Mungkinkah Memahami dan Menerima?

Sangat menarik membaca artikel yang ditulis oleh Fadhli Lukman yang dipostkan di www.qureta.com dengan judul “LGBT: Antara Eksistensi dan Justifikasi” tertanggal 13 Februari 2016 (baca di sini).

Memang akhir-akhir ini masalah yang dibicarakan itu menjadi hangat di jagad dunia maya. Kehangatan perbincangan di dunia maya ini bagi saya bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena memang berbagai isu sangat mudah digulirkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Tidak ada api kalau tidak ada asap. Tapi saya juga tidak bisa memastikan ada agenda apa yang diluncurkan sehingga persoalan yang jelas dan usang ini kembali diangkat menjadi hangat. Bukanlah menjadi sesuatu yang mengherankan kalau media dimanfaatkan segitu dahsyatnya untuk mengalihkan perhatian dari dari hal-hal besar.

Dalam esai tersebut, Fadhli menyebut tiga respon yang muncul terhadap isu LGBT yang sangat sensitif ini. Kelompok pendukung, penentang, dan poros tengah. Kelompok ketiga ini, menurut adalah kelompok yang tidak menerima teori yang menormalkan LGBT, namun masih menerima LGBT sebagai realitas. Kelompok ini tidak keras seperti kelompok kedua yang menuntut pengusiran. Kelompok ketiga meyakini, ada cara untuk mengatasi ini, seperti terapi. Kelompok ketiga tidak banyak. Mungkin karena pola pikir hitam-putih yang mendarah-daging. Sedikit suara positif terhadap LGBT, kelompok kedua menganggapnya sebagai pendukung dan oleh sebab itu berada di kelompok pertama.

Lebih lanjut Fadhli juga menjelaskan tentang posisi dan sikap yang diambilnya. “Secara pribadi, saya berada di kelompok ketiga. Saya tidak sepakat dengan ide menjustifikasi LGBT. Saya berkeyakinan bahwa orientasi seksual sejenis bisa diterapi. Bagaimanapun, sebagai manusia, mereka tetaplah manusia. Namun begitu, untuk apa menolak ide tidak normal atau penyimpangan?

Dari pernyataan ini saya melihat bahwa Fadli ingin mengajak kita untuk melihat LGBT dan realiatas yang ada. Mereka yang LGBT ini merupakan sebuah gejala ketidak-normalan yang seharusnya bisa dipahami sebagaimana ketidaknormalan lainnya dalam sisi kehidupan saat ini. Ada dua alasan yang dikemukan oleh Fadhli tentang itu. Sampai diposisi ini saya sependapat. Namun ada hal yang mengelitik mengenai solusi yang ditawarkannya. Ia terlihat berlebihan ketika menilai kelompok penentang seolah-olah diperlakukan secara tidak manusiawi dimana hak-hak mereka tidak didapatkannya di negeri yang yang menurut saya sangat toleran ini.

Tentu saja saya punya alasan untuk menyatakan itu. Contoh sederhana saja, di mana saat ini masyarakat yang sudah bisa menerima mereka yang waria? Penolakan yang terjadi menurut saya adalah bila mereka melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas-batas aturan norma-norma yang berlaku. Alasan yang sama dengan penolakan terhadap prostitusi. Bukankah itu juga merupakan sebuah ketidaknormalan? Fadhli menwarkan sebuah model pendidikan inklusi seperti yang dilakukan terhadap anak-anak yang tidak normal. Pertanyaannya mungkinkah itu? Masalahnya adalah apakah bisa ketidaknormalan itu disamakan dengan anak-anak yang dilahirkan tidak normal. Sekolah inklusi untuk mereka yang lahir dalam ketidaknormalan itu menurut saya bertujuan untuk membantu mereka supaya bisa hidup secara mandiri tanpa bergantung terhadap orang lain.

Ketidaknormalan LGBT ini tentu saja tidak bisa disamakan dengan itu. Apa yang menjadi kekurangan mereka sehingga disebut sebagai orang yang tidak normal yang keberadaannya harus kita terima dengan terbuka? Apakah mereka meberikan beban yang memberatkan bagi orang lain dengan hal yang sama dengan orang-orang yang mengalami difabel (different abilities) itu? Bukanlah menjadi sesuatu yang rahasia lagi toh mereka yang terjangkit dalam prilaku ini sangat banyak dari kalangan yang terdidik, menempuh pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Bedanya ada diantara mereka yang secara terbuka menyatakan dirinya bahagian dari LGBT ini dan ada yang merahasiakannya sampai ia mati. Jika Fadhli mendorong kita untuk menerima sebagaimana realitas yang ada, ada sebuah pertanyaan juga yang muncul, dapatkah kita menerima orang-orang yang tidak mau menutup auratnya, memakai rok mini, memamakai bikini dan hanya celana yang hanya menutup alat-alat vitalnya, apakah kita bisa menerima orang-orang yang melakukan ciuman di depan umum tanpa memperdulikan orang lain disekitarnya. Bukankah semua itu merupakan sebuah ketidaknomalan? Bila semua itu harus dijawab dengan menyajikan sebuah pendidikan inklusi untuk mengatasinya, seberapa banyak model sekolah inkulisi yang harus ada di negeri ini.

Penolakan terhadap prilaku ini tentu saja tidak sesederhana apa yang terfikirkan bagi mereka yang menerima dan memahami keberadaan orang-orang ini. Tentu saja sikap penolakan itu tidaklah sama kadarnya dan menurut saya sesuatu yang tidak lazim selamanya akan sulit untuk diterima dan dipahami walaupun disitu ada sebahagian kecil ada yang dapat menerima dan memahaminya. Wallahu ‘alam.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: