Mobil Antik

Kemarin MST Parabek mengadakan acara temu ramah alumni. Saya datang dengan segala kesederhanaan. Pakaian sederhana, ulasan bedak tipis, tak ada perhiasan blink-blink, dan saya datang tanpa membawa kendaraan apapun. Semua kendaraan akan berakhir diparkiran, pakaian akan kusut, bedak akan luntur.

            Saya sadar, tak ada gunanya pamer dengan semua yang melekat di badan. Pengalaman reuni di kampus saya tahun lalu, cukup membuat saya malu dan mengajarkan saya, bahwa reuni hanyalah ajang temu ramah dari persahabatan masa lalu. Engkau akan dikenang karena tukang tidur, tukang bolos atau raja prestasi di kelasmu. Decak kagum dengan mobil mewah dan semua yang kau kenakan, hanya jadi pujian sepintas dari teman-temanmu. Dan setelah itu, mereka akan kembali pada urusan masing-masing.

            Cukuplah reuni menjadi ajang silaturrahmi. Jangan lagi simpan minder di hati, malu mampir ke sekolahmu hanya karena ukuran suksesmu belum melampaui targetmu. Yuk, jayakan MST Parabek dengan dukungan dari kita bersama.

            Sedikit pengalaman saya tentang reuni, semoga bermanfaat. Tulisan ini dimuat di rubrik gado-gado, Femina No. 09 terbit 27 Februari 2016.

***

 

Ini mobil “antik”. Suami membelinya karena uang kami belum cukup untuk membeli mobil yang lebih bagus. Awalnya mobil ini milik pensiunan polisi. Walau mobil lama, tapi pak polisi itu sangat telaten merawatnya. Saat mobil ini berpindah tangan, dia menangis seolah kehilangan separuh nyawa. Suami menenangkan dan berjanji akan merawat si antik.

Awalnya aku senang mendapat mobil “baru”. Tapi saat mendengar kabar reuni, tiba-tiba aku risih melihat si antik.

“Bang, tolong jaga anak, ya. Aku mau ke kampus.” Kataku sambil menyerahkan anak. Aku ingin pergi ke acara reuni sendiri saja.

Anak langsung protes dan menangis. Gagal sudah rencanaku. Suamiku tersenyum. “Biar kita sama-sama saja. Nanti Bunda sama teman-teman, Ayah jagain anak.” Katanya, bijak.

Sungguh, saat itu aku sedang tak ingin diantar. Apalagi dengan si antik. Dia memang tidak gampang mogok, tapi tampilannya jauh dari keren. Tak tega melukai niat baik suami, aku mengiyakan.

Akhirnya… di sinilah aku. Kampus tempat aku menuntut ilmu dulu.

“Nikmati waktumu.” Kata suamiku, sambill mengajak anakku bermain. Suami memarkir mobil di luar pekarangan kampus.

Aah… Senang sekali. Akhirnya aku punya “me time”. Aku masuk gerbang, bertemu teman-teman lama dan saling berpelukan. Kangen-kangenan sambil melihat penampilan masing-masing. Rata-rata makin berisi.

“Kamu masih langsing.” Puji seorang teman.

“Tapi ini gendut.” Kataku sambil menepuk perut. Mereka tertawa.

Kami duduk di tempat nongkrong favorit, taman kampus. Ada bangku taman yang dibangun melingkar, yang muat untuk beberapa orang. Masih seperti dulu. Tak banyak yang berubah.

Sedang asyik bercanda, mobil suami masuk pekarangan kampus. Aku melihat dengan sudut mata. Ada apa ya? Apakah anakku rewel mencariku?

Ada rasa risi melihat tatapan heran teman-teman. Sebuah mobil antik yang dengan pedenya berjejer manis di antara mobil keluaran terbaru. Mereka saling pandang. Awalnya aku pura-pura tak melihat, kuhitung dalam hati. Satu… Dua… Tiga… Pintu belum terbuka.

Akhirnya kuhampiri mobil antik dengan pandangan heran teman-teman. Terserah mereka mau komentar apa. Mungkin suamiku sedang sibuk menenangkan anakku yang menangis.

Dia membuka kaca jendela dan tersenyum. Tak terjadi apa-apa. Anakku duduk manis di sampingnya sambil mendengarkan musik.

“Kenapa parkir di sini?” kataku, cemberut.

“Di sini rindang, di luar panas.” Jawabnya santai. Kutahan rasa kesalku.

Setelah puas melepas rindu bersama teman, saatnya pulang. Di perjalanan, aku lebih banyak diam. Masih kesal dengan pandangan heran teman-teman tadi. Kenapa suamiku harus memarkir mobil di dalam pekarangan kampus, sih? Bikin aku malu.

Ia bisa membaca pikiranku.

“Kenapa harus palsu?” katanya sambil tertawa kecil.

Aku manyun. Bagaimanapun, reuni adalah ajang ‘pamer’ dan saling adu kekuatan. Tak ada standar sukses selain apa yang dipakai dan apa yang sudah dimiliki. Jujur, awalnya aku mengurungkan niat untuk hadir di acara ini. Ada minder di hatiku mendengar karir sahabat-sahabat yang semakin melesat. Mobil yang mereka punya. Rumah mewah yang mereka bangun. Tapi kukuatkan diri untuk hadir dan berusaha tulus.

Anakku tertidur di pangkuanku. Kulepaskan gelang berlian palsu yang mengganggu gerak tanganku. Kuletakkan di dashboard mobil. Biasanya aku hanya memakai perhiasan minimalis, entah mengapa kali ini aku seperti toko perhiasan berjalan.

“Jadilah diri sendiri.” Suami masih ceramah di sela menyetir mobil. Dari awal kan aku sudah berniat pergi sendiri. Enggak repot begini.

“Biar mobil ini antik, tapi kita terlindung dari panas dan hujan.” Sambungnya lagi.

Duuuh… Dia masih membongkar rahasia hatiku.

Kami sampai di tempat tujuan. Aku sedikit kerepotan menggendong anak yang masih terlelap.

“Bang, tolong ambilkan gelangnya. Nanti kaca mobil dipecahkan maling.” Kataku.

“Wah… Kalau gelang ini diambil maling, dia bukannya untung, malah ngamuk.” Jawab suamiku.

Kami tertawa bersama. Memang, kita tidak perlu ‘memalsukan’ diri, lebih bahagia jadinya.

***

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: