Menyongsong Kebangkitan: Pembaharuan yang Kedua

Pondok Pesantren Sumatrera Thawalib Parabek, begitulah namanya disebut saat ini. Pondok Pesantren yang didirikan oleh Syekh Ibrahim Moesa (ada perbedaan pendapat tentang tahun berdirinya antara 1908 dan 1910), hari ini sedang berulang tahun yang ke 106. Usia yang tidak muda lagi. Kehadiran Madrasah di awal berdirinya dimasa Inyiak Parabek, (begitulah nama akrab untuk Syekh Ibrahim Moesa yang lebih dikenal) telah memberikan sumbangan terbesar terhadap pembangunan pendidikan di negeri ini.

Sebagai Ulama pembaharuan, yang menurut hemat saya melanjutkan misi perjuangan dari Paderi melawan penindasan, keterbelakangan, kejumudan dan berbagai persoalan sosial lainnya akibat keterbelakangan dan sistem yang ada pada waktu itu, Inyiak Parabek telah mencurahkan segala potensi dirinya melawan itu semua. Digolongkan kepada Harimau nan salapan yang ke dua, beliau terus saja mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk ummat ini.

Sakola Parabek, sebutan populer lainnya untuk nama Pondok Pesantren dikalangan masyarakat telah menunjukkan kiprahnya yang luar biasa. Keterlibatannya bukan hanya dalam bidang pendidikan semata. Kehadiran Madarasah ini memang menjadi sumber rujukan dan nilai bagi masyarakat dalam berinteraksi antara satu dengan lainnya. Kehadirannya bukan hanya untuk daerah Parabek dan sekitarnya, akan tetapi untuk bangsa dan negara ini.

Sebagai Ulama yang moderat dan terbuka, Inyiak Parabek merupakan sosok ulama yang sangat mengapresiasi perubahan tanpa meninggalkan substansi pengajaran pendidikan Agama. Inyiak adalah Ulama yang sangat menyadari tidak boleh ada dikotomi Ilmu pengetahuan antara umum dan agama. Parabek adalah yang terawalmenerapkan pelajaran umum di Madrasahnya sebelum Canduang atau Jao juga menerapkannya. Begitu juga Inyiak tidak melarang para siswanya terlibat dan beraktifitas dalam dunia politik walaupun Madasarah ini tidak berpolitik. Inyiak sudah menyadari pentingnya sebuah perguruan tinggi untuk menambah ke dalam kajian ke ilmuan anak didiknya, sehingga ditahun 1939 lahirlah Kuliyatuddiyanah. Peran dari Sumatera Thawalib lebih lengkapnya dapat kita temui dalam Buku Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam yang di tulis oleh Dr. Burhanuddin Daya, Thesis dari Dr. Jayusman dan Khairul Ashdiq.

Sepeninggal Inyiak Parabek di tahun 1960, saat itulah Parabek mengalami berbagai dinamika. Kondisi politik dinegeri ini dan dinamika sistem pendidikan nasional sangat mempengaruhi dan mewarnai perjalanan Pondok Pesantren yang beliau tinggalkan. Dinamika yang dialami merupakan sebuah proses yang membuat Pondok ini terus bisa bertahan. Modal Interpretatif yang dimilikinya telah mampu bertahan dari gelombang serbuan zaman. Jumlah alumni yang banyak dan tingkat kepercayaan yang masih tinggi dari masyarakat telah membuat Madrasah ini terus bertahan mencapai usia ke 106 itu.

Kini, di seratus tahun yang ke dua ini tentu saja kita berharap Parabek untuk bisa kembali memimpin di garda terdepan sebagai benteng utama Ummat di Sumatera Barat khususnya dan tentu saja Indonesia. Tantangan zaman yang telah berbeda walaupun dengan substansi yang sama, Parabek seharusnya mampu menyusun kembali langkah-langkah perjuangan di garda terdepan tersebut. Berbagai tantangan berat yang muncul harus mampu untuk dilewati, nilai-nilai ruhiyah perjuangan harus tetap terus terjaga dari intrik politik dan kepentingan yang selalu membayangi. Belum lagi tantangan klasik yang harus diatasi. Pergulatan antara kebutuhan finansial yang semakin tinggi dan tingkat kemampuan dari masyarakat untuk menyerahkan anaknya ke Pondok merupakan persoalan yang harus bisa terselesaikan dengan cepat.

Kedewasaan untuk menerima kritik dan saran yang membangun untuk terus malaju ke arah yang lebih baik harus dibukakan selebar-lebarnya. Kesan eksklusivitas yang mungkin pernah tersemat di Pondok ini juga harus ditanggalkan. Hari ini, Pondok Pesantren ini telah memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. Sudah belasan ribu sarjana yang lahir, begitu juga ribuan Master, dan puluhan Doktor dan Profesor yang menyauk Ilmu di sini. Begitu juga yang berprofesi di kalangan profesional, pengusaha, politisi dan bidang lainnya. Potensi ini belumlah sepenuhnya terakit dengan baik untuk menggerakkan Parabek menjadi motor perubahan tersebut.

Mudah-mudahan di seratus tahun ke dua ini, Pondok Pesantren Thawalib akan kembali mampu untuk melanjutkan gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Inyiak Parebek. Tentu saja beban berat itu tidak hanya terletak di tangan para pengelola Madarasah yang beliau tinggalkan, akan tetapi di tangan seluruh orang yang telah menyauk ilmu dari Madrasah ini. Selamat Milad yang ke 106 Madrasah Sumatera Thawalib.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: