Mau Menikah?; Baca Ini!

Pernah mendengar “1000 Hari Pertama Kehidupan”?

Istilah 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sepertinya tidak asing lagi di kalangan masyarakat umum. 1000 HPK adalah hasil penjumlahan dari masa kehamilan (9 bulan = 9x 30 hari = 270 hari) ditambah usia dua tahun (2×365 hari = 730 hari) yang merupakan masa keemasan untuk percepatan pertumbuhan anak. Pada periode ini sangat bagus untuk membentuk anak yang cerdas, proporsional, berdaya saing, dan berkualitas sebagai aset masa depan. Di masa keemasan ini alangkah baiknya jika dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Janin memiliki sifat plastisitas (fleksibelitas) pada periode perkembangan. Janin akan menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi pada ibunya, termasuk asupan nutrisi si ibu. Jika nutrisi ibu selama kehamilan baik, maka perkembangan janin akan baik, jika asupan nutrisi kurang, maka perkembangan janin menjadi terhambat, karena di masa ini janin sangat butuh gizi yang seimbang dan cukup. Asupan yang kurang akan disesuaikan oleh janin, sel-sel pertumbuhannya akan berkurang akibatnya terjadi pengecilan organ tubuh termasuk perkembangan otak.

Sayangnya hal ini berlaku permanen. Begitupun pasca persalinan. Dua tahun setelah persalinan masih merupakan periode perkembangan bayi. Asupannya perlu dijaga dan diperhatikan. Karena jika dibiarkan pada periode ini, maka efek yang terjadi adalah jangka panjang. Bisa jadi yang terhambat adalah perkembangan otaknya, maka masalah yang timbul adalah hambatan pertumbuhan kognitif sehingga kurang cerdas dan kompetitif. Bisa juga yang terjadi adalah timbulnya masalah penyakit kronis ataupun penyakit tidak menular tergantung organ yang terganggu selama menjadi janin. Jika jantung, maka akan beresiko mempunyai penyakit jantung setelah dewasa, atau jika pankreas maka beresiko terkena diabetes, dan sebagainya.

Masalah gizi masih merupakan masalah yang serius di dunia, tetapi paling sedikit mendapat perhatian. Maka dari itu, seharusnya masyarakat bersama-sama memperhatikan masalah gizi ini. Karena kesehatan ditunjang oleh asupan gizi yang baik. Masalah penyakit degeneratif (tidak menular) seperti jantung, stroke, hipertensi, kanker, dll masih merupakan masalah terbesar di Indonesia. Begitupun dengan penyakit menular ataupun infeksi.

Karena dimulai dari hari pertama kehidupan, maka yang harus diperhatikan adalah gizi sang ibu. Bagi perempuan, harus ada perhatian khusus mengenai asupan gizi. Alangkah baiknya dimulai sejak dini. Apalagi sebelum menikah. Setelah menikah, umumnya wanita akan merencanakan kehamilan. Jika status gizinya sebelum menikah sudah baik, dan mampu mempertahankan status tersebut, maka diharapkan ketika si ibu hamil status gizinya dalam keadaan yang baik.

Hal yang harus diperhatikan adalah asupan gizi wanita di masa remaja. Remaja putri yang telah mengalami menstruasi beresiko mengalami anemia atau kurang darah. Anemia ini jika tidak segera diatasi akan bertahan hingga ia menikah dan punya anak. Maka sebaiknya remaja putri banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti daging merah, sayuran hijau, dan sebagainya. Untuk mempertahankan status gizi remaja putri, alangkah baiknya tidak melupakan aktifitas fisik seperti olahraga. Asupan yang baik selama remaja juga akan menyokong status gizi yang baik. Selain anemia, remaja putri juga rentan mengalami Kurang Energi Kronis (KEK). Untuk mengatasi KEK ini remaja putri harus memperhatikan makanan yang dikonsumsinya, yaitu sesuai dengan gizi seimbang ; lengkap karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

Pada saat ingin merencanakan kehamilan, wanita yang sudah menikah sebaiknya memeriksakan kesehatannya. Karena kehamilan benar-benar harus diinginkan dan direncanakan dengan baik. Salah satunya memastikan bahwa wanita tersebut tidak KEK. Untuk menentukan seorang wanita tidak KEK, indikator yang digunakan adalah mengukur Lingkar Lengan Atas (LiLA) pada lengan bagian kiri. Jika ukuran LiLA di bawah 23,5 cm maka wanita tersebut mengalami KEK. Itu artinya wanita ini tidak disarankan hamil. Jadi yang harus dilakukan adalah menambah asupan makanan yang bergizi dan kontrol secara rutin. Setelah LiLA mencapai minimal 23,5 cm barulah boleh merencanakan kehamilan. Wanita yang ingin hamil sebaiknya juga terhindar dari anemia.

Tidak salah bahwa wanita merupakan penentu status gizi bangsa. Karena jika wanita hamil dalam status gizi yang baik, maka janin nya juga berstatus baik dan akhirnya akan melahirkan anak yang berstatus gizi baik. Jika semua wanita menyadari hal ini, maka diharapkan di masa yang akan datang akan terlahir anak-anak bangsa yang berstatus gizi baik. Tetapi, selain wanita itu sendiri, keluarga besar juga harus memperhatikan dan mendukung hal ini, terlebih suami. Peran suami sangat diperlukan untuk menyempurnakannya.

Untuk itu, perlu persiapan yang matang bagi wanita khusunya sebelum menikah. Persiapan kesehatan ini sebaiknya dilakukan 16 minggu sebelum menikah. Jadi, pernikahan benar-benar harus direncanakan dengan baik, terlebih kehamilan. Karena apa yang dikonsumsi wanita selama kehamilan menjadi makanan janin dalam rahim. Para ahli gizi sepakat bahwa faktor genetik bukan penentu mutlak keadaan tubuh anak. Bahwa asupan makanan terutama asupan gizilah yang menentukan keadaan tubuh anak, apakah anak tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik, atau mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Jadi, sudah siapkah untuk menikah, Sist? Jangan lupa cek status gizi, ya. Salam sehat.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: