HomeArtikelMari Kaya Bersama

Mari Kaya Bersama

Artikel Motivasi 1 0 likes 12 views share

Tulisan ini bertujuan untuk menggugah kembali kesadaran kita sebagai manusia. Pada hakikatnya, manusia diutus Allah sebagai khalifah yang selalu mengabdi kepada Allah. Saya tidak perlu mengeluarkan dalil-dalil berbasis ayat ataupun hadits, karena kita semua sudah pernah melihat, membaca, bahkan mempelajarinya. Namun, menurut saya banyak muslim yang terjebak dalam pemahaman yang keliru apabila dikaitkan antara agama dengan ekonomi. Saya sangat sedih dan merasa bahwa seolah-olah kita selalu memisahkan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Padahal keduanya merupakan satu kesatuan utuh ibarat dua sisi mata uang. Genggamlah duniamu untuk akhiratmu! Sudah sangat jelas bahwa dunia yang kita cari adalah bekal menghadapi akhirat kelak yang lebih abadi.

Allah sudah memberikan karunia yang sangat besar di alam semesta ini. Betapa suburnya negeri ini, sehingga bisa bercocok tanam dan menghasilkan sesuatu yang bisa untuk dimakan, Betapa banyaknya sumberdaya yang bisa diolah dan diperjualbelikan. Sangat jelas pernyataan Allah dalam Al-Quran bahwa sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Apa makna yang terkadung disini? Menurut pandangan saya, Allah memberikan pintu untuk manusia menjadi kaya. Allah sangat mendukung, bahkan sampai melegitimasi dengan jelas, bahwa dengan jual beli Anda berhak untuk mendapatkan rejeki dan anugerah Allah. Namun, jual beli seperti apa yang dimaksudkan di sini? Tentu jual beli yang sudah terjamin halal dan baiknya. Halal zatnya, halal produknya, dan halal caranya serta baik untuk manusia.

Sejarah mencatat bahwa nabi-nabi Allah berniaga dalam kehidupan sehari-harinya. Kenapa mereka berniaga? Karena sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia butuh makan dan menghidupi dirinya sendiri. Nabi Daud adalah seorang pandai besi. Beliau mampu menjahit dan menciptakan sebuah baju besi yang apik dan bagus dan kemudian diperjualbelikan. Baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga seorang pedagang ulung yang mampu membuat seorang janda kaya terketuk hatinya (hidayah Allah) menjadi pendamping Rasululullah. Beliau adalah contoh dan panutan kita yang sesempurna manusia di buka bumi ini, sehingga Beliau mendapatkan tempat sebagai kekasih Allah.

Salah satu sunnah Rasulullah adalah mengajak umatnya untuk berniaga, sebagaimana pernah beliau sampaikan bahwa perniagaan  adalah pintu rezeki di dunia. Pintu rezeki ini memilki peluang 90% dibanding usaha kita yang lainnya. Pesan ini sangat lugas dan jelas bahwa dengan berniaga maka peluang untuk mendapatkan anugerah Allah sangat besar. Artinya secara teori kemungkinan untuk mendapatkan rezeki yang banyak sangatlah besar.

Kita sering diingatkan bahwa kehidupan dunia tidak dibawa mati. Sehingga sering kali terlontar ucapan Buat apa harta yang banyak toh juga tidak akan kita bawa mati? Buat apa mobil, rumah bagus, baju yang banyak, sepatu yang banyak, emas? Buat apa? Dan banyak lagi “buat apa” lainnya yang selalu menjerumuskan pola pikir kita ke dalam pemahaman yang dangkal. Kita juga sering diingatkan, seperti ayo perbanyak shalat! ayo tahajjud! ayo dhuha! ayo mengaji! dan ayo beribadah! Karena ini yang akan kita bawa ke akhirat.

Tapi, tunggu dulu! Pemahaman singkat beginilah yang akhirnya menjadikan muslim memilih untuk hidup secukupnya saja. Sederhana aja sudah cukup, begini saja sudah cukup, tidak perlu bersusah payah mencari rejeki, tidak perlu bersusah payah mencari harta yang banyak, tidak perlu bersusah payah mencari rumah yang lebih baik, tidak perlu mencari kendaraan yang lebih nyaman, tidak perlu mencari sekolah yang lebih baik, tidak perlu mencari dokter terbaik. Tidak perlu ini dan tidak perlu yang lainnya. Sehingga ini menjadi legitimasi kemalasan dan kebodohan yang akut.

Baca juga:  Kids Jaman Now dan Daya Kritis yang Tergerus

Ingatlah kawan, Allah menciptakan kita sebagai manusia dengan berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda-beda. Allah sudah menjanjikan semua anugrah yang ada dimuka bumi untuk kita, sehingga kita harus menjaga, mengolah, dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berjanji bahwa apabila kamu bekerja dengan baik dan bersusah payah maka akan diberikan ganjaran yang baik pula dan anugrah yang banyak. Ingatlah kawan! Buat apa anugerah yang banyak di dunia ini kalau tidak dieksplorasi dengan maksimal dan dimanfaatkan, dijadikan sebagai alat bagi kita untuk saling tolong, saling mengisi, dan pengajaran satu sama lain?

Saya nyatakan dengan tegas, ayo kita menjadi kaya! Ayo kita susah payah untuk kaya! Ayo kita kaya bersama dengan cara-cara yang halal dan baik! Ayo kita kayakan diri kita, kita kayakan keluarga kita, kita kayakan orang-orang disekitar kita, kita kayakan orang-orang yang terlibat membantu kita menjadi kaya! Kita kaya kita harus berbagi, kita kaya kita harus berzakat, kita kaya kita harus memberikan sumbangsih infratstruktur buat umat.

Apakah Anda masih ingat zaman kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq? Saat itu, sangat susah mencari orang miskin karena semua sadar bahwa jika mereka kaya maka mereka bisa berderma. Sehingga, semua berlomba-lomba memampukan diri mereka karena ingin menjadi penderma. Betapa hebatnya negeri itu pada masa itu. Tidak ada kemiskinan, tidak ada kemelaratan. Semua bekerja keras untuk menghidupi diri mereka sendiri dengan harapan tidak mendapatkan sedekah. Karena mereka memahami bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Betapa mulianya Islam. Janganlah kita jadikan islam ini “hina” karena pola pikir kita yang sempit dan mengotakkan pemahaman yang keliru terhadap islam.

Menjadi kaya adalah “berakhlak mulia” sesuai tuntunan Rasulullah. Anda belum kaya apabila rumah bagus, kendaraan bagus, uang berlimpah, namun karyawan Anda, keluarga terdekat dan orang-orang di lingkungan Anda masih ada yang belum bisa makan dan berada dalam garis kemiskinan. Anda bukanlah orang yang kaya ketika sudah memberikan sumbangan ke mesjid dan panti-panti, namun lupa dengan karyawan yang Anda gaji di bawah standar kehidupan yang layak. Karena merekalah yang ikut berkontribusi terhadap kekayaanmu, ikut berdoa supaya mereka bisa mendapatkan gaji darimu sehingga usahamu berjalan dengan baik.

Akhlak yang mulia bagi seorang yang “kaya” adalah ketika Anda kaya, karyawan Anda sudah mendapatkan gaji yang layak, Anda mau berbagi dengan keluarga, Anda mau berzakat dengan disiplin, bersedekah sebanyak-banyak untuk umat, merasa tidak nyaman tidurnya ketika masih mendengar tangisan tetangga yang masih kekurangan, merasa terpanggil hatinya untuk selalu menyisihkan kekyaannnya untuk kaum dhuafa.

Kita sebagai umat Islam yang yakin dengan keberadaan Allah dan rasulnya kadang terlupa. Kita hanya sebatas percaya namun belum yakin. Karena ketika kita yakin dengan Allah, maka kita akan berbuat semaksimal mungkin. Mengkayakan diri adalah sebuah “jihad” di sisi Allah. Kedudukan jihad ini sama seperti pergi ke medan perang karena kita ingin mempertahankan diri kita, keluarga kita, dan umat disekitar kita.

Seringkali kita marah dan heran kenapa banyak umat Islam yang berpindah agama hanya karena sebungkus Ind*mi, sejumlah uang, dan “bantuan” lain. Di sisi lain, kita lebih sering mementingkan diri sendiri. Kenapa saya berkata demikian? Karena faktanya begitu. Kita terjebak dengan pemahaman yang singkat. “Tidak usah ngoyo mencari dunia, terima saja apa adanya, yang ada saja sudah cukup dan di syukuri yang penting keluarga saya bisa makan dan berkecukupan”. Nah, ini sebuah penyakit “individualisme akut” karena salah dalam memahami konsep Islam. Kita hanya terpaku untuk mementingkan diri sendiri tanpa mau terlibat memikirkan orang lain.

Baca juga:  Selamat Milad Kedua Surau Parabek

Jadi, Islam mengajarkan bahwa dunia dan akhirat itu sejalan, maka jadikan duniamu sebagai media untuk menguatkan akhiratmu. Faktanya, hidup di dunia memerlukan kekayaan atau harta. Dengan kata lain, hidup ini berkaitan dengan uang. Jadi, ayo kita kejar kekayaan, ayo ngoyo menjadi kaya. Tapi ingat, kaya bukan untuk diri sendiri, kaya bukan bermegah-megah, kaya bukan untuk keluarga sendiri, kaya bukan untuk sekedar menyumbang ke mesjid-mesjid untuk popularitas. Tapi kaya itu untuk semua, kekayaan itu harus dirasakan manfaatnya oleh semua orang yang berada di sekitar kita.

Ayo kaya bersama! Kaya bersama adalah anda memberikan upah yang melebihi kelayakan bagi karyawan anda. Kaya bersama adalah, Anda menyisihkan buat keluarga inti dan keluarga besar anda. Kaya bersama adalah Anda menyisihkan harta untuk memberikan kesejahteraan guru-guru agama dan guru ngaji. Kaya bersama adalah Anda selalu menyisihkan sedekah untuk kaum dhuafa. Kaya bersama adalah Anda menyisihkan harta untuk anak yatim piatu, kaya bersama adalah anda menyisihkan harta untuk para pejuang ilmu fisabilillah yang berjuang keluar dari jurang kebodohan pikir. Kaya bersama adalah Anda menganggap harta bukanlah untuk ditonjolkan dan gaya-gayaan. Kaya bersama adalah Anda masih siap untuk berperilaku hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan.

Rumus kaya = harta berlimpah – biaya gaji karyawan yang di atas kelayakan – biaya rumah tangga (nafkah istri dan anak) – pemberian pengabdian kepada orang tua dan saudara-sedekah dan zakat – hutang.

Rumus kaya = Harta berlimpah + prilaku sederhana + suka berderma + mengabdi kepada orang tua + sedih apabila ada tetangga yang masih miskin + ibadah mahdhah rajin + yakin kepada Allah.

Kawan, mari kita renungkan lagi. Tarik nafas dalam-dalam dan refleksikan sejenak. Lihatlah dunia ini. Lihatlah fakta di dunia ini. Lihatlah betapa kita sangat sedih melihat banyaknya masyarakat Islam yang miskin. Terjebak menjadi penadah sedekah. Apa yang terjadi? Apa yang salah? Kenapa semangat umat zaman Abu Bakar sebegitu dahsyatnya untuk berlomba-lomba memampukan dirinya sendiri?

Kawan, mari kita renungkan lagi. Kenapa saya ingin mengajak kaya bersama? Karena jangan sampai kita berpikiran sempit. Sekolah butuh uang, ke rumah sakit butuh uang, pergi menjenguk orang tua butuh uang, beli baju butuh uang, bepergian kemana-mana butuh uang. Apabila suaudara kita sakit parah, apakah mereka butuh uang? Ketika sudara kita mau menyekolahkan anaknya, apakah mereka butuh uang? Ketika saudara kita ditinggal mati suaminya, apakah mereka butuh uang?

Maka siapa yang akan menolong? Siapa yang akan membantu? Jangan berikan ruang untuk orang lain membantu keluarga kita, saudara kita bahkan saudara seiman kita. Jangan selalu menyalahkan orang lain, sedangkan diri kita sendiri yang berkutat dengan rasa malas, kebodohan akut, dan pola pikir sempit.

Kaya bersama akhirnya adalah mengajak masuk surga bersama. Jangan menjadi umat yang individualis, hanya memikirkan keselamatan sendiri namun menyalahkan orang lain karena ketidakmampuan anda sendiri. Di akhirat, betul-lah bahwa setiap individu akan dipertanyakan dan bertanggungjawab secara pribadi. Namun, keikhlasan Anda untuk menjadi kaya dan berbagi dengan sesama akan menjadi bekal tambahan suatu saat di akhirat kelak.

Islam itu rahmat bagi sekalian alam, maka mari kita menjadi rahmat untuk alam. Islam itu mencintai kebersamaan (jamaah), maka mari kita galakkan kaya bersama dengan bangunan akhlak yang mulia.

Walllaahu a’lam bishawab.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *