Mari Ajarkan (kembali) Aksara Arab-Melayu

Dulu, pada masa kecilnya, generasi 90-an di kampung-kampung di Minangkabau telah diajarkan membaca Al-Quran, bersama-sama dengan anak sebaya. Kurikulumnya dimulai dari IQRA. Setelah tamat, baru dilanjutkan kepada teks Al-Quran secara langsung. Masa belajarnya dimulai semenjak taman kanak-kanak, di TPA di sore hari, dan di mesjid/surau pada malam hari. Hasilnya, lulus SD kami sudah bisa membaca Al-Quran. Mungkin tidak lancar atau masih keliru di sana-sini jika dinilai menggunakan tajwid tingkat lanjutan. Akan tetapi, paling tidak kami sudah cenderung benar dalam pengucapan huruf hija’iyyah dengan akurasi yang cukup.

Belakangan saya sering menemui generasi 2000-an yang tidak lagi mampu membaca Al-Quran. Pada tahun 2012, saya terlibat secara langsung mengajarkan anak lulusan SD membaca Al-Quran di tingkat Tsanawiyah. Saya menemukan banyak lulusan SD yang tidak mengenal huruf hija’iyyah. Bahkan, remaja/pemuda dengan usia yang lebih matang pun tidak mampu membaca huruf demi huruf dalam akurasi makhraj yang cukup.

Pagi ini, saya membaca sebuah artikel di Journal of Qur’anic Studies yang membahas terjemahan Al-Quran di wilayah Barat Afrika. Dalam artikel tersebut, sang penulis menyebutkan bahwa penggunaan Roman-based alphabet merupakan salah satu cara untuk memberikan pengaruh global pada masa kolonialisasi. Ia menjelaskan dinamika yang terjadi terkait Arab-based script dan Roman-based script dalam konteks penerjemahan Al-Quran di wilayah Barat Afrika, dimana masyarakat asli berbicara Bahasa Yoruba.

Dari itu, saya teringat akan sesuatu hal.

Saat ini tulisan latin telah menguasai dunia literasi Indonesia. Ukuran seseorang bisa disebut tuna aksara atau sebaliknya melek huruf diukur dengan aksara latin. Segala hal menggunakan tulisan latin; administrasi pemerintahan, poster dan iklan di pinggir jalan, pendidikan formal dan non-formal, dan sebagainya. Tidak ada lagi agaknya sudut negeri yang kita jumpai di Indonesia yang tidak menggunakan aksara latin.

Meskipun begitu, sebenarnya sejarah literasi Barat Afrika sebagaimana disampaikan di atas bukanlah hal yang asing di Indonesia. Pada masa kolonialisme Belanda, dunia literasi di bumi Nusantara terbilang minim. Beberapa wilayah memiliki aksara kunonya masing-masing, seperti Jawa maupun Minangkabau. Belanda lah yang memperkenalkan aksara latin. Mereka mengajarkan pribumi tulis-menulis untuk kebutuhan administrasi pemerintahan penjajah.

Namun begitu, di samping aksara kuno yang dimiliki beberapa bahasa daerah, satu jenis aksara lagi populer pada abad ke 19-20. Kita menyebutnya aksara Arab-Melayu. Pegon, kata orang Jawa. Mungkin Arab-based script yang digunakan masyarakat Yoruba di Barat Afrika sama kasusnya dengan Arab-Melayu di Indonesia. Bentuk huruf dan abjadnya berasal dari tulisan Arab, akan tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa lokal.

Ketika saya masih menempuh pendidikan dasar, baik di SD maupun TPA, saya masih mendapatkan materi tentang Arab-Melayu ini. Saya masih ingat dulu, Arab-Melayu dimasukkan ke mata pelajaran Muatan Lokal bersama BAM (Budaya Alam Minangkabau) atau menjadi salah satu materi dalam PAI. Ketika itu, kami diajarkan bagaimana menuliskan Bahasa Indonesia menggunakan tulisan Arab. Hurufnya identik dengan huruf hija’iyyah. Perbedaan kecil hanya ada pada beberapa konsonan seperti c, g, atau diphthong ‘ng’-‘ny’ dan sebagainya.

Sayangnya, anak-anak sekolahan saat ini tidak lagi diajarkan materi Arab-Melayu; entah sejak kapan. Barangkali ketika itu pemangku kebijakan merasa materi ini tidak lagi dibutuhkan karena literasi Indonesia semakin didominasi oleh huruf latin. Akibatnya, mereka mencabut materi ini dari kurikulum. Akan tetapi, kebijakan tersebut menyisakan sebuah permasalahan yang mungkin saja ketika itu tidak terpikirkan; anak-anak atau remaja kehilangan salah satu instrumen penting yang bisa mendekatkan mereka dengan huruf hija’iyyah. Semenjak itu pula lah mengajarkan baca Al-Quran kepada mereka menjadi lebih sulit.

Baca-tulis Arab-Melayu pastinya bukanlah baca-tulis Bahasa Arab. Baca-tulis Arab-Melayu juga tidak bisa dikategorikan kepada membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran dinilai sebagai ritual ibadah, tidak demikian dengan Arab-Melayu. Tapi sungguhpun demikian, Arab-Melayu menggunakan huruf hija’iyyah. Belajar Arab-Melayu secara tidak langsung membantu pengajaran membaca Al-Quran. Itulah mengapa generasi yang tidak belajar Arab-Melayu kehilangan salah satu instrumen penting dalam pendidikan membaca Al-Quran.

Jika anak-anak SD generasi 1990-an sudah bisa membaca Al-Quran, maka itu salah satunya karena mereka juga diakrabkan dengan huruf hija’iyyah melalui Arab-Melayu. Maka, jika generasi saat ini dalam usia yang lebih dewasa masih begitu sulit untuk bisa membaca Al-Quran, itu karena intensitas kedekatan mereka dengan huruf hija’iyyah telah berkurang dengan menghilangnya materi baca-tulis Arab-Melayu.

Dengan demikian, sangat sah untuk mengatakan bahwa kesulitan anak-anak generasi sekarang dalam mempelajari baca-tulis Al-Quran juga menjadi tanggung jawab pemegang kebijakan yang dahulunya menghapuskan Arab-Melayu. Apa yang kita dapati hari ini adalah hasil dari masa lampau. Tanpa mengabaikan penyebab-penyebab lainnya seperti lingkungan, budaya pop, media, atau rendahnya komitmen terhadap pendidikan Al-Quran, pencabutan Arab-Melayu juga memainkan perannya dalam hal ini.

Kesulitan dalam pengajaran baca-tulisa Al-Quran bukanlah satu-satunya masalah yang muncul karena tak adanya pengajaran baca-tulis Arab-Melayu. Ketidakmampuan Arab-Melayu juga menutup akses generasi saat ini untuk membahami sejarah dan identitasnya. Jika kita telisik dokumen-dokumen sejarah yang ditulis penduduk lokal pada abad 19 atau awal abad 20, kita akan menyaksikan lembaran-lembaran yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu. Datanglah ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padang Panjang. Di sana, Anda akan melihat arsip dokumen-dokumen masa lampau yang tertulis dengan aksara Arab-Melayu. Dokumen-dokumen tersebut menyimpan rekaman jejak intelektual dan sejarah. Tanpa kemampuan membaca Arab-Melayu, mustahil kekayaan intelektual pendahulu kita tersebut bisa dipelajari dan dikembangkan.

Itulah side effect hilangnya pengajaran Arab-Melayu di sekolah-sekolah. Generasi saat ini kehilangan instrumen penting dalam pengenalan huruf hija’iyyah dan membaca Al-Quran. Di sisi lain, mereka buta terhadap sejarah lokal; mereka tidak memiliki kesadaran sejarah. Tidak banyak yang mengenal tokoh dan ulama yang berpengaruh di Minangkabau pada masa pra-kemerdekaan. Untuk menanggulangi kedua problem itu, marilah kembali ajarkan aksara Arab-Melayu kepada generasi penerus kita.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: