Mubes Sudah, So What?!

 

Silaturrahim dan Musyawarah Besar Alumni Sumatera Thawalib Parabek telah usai. Banyak cerita yang tertuliskan. Lebih dari lima ratus alumni yang hadir (berdasarkan data absen). Mulai  dari alumni Sumatera Thawalib generasi tertua hingga generasi termuda, angkatan 2016. Banyak nostalgia terungkap. Sahabat yang telah terpisah puluhan tahun akhirnya bertemu. Barisan mantan yang “pamer” gandengan, hingga alumni hati yang mengajak reuni. Seolah mengulang kisah kasih di sekolah, kata almarhum Chrisye.

Lebih dari semua itu, beberapa poin penting telah diraih.  Uda Dr. Ismail, M.Ag diberi amanah untuk menjadi nakhoda kapal besar ini untuk 5 tahun ke depan oleh tujuh orang formatur terpilih. Settingnya, para formatur ini yang akan menyusun kepengurusan Ikatan Alumni Sumatera Thawalib selanjutnya. Agenda-agenda besar pun menanti seiring banyaknya masukan dalam forum Mubes.

Sepanjang perjalanan pulang pasca Mubes dengan Honda Beat warna hitam milik Amak -lupa nomor Polisinya- dari Bukittinggi menuju Minas, begitu banyak pikiran yang muncul di kepala saya. Mengulang-ulang pertanyaan Romi Rafael, sang Master Hipnosis dalam acara The Master, “So what?” Ya, Mubes telah usai. Selanjutnya apa?

Di atas adalah sekelumit dialektika yang muncul di benak saya beberapa bulan yang lalu, kawan. Hari ini kekhawatiran tersebut mulai menggelayut di singgasana pikiran saya. Sudah habis waktu, berjalan masa, namun gerak  yang diharapkan tak jua beringsut dari tempat semula. Banyak yang bertanya, sudah sampai di mana Ikatan Alumni kita? Kekhawatiran Rahmat Fauzi tempo hari jelang Mubes seakan menari-nari di alam maya pikiran saya.  Apakah Mubes akan jadi sekedar formalitas saja? Apakah Mubes memberikan pengaruh signifikan terhadap Sumatera Thawalib?

Tentu bukan itu yang kita harapkan. Cita-cita besar Ikatan Alumni ini adalah mengumpulkan segenap potensi alumni yang ada untuk memberikan kontribusi nyata pada almamater pada khususnya, dan umat pada umumnya. Sekian ribu alumni yang telah lahir dari rahim Sumatera Thawalib, ada yang menjadi Profesor di bidang tertentu, tidak terhitung jumlahnya doktor, birokrat pemerintah, penulis,  pekerja, apatah lagi pengusaha. Semua potensi ini jika terkumpul akan menjadi sebuah sindikat alumni yang luar biasa mengerikan. Tidak hanya almamater, umat akan merasakan dampak yang nyata dari sindikasi ini. Bayangkan santri Sumatera Thawalib akan mendapatkan sentuhan ilmiah dari para doktor setidaknya sekali dalam sebulan. Masyarakat sekitar Parabek mendapatkan pengobatan gratis dari dokter yang alumni Sumatera Thawalib. Kelompok-kelompok masyarakat petani, pedagang kaki lima, pedagang asongan mendapatkan pelatihan praktis  dari  Pengusaha yang notabene alumni Sumatera Thawalib. All are free free free.

Bolehlah tentu kita berharap demikian. Mengidamkan sebuah tatanan integratif untuk menyatukan segenap potesi alumni. Mimpi selalu indah. Cita-cita amatlah mulia. Tidak ada yang salah dengan mimpi indah. Apa lacur, kepengurusan alumni pun belum diketahui rimbanya. Barangkali sudah selesai, saya-nya saja yang tidak update informasi.

Berita baiknya, sekelumit gerakan non sistemik tetap meluncur. Gerakan-gerakan alumni secara personal tetap berjalan bahkan menemukan momentumnya ketika mubes dilaksakan. Gerakan-gerakan itu termanifestasi dalam ide Koperasi Alumni berbasis Syariah yang akan launching  akhir tahun 2016 ini. Di kalangan surauparabek sendiri sekarang sdang merancang sekolah non degree, Surau Parabek Institute namanya. Sebuah lembaga pendidikan tanpa gelar yang mengambil konsentrasi pada satu bidang tertentu kemudian dibahas secara komprehensif dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD). Mentahnya telah dsiapkan. Tentu butuh asupan gizi dari alumni yang professional dalam bidang ini. Di lain kesempatan agaknya akan kita singgung hal ini.

Tidak terhitung juga kesepakatan bisnis yang terjadi. Jika ada yang mengatakan Mubes dan Silaturrahim Alumni tidak memberikan pengaruh apa-apa, sebaiknya berfikir ulang. Banyak hal yang terjadi di Mubes. Seperti kata Buya Deswandi ketika mengisi form registrasi di web surauparabek.com, “Yang ndak tibo, RUGI”.

Jika gerakan non-sistemik alumni telah menampakkan geraknya, bagaimana dengan gerakan sistemik? Kembali ke pertanyaan semula, So What?

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: