Masihkah Surau Peninggalan Harimau Nan Salapan Mengusung Gerakan Perubahan?

Awal terjadinya Paderi di Minangkabau adalah akibat terjadinya dekadensi dan demoralisasi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Gerakan ini di awali dengan menghentikan kegiatan judi, menyabung ayam, madat yang mendapatkan sokongan penuh ninik mamak pada waktu itu.

Gerakan perubahan ini yang berujung dengan terjadinya perang yang cukup panjang telah melahirkan kesepakatan bahwa “adat bersandikan syara’ dan syara’ bersandikan kitabullah.
Zaman telah berganti, musim telah bertukar. Telah berlapis terjadi pergantian generasi sejak dari masa itu.

Namun, jejak langkah Surau-Surau peninggalan dari pejuang yang meneruskan perjuangan Paderi ini masih ada. Sebutlah misalnya, Surau Jambatan Basi yang kini berkembang dengan Perguruan Thawalib Padang Panjang dan Surau Parabek yang hari ini berkembang menjadi Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Begitu juga dengan beberapa surau lainnya.

Kedua pendiri lembaga ini dikenal dengan sebutan Harimau Salapan yang ke dua setelah Harimau Salapan yang pertama sebagai pelaku sejarah dari gerakan Paderi itu sendiri. Tantangan yang mereka hadapi jauh lebih berat dibandingkan dengan generasi Paderi awal.

Selain urusan keagamaan dan menjaga ummat ini terus untuk konsisten dalam memegang teguh ajaran Islam, para tokoh-tokoh itu dihadapkan dengan persoalan pemerintahan Belanda yang tertancap kokoh mengatur negeri ini.

Mulai berkembangnya beberapa idiologi dan masuknya beberapa aliran sempalan menjadi tantangan yang cukup berat dihadapi pada saat itu. Menariknya, di Ranah Minang tidak satupun lembaga pendidikan yang didirikan oleh Harimau Salapan yang ke dua itu diwariskan kepada anak cucu atau ahli warisnya.

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (1)

Lembaga-lembaga tersebut terus hidup dan bertahan karena anak-anak idiologis mereka yang terus melanjutkan perjuangan lembaga pendidikannya sebagai pencetak kader-kader Ulama di tengah masyarakat.

Salah satu lembaga pendidikan dari Harimau Salapanke dua yang masih eksis itu adalah Perguruan Sumatera Thawalib Parabek yang berubah menajadi Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dan kini dikenal dengan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek. Perguruan ini berhasil melewati beberapa fase sulit sejak ditinggalkan oleh Syekh Ibrahim Moesa sebagai pendirinya setelah lima puluh empat tahun yang lalu.

Telah banyak alumni yang dilahirkan dan tersebar di pelosok negeri ini bahkan sampai manca negara.
Banyak prestasi di bidang akademik yang telah dicapai lembaga ini. Lulusan yang dihasilkannya tidak hanya semata masuk ke perguruan tinggi agama saja.

Sudah menyebar di berbagai perguruan tinggi ternama umum lainnya. Dari sisi bangunan, perguruan ini telah menjadi sebuah kampus pendidikan yang modern. Tidak dijumpai lagi bangunan lama. Rata seluruh bangunan sudah bangunan berlantai tiga, begitu juga dengan asrama tempat siswanya.

Keberhasilannya memadukan kemajuan tekhnologi membuat ia tetap menjadi sebuah perguruan yang unggul. Keberhasilan ini tentu saja perlu mendapatkan apresiasi yang mendalam. Pertanyaannya sekarang adalah apakah keberhasilan-keberhasilan tersebut masih mengusung misi utama dari didirikannya lembaga ini?

Peran dari Surau yang didirikan oleh para Syekh ini dulunya mengambil peran sebagai sebuah institusi yang bergerak dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Tentu saja setidaknya hal ini bisa dijadikan indikator untuk mengukur masihkah surau itu sekarang menjalankan misinya.

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (2)

Indikator kedua tentu harus dilakukan penelitian sejauh mana berpengaruhnya institusi ini ditengah masyarakat dalam lingkaran terkecil sampai kepada lingkaran yang lebih besar. Meningkatnya jumlah Siswa yang belajar di Madrasah ini setidaknya memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi masyarakat yang ada disekitarnya. Dimana ada gula, semutpun akan berdatangan. Namun nilai positif itu akan diringi oleh dampak social lainnya.

Beberapa waktu yang lalu, obrolan di lapau, penulis menemukan informasi adanya julo-julo Batak yang beredar dilingkungan luar Madrasah ini. Praktek ribawi tersebut telah berlansung bertahun-tahun. Belumlah lagi peredaran ganja yang merupakan bahagian dari narkotika. Banyak problematika sosial lainnya yang muncul.

Hal inilah setidaknya sedikit menggelitik untuk dipertanyakan masihkah Madrasah ini menjalan misinya seperti yang dilaksanakan oleh pendirinya atau hanya menjadi menara gading ditengah-tengah masyarakat yang terus bergerak dengan dinamikanya?. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: