Menjemput Tradisi Yang Ditinggalkan

 

Di dalam Islam, menuntut ilmu adalah sebuah perintah yang harus ditunaikan. Perintah ini disampaikan oleh Rasulullah mulai dari sejak dari ayunan sampai ke liang kubur. Perintah ini juga banyak kita temukan baik dalam Al-Qur’an maupun dalam hadist-hadist Rasulullah. Pengejawantahan dari perintah ini telah mengantarkan Islam di awalnya mengalami kejayaan. Kemajuan dalam bidang itu telah membuat Baghdad menjadi pusat Ilmu pengetahuan dan peradaban sebelum akhirnya dihancurkan oleh orang-orang Mongolia. Sejak itulah Umat ini terus mengalami kemunduruan.

Terbalik dengan Eropa, mereka yang di awal kebangkitan Islam berada dalam kegelapan. Dominasi gereja dan pengekangan akan Ilmu pengetahuan telah mengukung mereka dalam ketertinggalan. Semangat perlawanan yang terus dikobarkan akhirnya bisa meruntuhkan dominasi Gereja dan dalam sejarah dicatatlah hal itu menjadi tonggak awal dari mereka untuk memimpin peradaban dunia sampai hari ini.  Pada hari ini kita sebut dengan Zaman Pencerahan atau Renaissance.

Tidak bisa kita pungkiri, pengaruh Eropa atau yang lebih sering disebut dengan Western masih begitu kuat mencengkeram mempengaruhi belahan bumi ini. Kunci dari itu semua adalah karena mereka terus mengaprisiasi perkembangan sains dan tekhnologi. Kemajuan dalam bidang itu tidak terlepas dari pengembangan berbagai metode pendidikan yang terus mereka kembangkan.

Di Asia, Jepang menyadari akan hal itu. Sejak diluncurkannya Restorasi Meiji di tahun 1867, Jepang mengalami perubahan yang begitu signifikan baik di struktur politik maupun pendidikan. Penyebab dari lahirnya Restorasi Meiji begitu banyak, namun puncak kesadaran itu tumbuh semenjak seorang Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang. Komodor Perry datang ke Jepang menaiki kapal super besar yang dilengkapi persenjataan dan teknologi yang jauh lebih superior dibandingkan milik Jepang saat itu.

Cara Jepang dalam mencerdaskan bangsanya menuai hasil yang signifikan. Ini terbukti dengan adanya korelasi antara majunya pendidikan dengan kemajuan industri yang diraih Jepang. Saat ini Jepang menjadi pemimpin ekonomi dan teknologi di Asia, salah satu yang termaju di dunia. Hal tersebut bisa mereka capai karena adanya sikap kerja keras, rasa malu untuk melanggar norma, hemat, loyalitas, inovatif, pantang menyerah, kerjasama kelompok, mandiri, menjaga tradisi, disiplin, fokus, dan kuatnya budaya baca. Keberhasilan Jepang menekankan pentingnya semangat belajar bagi masyarakatnya. telah mengubah membaca bukan lagi kegiatan yang dipaksakan, melainkan kebutuhan.

Jepang sangat menyadari bahwa sumber daya manusia merupakan ukuran maju atau tidaknya suatu bangsa. Tanpa sumber daya yang berkualitas, suatu bangsa tidak akan dapat bersaing dengan bangsa lain. Budaya membaca menjadi pondasi dasar bagi pendidikan suatu bangsa. adalah sebuah kegagalan dari sebuah sistem pendidikan jika tidak berhasil menciptakan sebuah generasi yang memiliki budaya membaca. Jepang sebagai negara dengan tingkat baca tertinggi di dunia, berhasil membuktikan bahwa budaya membaca mampu mendorong kemajuan perekonomian dan ilmu. Tingginya budaya membaca akan membuat seseorang lebih memahami, menguasai dan menghargai ilmu pengetahuan sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa.

Apa yang diraih oleh Jepang, itulah yang sebenarnya terjadi diawal kebangkitan Islam. Pemahaman yang utuh terhadap ajaran agama itu telah mendorong generasi-generasi di masa itu melintasi jarak yang berpuluh kilometer untuk menimba Ilmu pengetahuan. Sebutlah misalnya, Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan banyak lagi lainnya. Perintah untuk menghidupkan budaya literasi ini adalah hal yang pertama diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui Rasulullah. Bahkan banyak ayat-ayat yang menghendaki kita untuk berfikir, memperhatikan, merenungkan dan seterusnya. Perintah tersebut kalau kita pahami dengan baik adalah fardhu ‘ain bagi setiap pribadi Muslim.

Kebangkitan Islam yang diinginkan oleh banyak kaum muslim di negeri ini tidak akan bisa terwujud jika hanya Berkonsentrasi dan menghabiskan energi untuk bertarung dalam wilayah politik semata. Begitu juga kalau potensi kekuatan kapital ummat dihabiskan lebih besar untuk membiayai program charity semata. Tentu saja jika potensi kapital itu dihabiskan lebih besar untuk membiayai mereka yang menuntut Ilmu di mana saja, Insya Allah kita akan menyaksikan dalam waktu yang tidak begitu lama kebangkitan Islam itu di negeri ini dalam waktu yang singkat.

Wallahu ‘alam.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: