Minang Bermetamorfosis

Dalam beberapa waktu belakangan, beberapa kali saya berbincang dengan seorang sahabat. Dalam percakapan itu, kata etnosentris menjadi sesuatu yang sangat familiar bagi saya. Candaan tentang etnik sering kali menjadi guyon yang menarik. Ketika itu terjadilah saling membela keunggulan dan bahkan menceritakan kekurangan etniknya sendiri dengan gelak tawa yang membuncah. Candaan itu kadang semakin mempererat hubungan dan kadangkala juga membuat hubungan bisa jadi panas dingin.

Urang Minang, adalah sosok yang sangat etnosentris. Dia begitu bangga dengan ke Minangannya. Saya juga bangga dengan itu. Namun, dibalik kebanggaan itu tersimpan sebuah kerisauan. Pepatah mengungkapkan, “sakali aie gadang, sakali tapian barubah”. Perubahan itu semakin lama, semakin terasa. Kebanggaan terhadap Minang, hanyalah sebatas  struktural  dan tidak lagi kultural. Secara struktural, lahir  dari orang tua Minang, namun secara kultural tidak lagi memahami nilai-nilai ke-Minangan itu sendiri.

“Jalan diasak bakeh urang lalu, Cupak diasak urang panggaleh”, ungkapan kekhawatiran yang selalu disampaikan secara turun temurun oleh orang tua terdahulu. “Usah kalah dek binalu, jan sampai alang dikalahkan dek pipik”. Hal-hal kecil yang selama ini diabaikan, sangat berarti untuk menyumbangkan semakin tergerusnya nilai-nilai yang di kandung dalam adat itu sendiri.

Kini, kita sudah berada di zaman milenium. Tidaklah mengherankan hari ini, kita menemukan begitu banyak anak-anak muda yang tidak paham dengan nilai-nilai adat, tidak paham dengan kieh jo bandiang, tidak paham ba nagari, ba korong, ba kampuang dan basuku.

Adat Minang, jauh sebelum terjadinya gejolak pemikiran, pertarungan berbagai ideologi dan sebelum mengguritanya kapitalisme, telah mengingatkan dan mengantisipasi itu. Orang-orang terdahulu sudah sangat menyadari, bahwa manusia tidak bisa terlepas dengan alat produksi dan properti. Karena itulah kepemilikan terhadap tanah bersifat komunal  (milik ulayat atau harato pusako tinggi).

Pelepasan kepemilikan tanah awalnya diatur dengan sedemikian ketat dengan persyaratan hanya dapat dilakukan jika, mayik tabujua di tangah rumah, gadih gadang indak balaki, rumah gadang nan katirisan, mambangkik batang tarandam.

Sejak dari awal, solidaritas, persaudaraan adalah sebuah nilai yang begitu sangat ditekankan. Hubungan antar individu, antara individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok diatur dengan nilai-nilai yang sangat humanis, demokratis dan egalitarian.

Susunan atauran itu diatur dalam sebuah aturan pokok yang disebut dengan “adaik nan sabantang panjang” yang kemudian dapat berkembang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di  salingka nagari. Hal inilah sebetulnya menjadi kekuatan dan keunggulan etnis ini  dan kemudian tampil dalam berkiprah dalam pertarungan mendirikan negara ini.

Kerasnya gempuran zaman, kepemilikan harta yang awalnya bersifat komunal , akhirnya hari ini sebagian besar telah berubah menjadi kepemilikan pribadi (private). Dampak itu semua, hubungan kekerabatan, persaudaraan juga sudah mengalami perubahan.

Individualisme lebih menonjol.  Pelepasan hak-hak atas alat-alat produksi atau modal tidak lagi memperhatikan tali yang menguatkan hubungan kekerabatan. Tidak lagi melihat nan sajangka, saheto, nan saparuik, sasuku, sakaum, sakampuang, sanagari  dan nan sa agamo.

Hari ini, ditengah geliat globalisasi dan pertarungan sumber daya, aset-aset yang berada di tanah Bundo sudah banyak yang berpindah. Pindah bukanlah dari kita ke kita, akan tetapi berpindah kepada tetangga yang tidak lagi se iman, se adat.

Sebutlah misalnya mereka yang bermata sipit. Janganlah heran jika satu saat nanti kita akan menemukan dan akan bersua dunsanak dan saudara kita tidak lagi memiliki setapak tanganpun tanah di negeri yang di taruko oleh nenek moyangnya.

Disisi lain, apa yang disebutkan oleh A.A Navis, tentang robohnya surau kami semakin terlihat dengan nyata. Fanatisme Islam sampai hari memang masih kuat. Fanatisme itu hanyalah akibat sebuah kesadaran kultural.

Kita tidak lagi mendengar tokoh tokoh sekaliber Inyai Parabek, Inyiak Canduang, Inyiak DR, Inyiak Djambek, Moh. Natsir, Hamka dan Inyiak Dt. Palimo Kayo.  Posisi menjadi labay, Imam, Khatib ataupun Qhadi tidaklah menarik bagi mereka yang lulusan Pesantren atau surau mereka mengaji.  Banyak Masjid yang berdiri, tapi Imarah Masjidnya tidak terlihat atau sangat minim.

Era medernitas telah mengubah segala-galanya. Banyak orang yang mengkhawatirkan ini. Tidak sedikit. Kekhawatiran tersebut hanya buncah dalam kepala, tapi sangat minim aksi. Jikalah kesadaran ini kembali menggelora dan bergulir, semangat kebersamaan itu hidup, semangat gotong royong, ringan samo sajinjiang, barek samo sapikua, semua kekhawatiran itu akan dapat di bendung.

Banyak orang-orang miang yang memiliki rezeki yang berlebih yang sebetulnya bisa untuk mengambil kembali aset-aset kita yang lepas dari tetangga yang bermata sipit dan tidak seiman itu. Jika semangat bersama-sama itu digelorakan untuk mengembalikan harta yang di taruko oleh nenek moyang itu diambil alih dan distribusikan kembali kepada dunsanak-dunsanak yang itdak mampu untuk mendapatkan itu, sungguh sesuatu yang sangat luar biasa.  Wallahu ‘Alam.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: