Mengaji Fathul Mu`in #3

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

(وَبَعْدُ) أَيْ بَعْدَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ وَالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى مَنْ ذُكِرَ (فَهَذَا) الْمُؤَلَّفُ الْحَاضِرُ ذِهْنًا (مُخْتَصَرٌ)

قَلَّ لَفْظُهُ وَكَثُرَ مَعْنَاهُ مِنَ الْإخْتِصَارِ, (فِي الْفِقْهِ) هُوَ لُغَةً : الْفَهْمُ. وَاصْطِلَاحًا : الْعِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ. وَاسْتِمْدَادُهُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالْقِيَاسِ . وَفَائِدَتُهُ إِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ. (عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ) الْمُجْتَهِدِ أَبِى عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدٍ اِبْنِ إِدْرِيْسَ (الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى) وَرَضِيَ عَنْهُ. أَيْ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مِنَ الْأَحْكَامِ فِي الْمَسَائِلِ. وَإِدْرِيْسُ وَالِدَهُ , هُوَ إِبْنُ عَبَّاسِ بْنُ عُثْمَانَ بْنُ شَافِعٍ بْنُ السَّائِبِ بْنُ عُبَيْدِ بْنُ عَبْدِ بْنُ يَزِيْدِ بْنُ هَاشِمِ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِّبِ بْنُ عَبْدِ مَنَافٍ. وَشَافِعٌ, هُوَ الَّذِيْ يُنْسَبُ إِلَيْهِ اْلإِمَامُ . وَأَسْلَمَ هُوَ وَأَبُوْهُ السَّائِبُ يَوْمَ بَدْرٍ. وَوُلِدَ إِمَامُنَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَنَةَ خَمْسِيْنَ وَمِائَةٍ وَتُوُفِّيَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَلَخَ رجب سَنَةَ أَرْبَعٍ وَمِائَتَيْنِ.

Dengan (menyebut) nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. [Dan berikutnya] yaitu setelah pengarang menyebut basmalah, hamdalah dan salawat untuk Rasulullah, ahlu bait beliau dan sahabat-sahabantnya, [maka tulisan ini] yang sudah hadir di hati pengarang [adalah sebuah mukhtashar/ringkasan] pendek yang singkat kata-katanya namun bernas isinya (kata mukhtasar itu terambil dari fi’il madhi ikhtashara yang masdarnya ikhtishar), [(yang berbicara) mengenai ilmu Fiqh], Fiqh secara bahasa adalah faham, sedangkan menurut Istilah adalah “Ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang dapat diterapkan secara amaliy atas tindak-tanduk seorang hamba, yang berdasarkan (ilmu tersebut) kepada petunjuk syara’ yang terperinci. Ilmu Fiqh dasarnya adalah al-Qur’an, As-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas. Adapun faidahnya adalah mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya.

(Ilmu Fiqh yang diajarkan dalam kitab ini) [mengikuti mazhab Imam] mujtahid Abu Abdillah Muhammad bin idris [asy-Syafi’iy semoga Allah merahmati dan merestui beliau]. Lebih tegasnya (kajian Fiqh) dalam kitab ini menganut konsep Imam Syafi’iy dalam pendekatan menetapkan hukum atas masalah-masalah yang muncul. Idris adalah nama ayah beliau, putra Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththallib bin abdi Manaf. Syafi’ adalah kakek beliau dimana kepadanya lah bahwa Imam Muhamamd bin Idris adalah ketrurunannya, Ia (Syafi’) dan ayahnya masuk Islam ketika perang Badar. Imam kita Asy-Syafi’iy terlahir pada tahu 150 Hijriyah dan wafat pada hari Jum’at akhir bulan rajab tahun 204 Hijriyah.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Telah banyak sekali faedah ilmu yang dituliskan oleh para ulama mengenai tafsir dan pemaknaan basmalah, hingga dengan itu tidak menambah kemuliaan basmalah namun kemuliaan merekalah yang bertambah. Semata mata mempelajari, mendalami dan memaknai basmalah, hampir semua pengarang kitab syarah menjabarkan basmalah dengan pendekatan yang berbeda namun tetap saja belum mengungkap semua rahasia dibalik basmalah. diriwayatkan dari sahabat Rasulullah sekaligus sepupu Beliau, Khalifah ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu :

لَوْ طُوّيَتْ لِي وِسَادَةٌ لَقُلْتُ فِي الْبَاءِ مِنْ بِسْمِ اللهِ الرحمنِ الرحيمِ وَقْرَ سَبعِينَ بَعِيرًا

“andaikan sandaran bantal dilipat untukku sungguh aku akan tafsirkan ma’na huruf Ba’ dalam ungkapan bismillahirrahmaanirrahiim sebanyak yang mampu dipikul oleh tujuh puluh ekor unta” (Sayyid Abu Bakar Syatha, I’anah ath-Thalibin )

Kata andaikan sandaran bantal dilipat untukku adalah kinayah akan lamanya sebuah pekerjaan.

Membaca basmalah menjadi wajib hukumnya apabila dalam shalat ketika membaca surat al-Fatihah karena ia ayat pertama dalam surat al-Fatihah, (mengenai ini akan dijelaskan dalam penjelasan teks tentang rukun qauliy dalam shalat Insyaallah).

Membaca basmalah disunatkan menjelang melakukan sebuah perbuatan baik, seperti akan berwudhu’, memulai pelajaran, mengerjakan sebuah proyek, dan hal lainnya yang mengandung manfaat dan kebaikan. Ia menjadi haram dibaca ketika seseorang terlena akan melakukan perbuatan salah dan maksiat.

Pengarang mengajarkan pembaca bahwa ia memulai perkerjaannya mensyarah kitab Qurratul ‘Ain dengan basmalah juga setelah sebelumnya memuji Allah dan bershalawat untuk baginda Rasulullah, untuk mengharap keberkahan dan kasih sayang Allah, karena sebagai seorang muslim wajib diyakini bahwa setiap pengkhabaran dari Rasulullah adalah benar dan niscaya tepat serta berlaku.

Rasulullah SAW bersabda dari ’Aisyah ummul mukminin :

من قرأ بسم الله الرحمن الرحيم موقنا سبحت معه الجبال إلا أنه لا يسمع ذالك منها

“Siapa saja yang mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim dalam keadaan berkeyakinan kuat, gunung-gunungpun ikut bertasbih bersamanya hanyasaja ia tidak mendengarkan tasbih mereka” (hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan ad-Dailamiy)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم ” كلّ أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع”

Dari abu Hurairah semoga Allah meredhainya ia berkata ; telah bersabda Rasulullah SAW “ setiap perkara penting bila tidak dumulai dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim maka ia akan sia sia” (Hadits riwayat Khathib al-Baghdadiy No.1236, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawiy)

Hadis di atas derjatnya shahih li ghairihi. Pada awalnya ia hasan, akan tetapi diperkuat dengan 6 syawahid yakni jalur riwayat an-Nasa’i, Abdurrazaaq ash-Shan’aniy, Ma’mar bin Rasyid al-Azadiy, Ath-Thabaraniy, Ibnu Abdul hadiy dan As-Subkiy, sementara Ibnu hajar dan Syaikh Albaniy memandang hadits ini lemah wallahu a’lamu.

Basmalah terdiri dari 19 huruf jika tidak hitung tasydidnya. Ia adalah ayat pertama dalam surat al-Fatihah, dan merupakan pembuka sekaligus pembatas satu surat dengan surat lainnya dalam al-Qur’an kecuali surat at-Taubah atau Bara’ah. Akan tetapi, jumlahnya ada 114 buah dalam Al-Quran karena terdapat dua basmalah di surat an-Naml (satu sebagai pembuka surat dan satu lagi terdapat di ayat ke 30).

Ulama hikmah menukil bahwa Allah menurunkan al-Qur’an kedalam sanubari Baginda Rasulullah, dan kandungannya ada dalam surat al-Fatihah. Ia adalah ummul qur’an, adalah tujuh ayat yang diulang-ulang setiap harinya. Tujuh ayat surat al-Fatihah itu terkandung dalam basmalah, dan basmalah terkandung dalam makna Ba’ yang berarti ‘dengan’.

Dengan demikian, memaknai basmalah membutuhkan taqdir sebuah fi’il apa saja sesuai. Umpamanya, jika membaca basmalah menjelang membaca Fathul Mu`in, maka pilihan kata yang ditaqdirkan bisa أبدأ بسم الله   (aku mulai bacaan kitab ini dengan nama Allah ) atau  أقرأ بسم الله  (aku baca kitab ini dengan nama Allah ). Jika basmalah dimaksud untuk memulai menulis, taqdir-nya bisa أبدأ الكتابة بسم الله   (aku mulai menulis kitab ini dengan nama Allah ) atau أكتب بسم الله  (aku tulis kitab ini dengan nnama Allah ).

Lafaz الرحمن الرحيم   Adalah sifat musyabbahah yang bertujuan untuk mubalaghah. Kedua lafal tersebut terambil dari kata dasar yang sama yaitu ra-ha-mim. Dalam `ilm sharf, dikenal sebuah diktum perubahan bina (bentuk kata) mengindikasikan perbedaan makna/kandungan.

Sebagai sifat musyabbahah, al-rahman al-rahim berarti dawam atau kesinambungan. Maksudnya, sifat rahman dan rahim Allah berketerusan tanpa henti. Adapun sebagai mubalaghah, mengindikasikan pengertian yang fleksibel dan tajaddud. Artinya, rahman dan rahim Allah akan selalu sesuai dalam kondisi apapun dan dalam lingkungan apapun yang menyelimuti makhluk sekalipun waktu bergulir dan masa berganti.

Dalam bahasa Indonesia kata al-rahman dapat diartikan sebagai penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom. Maka untuk menterjemahkan al-rahim dibutuhkan penyesuaian bahasa yang lebih tepat kepada ma’na isti’mal untuk mubalaghah.

Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.”

Maknanya, menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “al-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas. Hal ini karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh; semisal dengan kata ‘seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.

Sementara, al-rahim adalah nama Allah  yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi). Hal ini karena wazan fa’iil فعيل bermakna faa’il فاعل (pelaksana). Artinya, kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi). Oleh karena itu, paduan antara nama al-rahman dan al-rahim bermakna rahmat Allah itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”

Adakah perbedaan antara nama Allah al-rahman dan al-rahim? Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya. Al-Arzami mengatakan: “al-rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan al-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)
Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan al-rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan al-rahim bermakna rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.

Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya. Ibnul Qayyim memandang bahwa al-rahman menunjukkan sifat kasih sayang Dzat Allah (yakni Allah memiliki sifat kasih sayang), sedangkan al-rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya. Dengan demikian, seakan-akan nama al-rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama al-rahim mengandung makna perbuatan-Nya, yaitu menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya; jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: