Membumikan Nilai Isra’-Mi’raj

Tanggal 5 Mei 2016 bersamaan dengan 27 Rajab 1437 yang berarti hari umat Islam memperingati peristiwa Isra’-Mi’raj.  Peristiwa ini menandai keberangkatan Nabi Muhammad dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa, lalu kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha. Secara akal sehat, peristiwa tersebut adalah hal yang mustahil. Akan tetapi, kejadian-kejadian di dalam kehidupan tidak selalu mengikuti hukum rasional, akan tetapi  juga hukum supra-rasional.
Sifatnya yang supra-rasional pada akhirnya membawa umat Islam kepada pemaknaan Isra’-Mi’raj yang terbatas pada pengungkapan sisi ajaib dari persitiwa ini saja. Peringatan Isra’-Mi’raj selalu diisi dengan riwayat tentang rekaman perjalanan Nabi. Rekaman tersebut menginformasikan apa saja dan siapa saja yang ditemui oleh Rasulullah. Bahkan juga ada upaya untuk menjelaskan secara rinci kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah. Bisa kita lihat, bahwa peringatan Isra’-Mi’raj sangat melangit dan kehilangan relevansinya terhadap pelajaran praktis Muslim untuk hidup di dunia.
Tentu saja Isra’-Mi’raj bukan hanya dimaksudkan supaya umat Muslim mengingat-ingat sisi ajaib dari peristiwa itu semata. Lebih dari itu, Muslim harus menyadari dan mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.

Lantas, apakah pelajaran lain yang bisa kita pahami dari Isra’ Mi’raj? Isra’-Mi’raj mengajarkan umat Muslim untuk memiliki mental pendobrak. Begini penjelasannya. Allah memberikan mu’jizat bagi setiap Nabi/Rasul sesuai dengan kondisi zamannya. Nabi Musa diberi mu’jizat tongkat yang menjadi ular di hadapan umatnya yang dekat dengan sihir. Nabi Isa diberi mu’jizat kemampuan menyembuhkan penyakit dan menghidupkan orang mati di depan umatnya yang andal dalam praktik pengobatan. Nabi Muhammad diberi mu’jizat berupa Alquran dengan kekuatan sastra yang tinggi di hadapan penduduk Makkah yang memuja-muja sya’ir sekaligus penyairnya. Karena itulah semua itu bisa menjadi mu’jizat. Dengan berbekal sesuatu yang dipuja masyarakat, dan ternyata memiliki kekuatan dan nilai yang lebih tinggi, para Nabi mampu melemahkan perlawanan mereka; sebagai catatan arti kata mu’jizat adalah melemahkan.

Jika demikian, apakah Alquran diterima oleh masyarakat Makkah? Tidak dipungkiri lagi, masyarakat Makkah sangat terkagum dengan Alquran. Kisah masuknya Umar bin Khattab adalah informasi paling bagus mengenai hal ini. Pada sisi lain, proses turunnya Alquran juga sangat masuk akal bagi mereka. Alquran diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur. Artinya, proses turunnya Alquran adalah proses penerimaan wahyu dari Zat yang ghaib kepada manusia. Pola seperti ini juga sudah sangat dikenal di tanah Arab. Mereka meyakini beberapa orang dengan kualitas tertentu mampu berbicara kepada jin dan mendapatkan informasi darinya; mereka lah yang disebut sebagai penyair ketika itu. Dengan pola yang masuk akal bagi mereka serta nilai dan kekuatan sastra yang sangat mengagumkan, mereka tidak bisa menolak keistimewaan Alquran. Mereka bahkan ditantang untuk membuat satu ayat seperti Alquran, akan tetapi kesalutan mereka terhadap Alquran membuat kemampuan bersya’ir mereka rendah di hadapan Alquran.

Jika Alquran dengan kehebatannya masih memiliki pola yang familiar bagi penduduk Makkah, tidak demikian dengan Isra’-Mi’raj. Bahkan bagi mereka yang mempercayai kekuatan jin yang mampu mencuri informasi dari langit pun, peristiwa Isra’-Mi’raj adalah hal yang tidak mungkin. Kultur dan pola pikir mereka tidak bisa menerima pengakuan Nabi Muhammad bahwa ia telah ber-isra’ dan ber-mi’raj. Kontroversi pun muncul. Dalam peliknya kontroversi, muncullah Abu Bakar. “Jika Nabi Muhammad yang berbicara, maka saya percaya!” demikian lebih kurang kata Abu Bakar. Oleh sebab itulah ia digelari al-Shiddiq.

Begitulah penolakan masyarakat Arab terhadap Isra’-Mi’raj. Akan tetapi, Nabi Muhamad dan Abu Bakar memiliki mental pendobrak. Peristiwa ini menjadi bukti ketangguhan mereka. Jika dikaitkan dengan peristiwa kerasulan Muhammad, ayat yang pertama turun berbunyi Iqra’ (bacalah!). Tentu saja perintah tersebut tidak untuk membaca Alquran, karena Alquran masih baru akan turun ketika itu. Ayat tersebut merupakan jawaban uzlah Rasulullah melihat problem sosial masyarakatnya yang demikian pelik. Maka, ayat itu merupakan pembuka mata Rasulullah; “bacalah masyarakatmu, hal ihwal mereka, dan bagaimana menghadapinya untuk menciptakan kehidupan yang lebih beradab!”. Artinya, peristiwa kerasulan Nabi Muhammad adalah dorongan mental pertama Rasulullah untuk turun gunung mengatasi problem kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya, Isra’-Mi’raj memperlihatkan bahwa orang yang bermental pendobrak dan bermental baja lah yang mampu menjalaninya dengan baik. Dan terbukti, hanya dalam 23 tahun menjalani revolusi, Nabi Muhammad telah menjadi orang yang paling berpengaruh sepanjang masa.

Kesimpulannya, kesadaran sosial dan mental yang kuat adalah dua hal yang sangat penting dalam menata kehidupan. Setiap zaman memiliki problemnya masing-masing, dan setiap era memiliki tokoh-tokoh besarnya masing-masing. Orang yang bisa menjadi tokoh besar adalah orang yang memiliki kesadaran sosial dan memiliki mental pendobrak. Kesadaran sosial membawanya untuk mengidentifikasi problem-problem yang ada di hadapannya dan mental pendobrak menguatkannya untuk memperbaikinya. Isra’-Mi’raj bukan hanya tentang keajaiban ghaib yang melangit dan motivasi untuk shalat. Isra’-Mi’raj juga menyimpan pelajaran yang membumi, yaitu sebagai tantangan untuk menjadi orang yang memiliki kesadaran sosial dan mental pendobrak.[]

sebelumnya diterbitkan di Catatan Fadhli

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: