Mata Rantai Inyiak Parabek: Kemana dan Bagaimana?

Pasca wafatnya Syaikh Khatib Muzakkir rahimahullah (Inyiak Katik), Ponpes Sumatera Thawalib Parabek untuk pertama kalinya harus menghadapi kenyataan pahit ditinggal oleh Syaikh al-Madrasah yang mempunyai ranji sanad langsung pada Inyiak Syaikh Ibrahim Musa. Inyiak Katik adalah murid terakhir Syaikh Ibrahim Musa yang masih mengabdikan diri di Parabek setelah ditinggal wafat Syaikh Abdul Ghafar, Syaikh Imam Suar rahimahumullah, dan lain-lain.

Dengan demikian, mulai saat ini, Sumatera Thawalib dikelola dan dibesarkan oleh generasi ketiga. Mereka adalah generasi yang secara personal tidak bertemu dengan Syaikh Ibrahim Musa Parabek, namun menerima ilmu langsung dari murid-murid beliau. Jika diibaratkan dalam periwayatan hadis, maka hampir bisa disamakan dengan thabaqat tabi’in.

Selayaknya pondok pesantren yang punya Syaikh al-Madrasah sebagai penjaga warisan, lambang eksistensi dan simbol kebesaran pesantren, Parabek hari ini harus mengakui bahwa belum sepenuhnya ada yang mampu menggantikan kefiguran Inyiak Khatib Muzakkir. Ditambah dengan minimnya guru penerus yang mempunyai kepakaran selevel beliau. Ya, seperti diketahui, Inyiak katik adalah “kamusnya” Nahwu-Sharaf, Master di bidang Fiqh, pakar dalam Manthiq, fashih dalam Balaghah. Kondisi ini mengantarkan Parabek kepada sebuah dilema. Tanggung jawab dan beban menjaga tradisi serta dzauq Inyiak parabek kini dibebankan pada alumni-alumni yang rentang usianya masih sangat muda. Siapkah Parabek?

Parabek yang telah berdiri sejak 1910 (atau 1908?) sebenarnya memiliki sumber daya alumni yang melimpah. Banyak alumni Parabek yang menjadi bagian penting dalam pemerintahan, dunia pendidikan tinggi, wirausaha dan sebagainya. Sayangnya, hanya segelintir yang mengabdikan diri menjaga tradisi dan warisan Sumatera Thawalib Parabek. Syaikh al-Madrasah yang ada saat ini angkanya sangat minim. Sebut saja buya Deswandi, Ust. Zakiar Asman, Ust. Masrur Syahar, Datuk Adlim, dan Ust. Taufik Suar. Para Syaikh al-Madrasah tersebut dengan kepakarannya masing-masing masih belum mampu memenuhi kebutuhan pesantren jika dibandingkan dengan kuantitas santri yang ada sekarang. Kebutuhan akan guru-guru yang menjaga orisinalitas warisan Inyiak parabek semakin terasa jika salah satu Syaikh al-Madrasah berhalangan atau sakit.

Ini tantangan besar. Tahun 2016 kegamangan besar telah terasa. Bagaiamana dengan tahun 2020, 2025, dan seterusnya? Akankah sekolah ini kehilangan legacy-nya? Akankah identitas inner dan dzauq yang diturunkan oleh Syaikh Ibrahim Musa terputus? Jika itu yang terjadi, tiada guna sejarah panjang madrasah ini; tiada layak madrasah ini memajang nama Pondok Pesantren!

Oleh karena itu, Parabek memutar otak memikirkan penjaga warisan para Syuyukh. Beberapa alumni telah merasakan kegamangan ini. Dalam diskusi-diskusi yang berkembang, muncul beberapa ide, tawaran usulan kepada pihak stakeholder. Pertama, diperlukan upaya untuk memaksimalkan peran sumber daya alumni yang pada saat ini mengabdi di Parabek. Caranya, beban mengajar dan kewajiban administrasi mereka dikurangi. Kemudian, mereka difasilitasi untuk berhalaqah dengan guru-Syaikh al-Madrasah. Dalam istilah lain, mampadalam kaji. Sejujurnya, belum ada yang mampu menandingi kepakaran Ust. Masrur dalam Balaghah, atau Ust. Deswandi dalam Ushul Fiqh dan Tasawuf. Namun jika ilmu beliau tidak ditransfer secara masif, maka kekhawatiran akan kegamangan pasca Inyiak katik akan terjadi lagi.

Kedua, pihak Yayasan memiliki kebijakan tentang kepegawaian guru, yaitu setiap guru di Parabek harus mengabdikan waktunya penuh bagi Madrasah ini. Tidak dibolehkan beraktifitas di luar pada jam kerja Madrasah. Sebagai catatan, jam kerja adalah dari pukul 7.30 pagi hingga 15.00 sore. Nyaris tidak ada kesempatan untuk berkarya di luar sekolah. Artinya, guru Madrasah beraktifitas penuh di sana, enam hari dalam seminggu.

Kebijakan ini perlu dilonggarkan. Dengan demikian, alumni-alumni potensial yang secara intelektual, kultur, dan emosi terbentuk di Parabek, yang saat ini berkiprah di sejumlah bidang, bisa dipanggil untuk mengabdi di Madrasah ini. Manyilau sakola agak sahari-duo hari dalam saminggu. Di lingkungan Bukittinggi-Agam saja, tidak terbilang banyak alumni Parabek yang menjadi tokoh, pakar dan pegiat pendidikan. Sebut saja Dr. Ismail Novel, Irna Andriyati, Drs. Bachtiar Tanjung (Pak BT), Dr. Arsal, dan lain-lain di IAIN Bukittinggi; Arif Zun Zulmaizal di Batusangkar, Asrul, MA di Lubuk Basung, Drs. Asra Faber di Kamang, Dr. Zaim Rais, Dr. Riki Saputra di Padang, dan masih banyak lagi. Tenaga mereka sejatinya bisa digunakan untuk meneruskan warisan Syaikh Ibrahim Musa.

Ini adalah tentang intelektualitas, kultur dan dzauq Ponpes Sumatera Thawalib Parabek yang telah dan tetap harus dipertahankan. Tanpa mengurangi rasa hormat pada guru-guru lain yang bukan alumni Sumatera Thawalib namun sebenarnya juga mempunyai kapasitas keilmuan yang melimpah, wacana ini tetap urgent. Ini tentang tradisi intelektual tradisional Sumatera Thawalib yang diwariskan turun temurun dari guru ke murid, dari Inyiak parabek ke Inyiak Gafar, Inyiak Ibrahim, Inyiak Katik, Inyiak Imam Suar, dan kini pada Buya Deswandi, Ust. Ilham.

Apakah kita memiliki kegelisahan yang sama?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: