HomePojok MadrasahOpiniMasjid Parabek dan Karangan Syekh Ibrahim Musa

Masjid Parabek dan Karangan Syekh Ibrahim Musa

Opini Pojok Madrasah 0 0 likes 17 views share

 

Hampir dua tahun rasanya tak menginjakkan kaki, mengirup udara segar perdesaan di ranah tercinta. Masih sangat terngiang elok alamnya dan indah panoramanya yang diapit dua gunung Marapi dan Singgalang. Ditambah lagi dengan alamnya yang super cantik dengan adanya Bukit Barisan yang mengelilinginya. Ya itulah kampungku Parabek namanya.

Kalau menceritakan indah dan eloknya alam Parabek rasanya tak cukuplah dalam untaian-untaian kata yang sangat singkat ini. Ada hal yang cukup menarik yang ingin saya utarakan ditinjau dari keilmuan yang sedang saya tempuh di perguruan tinggi ini. Yang pertama, pantaskah Masjid Jami’ Parabek (dimana saya sering berdiri karena Mukhaliful Lughah kala sekolah dulu) dijadikan cagar budaya bagi Kecamatan Banuhampu atau Kabupaten Agam bahkan Provinsi Sumatera Barat? Yang kedua, apakah layak karangan Inyiak Kito Basamo Syaikh Ibrahim Musa Parabek dimasukkan ke EAP (Endangered Archives Programme)?

Sebelum menelisik dan meraba-raba permasalahan cagar budaya, kita lihat dulu Masjid Jami’ Parabek itu sendiri; bagaimana keadaannya sekarang dan apa cerita sejarahnya.

Masjid Jami’ Parabek adalah masjid yang dibangun pada tahun 1908 oleh Syekh Ibrahim Musa. Sudah sangat tua. Ia menempati urutan ketiga tertua yang masih berdiri hingga saat ini di Kecamatan Banuhampu setelah Masjid Raya Kubang Putih (1810 M), dan Masjid Raya Taluak di Nagari Taluak Ampek Suku (1870 M).

Masjid ini memadukan arsitektur keminangkabauan dan kenusantaraan. Arsitekturnya tidak menggunakan besi dan paku.  Tiga berundaknya seperti bagunan keagamaan pra-modern. Konon, menurut carita mulut ke mulut, arsitektur Masjid ini mendapatkan pujian dari Soekarno. Sebagai seorang insinyur, ia mengagumi bangunan tiang yang kokoh meskipun tanpa besi tersebut.

Adapun unsur-unsur modernitasnya terletak pada kubahnya. Keberadaan kubah ini, dalam pandangan saya, menjadikan Masjid Jami` Parabek sebagai masjid modern pertama di Minangkabau.

Lalu, apakah pantas masjid ini dicagarbudayakan?

Menurut saya, masjid Jami’ Parabek sangat pantas untuk dijadikan cagarbudaya. Ia telah  memenuhi kriteria yang termaktub dalam Undang Undang Cagar Budaya, yaitu berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Hanya saja,  dari 120 pasal yang terdapat dalam undang-undang cagar budaya tahun 2010 tersebut pemugaran Masjid Jami` saat ini akan menjadi kendala. Hal ini lantaran, pada pasal 77 ayat 2 poin (a) dan (b) yang disebutkan “pemugaran cagar budaya harus memerhatikan keaslian bentuk, tata letak, gaya, dan pemugaran harus memerhatikan kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin.”

Masjid Parabek merupakan peninggalan Syaikh Ibrahim Musa berbentuk bangunan yang masih dijaga sampai detik ini. Lantas, bagaimana dengan tulisannya?

Adanya sejarah adalah karena tulisan. Dengan demikian, bagaimana jika tulisan Syekh Ibrahim Musa hanya berada di lemari di pustaka dengan penggunaan yang sangat minim? Bahkan, ketika saya masih mengenyam pendidikan di sana dulu, kitab tersebut tidak diajarkan kepada para santri. Ah Sungguh sangat disayangkan, sekolah indah, bangunan menawan, yang melahirkan ulama-ulama masa depan tapi “hampir” meninggalkan karangan Syaikhnya.

Coba lihat dalam karangannya Karel A. Steenbrink yang berjudul “Pesantren, Madrasah, Sekolah: Recente Ontwikkelingen in Indonesisch Islam Onderricht” termaktub nama Madrasah Sumatera Thawalib dan Syaikh Ibrahim Musa beberapa kali. Karangan Syaikh Ibrahim Musa seyogyanya mencakup keilmuan Fiqih, Balaghah, Tauhid, dan lain-lain.

Bisakah karya Syekh Ibrahim Musa dimasukkan ke EAP? Apa itu AEP? Apa gunanya EAP? Kenapa  EAP?.

EAP atau Endangered Archives Programme adalah satu wadah yang terjun dalam dunia pernaskahan yang dianggap naskahnya yang terancam. Gunanya EAP adalah untuk mendigitalisasikan naskah-naskah. Dengan itulah naskah tersebut bisa terjaga.

Beberapa minggu yang lalu saya menulis sebuah tulisan yang saya kirimkan ke Prof. Oman Fathurrahman. Ia adalah pakar yang saat ini concern dalam bidang pernaskahan. Email saya beliau balas seperti ini, “saya agaknya tidak tahu apa yang bisa dilakukan di sana untuk menyelamatkannya, karena saya tak mengetahui situasinya. Tapi apabila kondisinya terlantar coba hubungi EAP di British Library”.

Dengan demikian, pertanyaannya kembali kepada kita keluarga Sumatera Thawalib Parabek, yang mewarisi segelintir ilmu dan semangat beliau. Bagaimanakah kondisi karya Syekh Ibrahim Musa sekarang? Apakah ia “terlantar”? Dalam pikiran saya, Iya. Kedua buku karangan beliau cukup terlantar. Bukan hanya dari segi perawatannya, tapi terlantar dari segi khazanah keilmuan dan pemikiran Syaikhnya.

Saya ingat kata seorang guru saya dulu, ilmu dibilang ilmu apabila diajarkan. Sama halnya karya Syaikh Ibrahim Musa dibilang ilmu apabila dipelajari. Saya hanya bisa berkata kasihan ilmu Syaikh hanya jadi santapan rayap bukan menjadi santapan otak yang haus akan keilmuan.[]

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *