Mental Mesum, Pengecut dan Mudah Menyerah

 

Mental mesum, pengecut dan mudah menyerah, itulah judul tulisan ini yang di buat dengan besar dan jelas. Saya yakin sebagian dari pembaca mempuanyai yang namanya facebook kalau tidak bisa dikatakan semuanya, pernahkah terfikir tentang postingan-postingan remaja saat ini? Cinta, hal-hal yang berbau porno, atau aku ingin mati saja, Tuhan. Atau mungkin para pembaca sekalian terlalu sibuk berdebat tentang dasar hukum dan dalil-dalil yang sebenarnya tidak perlu lagi diperdebatkan?

Pertama, mental mesum, hal ini sudah sering berseliweran di beranda facebook saya yang entah siap-siapa saja yang mempostingnya, mesum yang saya maksud disini bukan otomatis postingan film blue  atau film porno, mesum bisa berarti kata-kata, perangai dan kelakuan. Sebagian pembaca mungkin familiar dengan Rage Comic atau yang lebih dikenal dengan MEME, sebagian penggemar dan yang membuat MEME adalah remaja ABG, pelajar SMP, SMA dan tidak menutup kemungkinan bocah SD.

Silahkan saja anda browse di beranda facebook anda atau search di google, kebanyakan isi MEME itu berbau mesum. Yang saya pertanyakan, bagaimana bisa manusia sekelas SD dan SMP cara fikirnya sudah berbau seperti itu? Masihkah pembaca sekalian akan terus berdebat tentang perbedaan mazhab? Sedangkan mental generasi muda kita terus merosot seperti ini? Atau memang “debat” sudah menjadi tren tersendiri sehingga “ah generasi muda sedang berkembang, lebih baik kita memperdebatkan cara menyapu rambut saat berwudhu”, tidakkah kita lebih picik daripada orang yang picik kalau berfikiran seperti itu?

Kedua, mental pengecut, masih dalam lingkup dunia maya, pernahkah pembaca temui komen-komen yang menohok dari bocah-bocah seperti “terserah gw lah, lu siapa?”, “diam aja lu, orang tau tau apa?” ketika ditantang mereka kabur, ketika akan dinasehati mereka menghilang, mental seperti ini siapa yang mengajari? Bukankah seharusnya generasi penerus harus berani mengakui kesalahan?, ataukah memang kehidupan berjalan mundur ke belakang? “ini lebih penting daripada memperdebatkan hukum memakai celana jeans” atau memang memastikan hukum memakai celana jeans lebih penting daripada memperbaikin mental pengecut? Tidak hanya mental pengecut generasi muda, generasi tuapun begitu adanya, berkoar-koar tidak jelas ketika diberikan sesuatu yang jelas benarnya langsung menghilang dari peredaran, bukankah orang seperti itu lebih rendah dari ayam aduan?

Ketiga, mental mudah menyerah. Ini yang paling sering saya temui, dan pernah saya lakukan test on the water di beranda facebook saya sendiri. Boom, pokok permasalahnnya lebih banyak berasal dari  cinta monyet, juga tidak menutup kemungkinan dari sinetron-sinetron yang diputar untuk mencari rating. Bagaimana bisa seseorang mengatakan dirinya lelaki, ketika diputuskan pacarnya lansung mengiris tangan dengan silet, heh, boco sekali hal seperti itu terjadi pada seorang lelaki, lagian siapa juga yang menyuruh untuk pacaran. Jika untuk hal yang seperti ini saja orang bisa menyerah, bagaimana bisa dia menghadapi hidup yang sebenarnya? Baru pacaran, pernikahan adalah hal yang teramat kompleks daripada pacaran. Tidakkah terfikir jika hal omong-kosong seperti itu terjadi pada anak, adik, keponakan anda? Apa yang akan anda lakukan? Memarahi? Menasehati? Atau anda masih sibuk berdebat tentang “hukum menyikat gigi menggunakan odol?”

Semua permasalahan mental di atas adalah tanggungjawab kita bersama, mau dia itu anak kita, saudara kita sendiri atau anak orang lain, ini permasalahan kita bersama. Mereka-meraka itu adalah generasi penerus kita, jangan terlalu arogan  menjadi manusia. Masihkah kita harus berdebat tentang “hukum shalat menggunakan celana” atau “hukum memakai produk bikinan perusahaan negara adidaya itu”, ini hal yang lebih kompleks daripada perdebatan itu, merubah mental seseorang bukanlah perkara mudah, saya tegaskan sekali lagi ini hal yang lebih rumit, menurut saya ini memang tanggung jawab kita semua.

Sekarang semuanya kembali pada pembaca sekalian, apa ini tanggung jawab kita atau bukan, atau memang perdebatan tentang “memberi senyum pada non muslim” adalah hal yang lebih penting?.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: