Mitos Uang Sakola Maha

Konon, sekolah-sekolah top saat ini berharga mahal. Mahal uang masuk, mahal pula uang bulanannya. Hal ini diamini oleh Yayasan pengelola Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek. Hasilnya? Setiap tahun uang masuk dan uang sekolah naik, tiap tahun jumlah santri meningkat, tiap tahun terlihat perkembangan sekolah dari segi fasilitas dan infrastruktur. Satu lagi, tiap tahun pula kita lihat ada seremoni-seremoni besar.

Ini mengokohkan sebuah pandangan, bahwa sekolah mahal diminati masyarakat. Sekolah gratis terdengar luhur, tapi tidak diminati. Ini hanya urusan kasat mata semata, bahwa sekolah butuh biaya operasional. Guru dan karyawannya butuh gaji. Jika uang sekolah mahal, fasilitas dan infrastruktur lengkap, mendukung proses belajar-mengajar; gaji guru memadai sehingga mereka bisa fokus mengajar tanpa terbebani persoalan ekonomis; dan efek jangka panjang kualitas pendidikan akan terjaga. Begitulah alur berpikirnya.

Alur berpikir ini didukung dengan fakta bahwa sekolah-sekolah gratis biasanya tidak terurus. Orang tua tidak mengeluarkan sepeser uang pun dalam pendidikan anaknya, sehingga mereka juga kurang termotivasi untuk sekolah anaknya. Jika sekolah mahal, orang tua begitu merasakan perjuagan untuk pendidikan. Oleh sebab itu, mereka juga akan selalu menenkankan pentingnya pendidikan pada anaknya.

Lengkaplah sudah argumennya, sekolah mahal, motivasi siswa dan orang tua, infrastruktur dan fasilitas, kesejahteraan guru, dan kualitas terjaga.

Pada awalnya saya mengamini logika itu. Karena memang masuk akal. Bukan sekedar masuk akal, tapi juga ada bukti otentiknya, di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek sendiri. Akan tetapi, saat ini saya mulai mempertanyakan cara berpikir itu.

Apakah kualitas pendidikan ditentukan oleh uang sekolah siswa?

Saya tidak tahu pasti, dan tidak punya bukti otentik untuk membantahnya. Tapi, paling tidak apa yang akan saya ceritakan seharusnya bisa membuat kita berpikir ulang.

Berawal dari pertemuan dengan Direktur Diktis di IALF Jakarta beberapa bulan yang lalu. Ia menceritakan lika-liku beasiswa 5000 doktor yang disediakan diktis. Ada satu cerita yang menarik dari beliau. Beliau bilang begini, “secara normatif, Anda bisa mendaftar ke Ohio University karena memang sesuai dengan kriteria kampus yang bisa dimasuki dalam pembiayaan beasiswa diktis. Tapi saya sarankan jangan, karena di sana mahal sekali. Satu orang untuk satu tahun itu biayanya lebih dari 1 miliar. Uang segitu bisa buat tiga atau empat orang mahasiswa Ph.D di Jerman.”

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (2)

Beberapa hari yang lalu, saya juga berbincang dengan teman Indonesia sesama mahasiswa di Freiburg University. Dia telah bekerja di Qatar selama beberapa tahun, jadi kuliahnya di sini self-finance. Katanya, dia mendaftar di sejumlah kampus, termasuk di kampus-kampus Inggris. “Di sana, mahal sekali, kira-kira 4000 EUR setiap semester. Jadinya saya milih di sini saja.”

Sebagai catatan, kuliah di Jerman tidak mahal. Banyak orang-orang Indonesia yang kuliah di sini dengan self-finance, terutama untuk tingkat bachelor (s1). Kata mereka, kuliah di sini itu hitung-hitungan harganya sama aja sama kuliah di kampus-kampus top di Indonesia. Bedanya, kalau di kampus di Indonesia biaya kuliahnya mahal, di sini biaya hidupnya yang mahal. Jadi, kalau memang biayanya segitu juga, kenapa g sekalian ke sini aja?”

Catatan berikut, kuliah di Jerman memang murah. Untuk Ph.D, biaya kuliah bisa gratis. Hanya ada biaya kecil untuk matrikulasi sebesar 145 EUR untuk Uni-Freiburg. Itu pun bersifat optional. Jadi, kita bisa jadi mahasiswa Ph.D di sini tanpa matrikulasi yang artinya tanpa bayar apapun. Hanya butuh tanda tangan dari professor yang akan menjadi supervisor disertasi.

Akan tetapi, kemurahan atau kegratisan pendidikan di Jerman tidak lantas menjadikannya pendidikan yang tidak bermutu. Perlu diketahui, berdasarkan informasi dari Prof. Dr. Noorhaidi Hasan, kampus yang paling banyak menghasilkan peraih Nobel ada di Jerman, yaitu Göttingen University. Ada 44 nama dari kampus ini. Uni-Freiburg sendiri mencatat 10 nama untuk penghargaan tertinggi dunia tersebut.

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (3)

Kesimpulannya, kampus-kampus di USA dan di Inggris dengan nama-nama besar mereka telah menjalankan pendidikan yang berkualitas. Kampus-kampus di Jerman juga demikian. Akan tetapi, biaya pendidikan di USA dan Inggris mahal, tidak demikian dengan Jerman. Jadi, jangan-jangan kualitas pendidikan tidak ada kaitannya dengan uang sekolah atau uang masuk?

Tentu saja itu tidak semata-mata tentang uang masuk atau uang sekolah. Saya yakin baik kampus-kampus besar di USA dan Inggris maupun kampus-kampus di Jerman telah menerapkan pendidikan dengan standar tinggi, baik dari segi infrastruktur, fasillitas, dan gaji tenaga pengajar. Perbedaan tersebut menandakan bahwa pemerintahan Jerman mengalokasikan lebih banyak anggaran ke kampus daripada di USA dan Inggris. Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa pendidikan berkualitas tetap bisa dijaga tanpa harus membebani semuanya kepada siswa.

Apa pelajaran yang kira-kira bisa diambil dari sini? Bahwasanya standar dan kualitas pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek harus dijaga tetap tinggi, akan tetapi tidak dengan membebani siswa. Mungkin tidak berbilang kali para guru atau alumni yang mendengar keluhan orang tua murid yang berangan-angan memasukkan anaknya ke Parabek akan tetapi harus mengubur cita-cita mereka karena persoalan ini. Sungguh akan sangat mulia jika Parabek bisa menampung masyarakat-masyarakat seperti itu, tapi tetap menjaga kualitas dan standar pendidikannya.

Bagaimana caranya? Kenapa tidak dengan badan usaha?

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

One thought on “Mitos Uang Sakola Maha

  1. Semoga kualitas pendidikan tidak mutlak ditentukan oleh uang.
    Karena jika uang yg menjadi landasan untuk bergerak nya sebuah pendidikan.
    Maka alangkah mirisnya hati ketika diluar sana sangatlah banyak..teramatlah nyata…saudara saudara kita mengharapkan pendidikan agama.
    Karena agama itu murni dr ALLAH melalui RASULNYA….

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: