Memperkenalkan UIN Jogja kepada Ust. Khalid Basalamah

Beberapa hari ini, saya kembali melihat video ceramah Ust. Basalamah yang menceritakan beberapa hal tentang masyarakat Jogja dan UIN Jogja. Kali ini saya hanya hendak mendiskusikan klaim-klaim beliau tentang UIN Jogja. Di samping itu, saya ingin pula memberikan informasi-informasi pengimbang, yang saya sarikan kembali dari esai yang pernah saya tulis dulu.

Cerita ust. Basalah bermulai dari pengalaman buruk (yang berbuah manis, barangkali) yang beliau hadapi ketika mendaftar di UIN Sunan Kalijaga. Singkatnya, beliau ditolak di sana.  Sungguh, peristiwa ini tidak boleh terjadi, dan pihak yang bilang “antum tak cocok kuliah di sini” kepada Ust. Basalamah itu telah berlebihan dan menyalahi wewenangnya. Karena, setahu saya, UIN Sunan Kalijaga tidak membatasi mahasiswanya selain melalui seleksi ujian masuk. Tidak secara ideologis seperti yang diceritakan oleh Ust. Basalamah. Dari pengalaman ini, maka Ust. Basalamah adalah pihak yang dirugikan.

Ust. Basalamah lalu mengaitkan perlakuan yang ia dapatkan dengan JIL. Pandangan ini juga tidak sepenuhnya tepat, bahkan menggambarkan pandangan awam yang begitu saja melekatkan label-label JIL, liberal, Syi`ah, Komunis, dan sebagainya, kepada figur-figur yang tidak mereka senangi.

JIL adalah organisasi yang dibentuk dan berkantor di Utan Kayu di Jakarta. Jadi, ia adalah lembaga, dan tentu saja batasannya jelas. JIL dan liberal itu sendiri berbeda. JIL adalah lembaga yang menganut cara berpikir liberal, dan liberal adalah cara pikir yang digunakan oleh JIL. Ada orang yang condong kepada liberalisme tapi tidak bergabung dengan JIL dan tidak semua orang yang menggunakan pola fikir liberal adalah JIL.

Adakah dosen UIN Jogja yang anggota JIL? Setahu saya, tidak ada dosen UIN Jogja yang beraktifitas di Utan Kayu sana. Lalu, apakah dosen di UIN Jogja ada yang memiliki pola pikir liberal? Ada. Akan tetapi, sepemahaman saya, banyak dosen-dosen di UIN Sunan Kalijaga yang saya kenal menolak dan mengkritisi istilah ini. Hal itu karena meskipun di beberapa bagian mungkin ada kesamaan pendapat mereka dengan suara-suara yang disampaikan oleh JIL, tapi jangan diabaikan pula kritik-kritik terhadap JIL juga tidak jarang kita dengar di sana. Satu hal lagi yang perlu digaris bawahi, dosen-dosen di UIN Jogja tidak homogen. Di sana ada dosen dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Ada pakar studi Islam yang ditempa di dalam negeri, ada yang Timur Tengah, ada yang di Barat, dan ada pula yang campuran. Tentang mengapa belajar Islam ke Barat bisa dibaca di sini dan di sini .

Ketika berbicara tentang JIL, Ust. Basalamah mengaitkannya dengan kampus McGill. “[Orang-orang JIL] dasarnya, perlu teman-teman tahu, dibentuk oleh orang-orang Orientalis dari Kanada. Orientalis ini adalah istilah, bagi non-Muslim, Yahudi dan Nasrani (kebanyakan Nasrani) dibiayai oleh gereja membuat kampus namanya McGill di Kanada, yang mereka memang tugasnya mencari kelemahan Islam.” lebih kurang demikian Ust. Basalamah.

Pandangan ini adalah campuran antara kesalahpahaman dan imajinasi dari sang Ustaz. McGill adalah kampus tertua di Montreal Kanada. Kampus ini berkembang dari sekolahan yang dirintis oleh James McGill, seorang pedagang yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan. Di akhir abad 18, ketika ia datang ke Kanada, ia resah karena tidak ada sama sekali sekolah untuk anak-anak. Jelas, sebagaimana kampus-kampus lainnya, McGill membawa misi pendidikan secara umum, bukan misi yang bernada konspiratif yang disampaikan oleh Ust. Basalamah.

Ust. Basalamah juga keliru memahami istilah orientalis. Orient berarti bintang timur. Orientalisme adalah cabang ilmu yang mengkaji tentang orang-orang Timur, meliputi budaya, sejarah, filsafat, ekonomi, politik, dan juga agama; dan orientalis adalah pengkajinya. Timur itu sangat luas. Ada banyak yang dikaji dalam bidang ini: Cina, India, Asia Tengah, Timur Tengah, dan seterusnya. Dalam konteks agama, mereka kemudian berhadapan dengan agama-agama masyarakat di belahan dunia tersebut. Jika di Cina mereka akan membahas Konghucu dan Tao, jika di Jepang membahas Shinto, di India mereka membahas Hindu, Budha, Shikh, dsb, dan negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara, mereka akan berjumpa dengan Islam. Dari sana lah mereka mempelajari Islam. Jadi, kembali, bukan dalam nada konspiratif seperti yang Ust. Basalamah sampaikan.

Terkait Islam, orientalisme sendiri mempunyai sejarah yang panjang dan rumit. Bahwasanya dalam sejarah tersebut muncul kajian-kajian yang tidak sejalan dengan keyakinan Muslim, itu benar dan ada. Akan tetapi, pemahaman para orientalis tentang Islam berkembang. Pada perkembangan terakhir, para orientalis mengkaji Islam berdasarkan apa yang dikatakan Muslim tentang agamanya.

Ust. Basalamah juga menyebut, dengan nada miring, bahwa pendeta diundang untuk mengajar Kristen. Benarkah? Benar. Terutama di Fakultas Ushuluddin, ada jurusan Perbandingan Agama. Mahasiswa di jurusan ini mempelajari semua agama. Ada pula jurusan Ilmu Al-Quran. Salah satu matakuliahnya adalah kitab agama-agama. Jadi, para mahasiswa diberi pengenalan tentang kitab suci agama lainnya. Jadi, bukan hanya pendeta yang diundang untuk mengajar kepada mahasiswa-mahasiswa ini, tetapi juga pemuka agama Hindu atau Budha.

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Benar pula kata Ust. Basalamah, hal itu ditujukan supaya para mahasiswa mendengar tentang ajaran Kristen dari sudut pandang penganutnya (dan Hindu juga, dan Budha juga, dan begitu seterusnya). Tapi satu hal yang mungkin Ust. Basalamah tidak tahu, bahwa pendeta Kristen juga ada yang belajar di UIN Sunan Kalijaga. Ini merupakan bentuk dialog antar agama, supaya saling mengerti persamaan dan perbedaan masing-masing, dan bagaimana menyikapi hal tersebut untuk menghindari dan mengatasi konflik. Jelas, di bagian ini, orientasi studinya bukan teologis, tetapi kehidupan dan kedamaian dalam lingkungan Indonesia.

Ketika menyinggung tentang pastor ini, Ust. Basalamah menyebutkan suatu hal yang sangat konyol. “Pastor diundang, alasannya untuk belajar dari sumbernya langsung. Padahal kalau belajar Al-Quran, tidak dari Ulama.” Jadi menurut Ust. Basalamah mahasiswa Ushuluddin, Syari`ah, Tarbiah, Dakwah, dll di UIN itu kalau belajar Al-Quran dan Hadis tidak kepada ulama? Mungkin saya tidak perlu mengomentari ini.

Untuk mengimbangi pengalaman dan cerita dari Ust. Basalamah, marilah kita sama-sama juga membaca pengalaman dan cerita dari saya.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa di UIN Jogja banyak terdapat penghafal Al-Quran. Tidak jauh dari kampus ini, ada sejumlah pondok pesantren mahasiswa seperti al-Munawwir, Wahid Hasyim, dan sebagainya. Tidak sedikit mahasiswa UIN yang siangnya belajar di kampus, malamnya menyetorkan hafalan Quran mereka di pondok pesantren ini, bahkan hingga qira’ah sab’ah.  Kampus ini juga memiliki UKM al-Mizan. Di sana terdapat banyak orang-orang yang menghafal, melantunkan Al-Quran dengan merdu, dan menuliskan kaligrafi yang indah memukau.

Beberapa tahun yang lalu, Bapak Muhammad Yusuf, mantan Kajur Tafsir Hadis (saat ini dipisah jadi dua jurusan IAT dan ILHA) UIN Sunan Kalijaga duduk bercengkrama bersama beberapa orang bekas didikan beliau. Saya juga di dalamnya. Ketika ia menceritakan tentang permulaan jalur khusus Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) untuk jurusan TH. Ia mengajukan proposal kepada rektor ketika itu, Amin Abdullah (salah satu tokoh liberal di Indonesia). Pak rektor bertanya, apa bedanya TH jalur PBSB ini dari TH yang lainnya? Bapak Yusuf mengemukakan 12 perbedaan, salah satunya kewajiban menghafal 10 Juz Al-Quran. Ternyata pola pikir liberal yang dimiliki sang Rektor tidak menghalanginya untuk menyetujui program ini. Program ini dimulai sejak tahun 2007, hingga saat ini masih berjalan dengan indeks prestasi yang terus menanjak.

Sejak tahun 2007 itu, muncul banyak hafiz Al-Quran 30 Juz. Tentu saja juga ada mahasiswa yang kewalahan. Suatu ketika, sekumpulan mahasiswa yang kewalahan ini mengajukan protes untuk menghapus kewajiban menghafal Al-Quran. Protes mereka tidak disetujui. Siapakah yang menolak? Curi-curi dengar, ternyata orangnya adalah Sahiron Syamsuddin. Pernah dengar nama ini? Jika Anda pelajar Al-Quran Anda akan tau bahwa dia adalah seorang figur utama dalam studi hermeneutika Al-Quran di Indonesia. Jika Budi Munawwar Rahman menobatkan Amin Abdullah sebagai pakar hermeneutika Al-Quran di Indonesia, bagi saya, Sahiron Syamsuddin lebih hermeneutis daripada Amin Abdullah. Jika kita hadir dalam kuliah atau seminar yang disampaikan oleh Sahiron Syamsuddin ini, kita tidak akan jarang mendengar ia menyatakan, “saya belajar hermeneutika, dan iman saya bertambah dengannya, tidak benar hermeneutika menjadikan orang menjauhi Al-Quran.”

Kira-kira dua tahun yang lalu, beredar headline di media-media online sebagai berikut: “Ulil ternyata shalat.” Saya berpikir, sejauh itukah propaganda anti liberalisme membentuk opini publik? Tidak bisa dipungkiri, pemikiran para liberalis menyulut kontroversi. Akan tetapi, itu hal yang biasa saja. Setiap kepala punya rambut sendiri-sendiri. Tapi bukan berarti lantas semua itu diidentikkan dengan anti shalat atau baca Quran. Ini ternyata berkaitan dengan tulisan Ulil di halaman website Islam Liberal tentang shalat. Belakangan bahkan ia mengadakan pesantren virtual melalui akun facebook dengan membaca kitab Ihyā` Ulūm al-Dīn karangan Imam al-Ghazali. Sebagai catatan tambahan. Suatu ketika, dalam perjalanan dari Jogja-Lamongan, salah seorang dosen UIN Sunan Kalijaga, Ahmad Baedowi, bercerita. Ia mendengar dari seorang teman dekat dari Ulil, katanya, Ulil adalah seorang yang mendawamkan shalat dhuha.

Melompat ke tahun 2012, dalam acara penyambutan mahasiswa pascasarjana baru di UIN Sunan Kalijaga. Ketika itu, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Khoiruddin Nasution, memberikan sejumlah kiat-kiat sukses untuk mahasiswa baru. Salah satu kalimatnya yang paling saya ingat waktu itu adalah, “hari gini mahasiswa pasca tidak punya publikasi makalah, malu!!!” Bukan hanya itu, ia juga menceritakan kisah sukses dirinya. Menurutnya, ketika ia menjadi calon penerima beasiswa kuliah di luar negeri, ia adalah orang yang paling bodoh dan memiliki bahasa Inggris paling jelek. Tapi, di akhir seleksi, ialah yang lulus pada urutan pertama. Ia meyakini bahwa itu merupakan buah dari tahajjud yang ia rutinkan. Lantas, ia menyarankan kepada semua mahasiswa baru ketika itu. “Kalian juga harus tahajjud kalau mau sukses!”

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Saya ingin menyebut satu nama lainnya. Yudian Wahyudi. Nama terakhir ini cukup nyentrik. Dalam sebuah bedah buku, Moderator ketika itu, Ahmad Rafiq, menyebut, “jika kalian dengar ceramahnya pak Yudian tapi kuping kalian tidak panas, itu sungguh terlalu!” Mengapa demikian. Karena Yudian Wahyudi adalah orang yang paling pintar menyombongkan dirinya. Ia begitu bangga menjadi orang Indonesia yang mendapatkan gelar professor di Harvard. Begitulah caranya memotivasi para mahasiswanya. Ia juga mengajarkan kiat suksesnya. Selain membaca dan menulis, kiat suksesnya ada di shalat hajat. “Jika kalian ingin sukses, tunaikan shalat hajat.“

Beberapa hal yang saya ceritakan di atas hanyalah secuil sisi lain yang jarang dibicarakan tentang UIN. Saya sangat memahami ini, karena bad news is good news. Peristiwa pelecehan terhadap Al-Quran adalah badnews. Oleh sebab itu, ia akan menjadi good news, berita yang layak disebarkan, berita yang pasti akan dibaca semua orang. Ketika UIN memiliki penghafal Al-Quran, itu adalah hal lumrah. Jadi percuma membicarakannya, jadi tidak perlu diberitakan. Imbasnya, masyarakat yang nun jauh di sana hanya tau UIN memiliki mahasiswa yang menghina Al-Quran. Sebaliknya, mereka tidak tahu bahwa di UIN ada penghafal Al-Quran. Begitu juga, masyarakat hanya tau Ulil, Amin Abdullah, atau Sahiron Syamsuddin memiliki pemikiran yang kontroversial, ditambah aksi nyentrik mahasiswa yang caper dengan spanduk semacam Tuhan Membusuk. Tapi mereka tidak tahu bahwa para dosen dan mahasiswa UIN Jogja adalah orang-orang yang menjalankan Ibadah dengan dengan baik.

Dari cerita di atas, saya harap kita bisa mengambil kesimpulan terkait cerita Ust. Basalamah, bahwa di UIN Jogja, mahasiswa yang shalat itu diolok-olok. “Kamu masih shalat ya? Kasian, ya?” begitu cerita beliau. Jujur saja, kita, saya, dan siapapun pasti pernah ngegodain teman yang sedang shalat. Digelitik kakinya, dibisikin kupingnya, dan macam-macam. Bukan untuk meremehkan atau menjustifikasi hal tersebut, candaan-candaan semacam itu tidaklah dalam arti menolak shalat.

Tentang survey Internasional tentang Freesex? Bagi saya, ini aneh dan meragukan. Secara umum, ini terdengar seperti berita kabar burung, yang tidak jelas asal usulnya. Beliau tidak menyebut lembaga yang melakukan survey. Sebagai orang yang ketat dengan hadis, tentu ini sikap yang tidak konsisten dari Ust. Basalamah. ‘Survey Internasional, tentang freesex?’ Really? Jika itu dilakukan lembaga seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan semacamnya, itu masuk akal. Tapi survey internasional? Bagaimana pula sebuah survey bisa disebut internasional? Saya berupaya mencarinya lewat google, tapi tidak ketemu.

Yang ada, surveynya Iip Wijayanto, yang lebih kurang 1 dekade lalu menggemparkan orang-orang, karena mengklaim 90an persen mahasiswi di Jogja tidak perawan lagi. Telah banyak kritik terhadap penelitian ini terkait validitas dan metodenya. Memang benar, permasalahan ini adalah problem besar. Akan tetapi, menceritakannya dalam konteks Jogja, UIN, JIL, dan seterusnya membuat seolah-olah ini adalah masalah unik di sekitaran dan dikarenakan UIN Jogja. Tentu saja, lagi-lagi, saya tidak hendak meremehkan masalah ini. Akan tetapi mengasosiasikannya dengan UIN dan Jogja adalah salah kaprah.

Terkait perawan-dan-tidak-perawan mahasiswi UIN Jogja ini, 2 atau 3 tahun yang lalu, juga muncul klaim dari ‘riset’ abal-abal yang menyebut 70 persen mahasiswi UIN Jogja tidak perawan lagi. Jika terkait mahasiswa Pascasarjana UIN Jogja, saya membenarkan. 70 persen atau barangkali lebih, mahasiswinya TIDAK LAGI PERAWAN. Bahkan, sebagiannya telah punya satu atau dua anak :-).

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: