajinasi. Satu-satunya hal yang bisa membuatku masih waras saat ini. Atau mungkin imajinasiku yang berlebihan itu sendiri sudah dianggap sebagai kelainan.

Aku menghela nafas panjang.

Muak.

Akhirnya guru itu menyudahi ceramahnya. Ia mempersilahkanku keluar dari ruangan khusus tempat ia mengintrogasi murid-murid berpotensi masalah sepertiku.

Penghuni sekolah itu lagi-lagi menatapku heran. Ada rasa penasaran, iba, bahkan benci kulihat dari tatapan mata mereka. Tatapan yang membuatku perlahan mulai membenci manusia. Aku membenci manusia. Manusia yang lahir dengan sifat egois, serakah, bahkan kebencian diantara mereka. Aku membenci semua itu.

Beberapa orang yang berjalan melihatku lama. Aku mengangkat kepalaku, ingin menatap balik. Aku tak ingin orang-orang menganggapku lemah. Namun alangkah terkejutnya aku saat orang yang dulu sempat kupanggil teman itu berada di hadapanku. Tatapan benci campur iba mereka terlihat jelas terarah padaku. Namun aku tak berujar apa-apa. Mereka tahu semua tentang diriku. Namun kini mereka berbalik  melawan kearahku. Orang yang paling tidak ingin kulihat. Orang yang paling tidak ingin aku melihat tatapan iba dari mata mereka. Kumohon tolong hentikan semua ini! Aku tak tahu sampai kapan aku masih bisa tetap waras mengalami ini semua.

Tiba-tiba saja seorang guru yang menerima telefon menatapku cemas. Ia mendekatiku dengan wajah kasihan campur takut. Tangannya sedikit bergetar memegang pundakku. Dengan terbata-bata ia menyampaikan setiap kalimat yang ingin ia ucapkan. Cukup lama bagi otakku untuk mencerna maksudnya. Orang tuaku kecelakan dan sedang dirawat dirumah sakit.

Aku tak tahu kenapa. Tapi kini aku tertawa. Tertawa lepas dengan air yang mulai mengalir dari mataku. Orang-orang disekelilingku menatapku heran. Beberapa orang bahkan mulai menjauh. Aku merasa bahagia dan sedih disaat yang bersamaan.

Aku bahagia kini orang tuaku tidak perlu bertengkar dihadapanku. Aku senang mereka tidak perlu mempermasalahakan kehidupan sekolahku. Namun aku cukup sedih. Kenapa? Kenapa mereka tidak langsung mati?

Aku termangu. Kenapa aku bisa berfikiran seperti itu? Kupeluk erat diriku sendiri. Semua permasalahanku seolah hilang. Semuanya tergantikan oleh satu pertanyaan. Apa aku masih bisa dianggap manusia?

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: