Muhammad Izzah Darwazah: Sejarahwan yang Mufassir

 

Ketika disebutkan nama-nama seperti Ibnu Katsir, al-Maraghi, dan Jalaluddin as-Suyuthi, orang-orang –terutama yang bergelut di bidang tafsir dan keagamaan- dengan cepat akan mengetahui bahwa mereka adalah mufassir yang kitabnya sudah banyak dibaca dan dipelajari. Beda halnya dengan Muhammad Izzah Darwazah (selanjutnya disebut Darwazah), mufassir kontemporer satu ini belum banyak dikenal oleh penggiat tafsir, begitu pula kitabnya, belum banyak dibaca dan dipelajari. Untuk itu, penulis ingin mendeskripsikan sedikit tentang Darwazah beserta kitab tafsirnya.

Darwazah adalah seorang pemikir muslim kontemporer yang berasal dari Nablus, Palestina. Ia dilahirkan di Nablus pada Jumat malam, tanggal 21 Juni 1888 M. Nama Darwazah merupakan nama keluarga yang telah digunakan secara turun temurun. Kata Darwazah berasal dari bahasa Arab الدرازة yang berarti الخياطة atau penjahit, karena sebagian besar keluarganya berprofesi sebagai penjahit (درازا). Sebagaimana anak-anak lain di tempat tinggalnya, Darwazah melewati pendidikan ibtidaiyah yang diselesaikannya pada usia 12 tahun. Setelah itu, selama tiga tahun, ia belajar di Madrasah Tsanawiyah Mutawasithah al-Rasyadiyah di Nablus.

Pada umumnya, para pemuda di daerah asal Darwazah melanjutkan studi ke Istanbul dan Beirut. Namun hal ini tidak berlaku bagi Darwazah remaja, ia lebih memilih untuk belajar secara otodidak. Ia menelaah berbagai macam buku yang ia dapatkan (yang berkaitan dengan bahasa, adab, syair-syair, sejarah, sosial, filsafat, tafsir, hadis, fiqih, dan kalam) Selain membaca buku-buku berbahasa Arab, Darwazah juga membaca dan mempelajari buku-buku berbahasa Turki serta bahasa asing lainnya dalam berbagai tema. Darwazah juga sempat sorogan ke beberapa ulama untuk mempelajari ilmu agama. Ia belajar fiqih kepada al-Syaikh Musthafa al-Khiyath di Nablus, mempelajari kitab hadis Shahih al-Bukhari dengan bimbingan al-Syaikh Sulaiman al-Syirabi, dan belajar ilmu nahwu dan sharf kepada al-Syaikh Musa al-Qudumi. Selain itu, ia juga membaca buku-buku dan artikel yang ditulis oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Musthafa Shadiq al-Rafi’i, dan Qasim Amin.

Darwazah hidup di masa ketika perang dan penjajahan menyelimuti rakyat Palestina. Meskipun begitu, ia tetap produktif menghasilkan banyak karya. Ia telah menulis sebanyak 22 karya di bidang sejarah, 9 di bidang al-Qur’an dan tafsir, 4 di bidang pendidikan, 1 di bidang hadis, dan beberapa artikel mengenai sejarah Palestina. Darwazah dikenal sebagai ahli sejarah Arab. Hal ini dibuktikan dengan kefokusannya dalam menekuni bidang sejarah hingga menghasilkan banyak karya di bidang tersebut.

Darwazah sempat terlibat dalam persoalan politik rakyat Palestina dan mengakibatkan terkurungnya ia di penjara. Masa penahanan Darwazah di Damaskus oleh pemerintah Inggris menghentikan aktifitas politiknya. Di saat inilah ia mulai mendalami al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Juga, dalam masa penahanan ini, Darwazah menghafalkan al-Qur’an dan menyelesaikan tiga karya besarnya yang berkaitan dengan al-Qur’an, yakni ‘Ashr al-Nabi wa Bi’atuhu Qabl al-Bi’tsah; Shuwar al-Muqtabasah min al-Qur’an al-Karim wa Dirasat wa Tahlilat Qur’aniyah, Sirah al-Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; Shuwar al-Muqtabasah min al-Qur’an al-Karim, dan al-Dustur al-Qur’aniyah wa al-Sunnah al-Nabawiyah fi Syu’un al-Hayat. Darwazah menamai kitab-kitabnya ini dengan nama Silsilah Qur’aniyah. Hal ini dikarenakan ketiga kitab ini secara umum didasarkan pada al-Qur’an.

Setelah dibebaskan dari penjara Damaskus, Darwazah tidak diizinkan untuk kembali ke Palestina. Ia pun memilih untuk tinggal di Bursa, Turki. Di kota ini Darwazah mulai menulis kitab tafsirnya yang berjudul al-Tafsir al-Hadis. Sebelumnya, Darwazah juga menulis sebuah karya dengan judul al-Qur’an al-Majid sebagai pengantar kitab tafsirnya. Kitab ini berisikan metodologi penafsiran yang ia gunakan dalam menafsirkan al-Qur’an. Motivasi Darwazah dalam menafsirkan al-Quran adalah karena ingin menghasilkan kitab tafsir yang sesuai dengan spirit zaman dan mudah dipahami. Untuk itu, ia menulis kitab tafsirnya dengan menggunakan sistematika/tartib nuzuli, yakni menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan kronologi turun ayat (dari surat al-‘Alaq hingga al-Nashr).

Menurut Darwazah, susunan kronologis ini merupakan metodologi terbaik dalam memahami al-Qur’an. Dengan sistematika ini pembaca dapat mengikuti perjalanan dakwah Nabi dari masa ke masa. Pembaca juga dapat mengetahui perkembangan turunnya ayat-ayat al-Qur’an secara jelas dan mendalam sehingga pembaca bisa merasakan hikmah diturunkannya. Sama halnya ketika membaca sebuah novel, pembaca akan larut dalam alur cerita, seakan-akan ia masuk ke dalam cerita tersebut dan ikut merasakan hal-hal yang digambarkan oleh si penulis. Itulah sebenarnya yang diinginkan Darwazah, sehingga ia menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan kronologi turun ayat. Lebih lanjut Darwazah mengatakan bahwa metode ini telah ia pertimbangkan dengan matang. Baginya, karya tafsir bukanlah mushaf yang dibaca secara sistematis layaknya al-Qur’an. Tafsir hanyalah sebuah karya ilmiah yang tidak ada hubungannya dengan tartib al-mushafi. Dan juga, tafsir tidak ada kaitannya dengan sakralitas sistematika surat-surat al-Qur’an.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, Darwazah memiliki latar belakang keahlian di bidang sejarah. Dengan kecenderungannya ini, ia sering mengaitkan ayat dengan sejarah yang ada di belakangnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya data sejarah yang dikutip Darwazah dalam menafsirkan ayat. Secara umum, penafsirannya pun rata-rata dihubungkan dengan sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Maka dari itu, kitab al-Tafsir al-Hadis karya Darwazah ini dapat dikatakan bercorak/bernuansa historis. Mengingat masih sedikit tulisan yang membahas tentang pemikiran Darwazah dan kitab al-Tafsir al-Hadis miliknya, penulis merekomendasikan kepada para pembaca untuk mengulas lebih dalam lagi tentang tokoh ini beserta kitabnya.

Imroati Karmillah

Imroati Karmillah adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Menyelesaikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2 di pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: