Nyasar di Jogja

Jogja menurut saya adalahsebuah kota yang unik, penuh keberagaman, kekhasan, keanehan, kelucuan, sekaligus keindahan. Inilah yang saya rasakan secara pribadi sebagai seorang pelancong yang nyasar ke negeri Jogja.  Namun tentunya, tidak semua orang dapat merasakan atau menyadari hal ini.

Terutama masyarakat Jogja itu sendiri atau mereka yang tinggal tidak jauh dari Jogja. Merupakan sebuah hal yang wajar jika itu semua bisa terjadi. Karena perbedaan budaya antara kami sebagai pelancong dari luar jawa dengan daerah yang sekarang kami tempati ini sangat lah berbeda. Itu semua dapat terlihat dari gaya bicara, budaya menyapa, isyarat yang digunakan, dsb.

Jika dilihat secara kasat mata, Yogyakarta tidak terlihat seperti sebuah kota yang begitu maju. Buktinya, kita tidak banyak menemukan gedung-gedung pencakar langit seperti yang terdapat di kota-kota besar lainnya, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, dsb. Meskipun ada, namun tidak begitu banyak. Nah, saya sering berpikir mengenai fenomena ini. Padahal, Yogyakarta itu terkenal dengan sebutan “Kota Pendidikan”, dimana akses pendidikan dan layanannya sangat mudah ditemukan disini. Bukankah keadaan ini malah membuat Yogyakarta akan menjadi kota yang maju karena telah dipenuhi dengan para pemikir yang handal? Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Akan tetapi, hal ini malah membuktikkan bahwa meskipun Yogyakarta masih konsisten dengan kesederhanaannya, namun tetap maju dalam bidang pendidikan. Keren!

Nah, yang ingin saya bahas disini lebih kepada kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat yang berbeda dengan apa yang selama ini saya dapati di kampung halaman. Jika di Bukittinggi masyarakatnya doyan makan makanan yang pedas, disini malah suka makanan yang manis. Bahkan suatu ketika saya pernah ditertawakan teman-teman  karena tidak mampu menghabiskan sepiring bubur manis yang kami beli dari tukang bubur keliling. Padahal porsi yang disajikan tidak terlalu banyak.  Hal unik yang lain yang saya temui di Jogja ialah kebiasaan masyarakatnya yang suka menunjuk arah dengan berpatok pada mata angin. Jika mereka ingin menyebut sebuah lokasi cenderung menggunakan isyarat timur, barat, utara, atau selatan. Sampai sekarang pun saya masih kewalahan menghadapi serangan-serangan mereka jika menunjukkan lokasi sesuatu. Karena di kampung saya boleh dikatakan tidak ada orang yang melakukan hal itu. Jika ingin menunjuk suatu arah tinggal mengatakan sebelah kiri, kanan, depan, atau belakang. Sampai saya harus menghafal letak bandara Adi Sucipto sebagai patokan untuk arah timur. Letak bandara yang lumayan dekat dari kampus sedikit memudahkan saya untuk mengetahuinya, dengan memperhatikan arah turun dan naiknya pesawat. Jadi jika ada orang Jogja yang mengatakan sebuah arah, maka saya harus ingat dulu dimana lokasi bandara yang berada di bagian timur, baru saya cocokkan dengan arah-arah yang lain. Gila!

O iya, hal lain yang tak kalah penting adalah permasalahan harga. Jika boleh memilih, saya lebih bahagia hidup di Jogja daripada di Bukittinggi. Karena harga sepiring nasi di Bukittinggi bernilai dua kali lipat harga sepiring nasi di Jogja. Bayangkan, makan sepiring nasi di Bukittinggi dengan lauk ayam harganya mencapai 15.000 ke atas, sedangkan makan sepiring nasi di Jogja dengan lauk yang sama hanya butuh uang 8000 saja. Tapi saya harus jujur. Masakan asli Minang di Bukittinggi jauh lebih enak dibandingkan masakan “Minang” yang banyak dijual di Jogja. Meskipun tidak semua, tapi kebanyakan ya seperti itu. Jika boleh menerka-nerka, barangkali masakan “Minang” Jogja yang kurang selezat masakan Minang yang ada di Bukittinggi itu bukan dimasak oleh orang Minang itu sendiri. Sebab, masakan Minang yang diracik dengan tangan orang Minang akan menimbulkan kelezatan yang tak tertandingi oleh tangan-tangan manapun di dunia. Buktinya, masakan Rendang yang merupakan masakan khas Minang telah dinobatkan menjadi makanan “Terlezat di Dunia” baru-baru ini. Ya, anda boleh percaya atau tidak, tapi itulah buktinya. Hehe.

Seperti itulah kira-kira gambaran multikulturalisme yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Konsep-konsep Multikultural yang selama ini hanya saya pelajari lewat teori-teori di sekolah, kini sudah bisa saya rasakan dan saksikan sendiri. Hidup di negeri rantau telah banyak memberikan saya pelajaran. Dengan melancong ke negeri lain membuat kita semakin sadar betapa kecil dunia ini. Disamping itu, berbaur dengan teman-teman dari berbagai daerah yang berbeda akan mengagetkan kita, bahwa ternyata masih banyak yang lebih hebat dari kita. Mungkin selama menempuh pendidikan di jenjang Aliyah kita adalah salah satu dari siswa-siswa terbaik, namun saat kita sampai pada dunia yang lebih luas dari sebelumnya, semakin sadarlah kita bahwa kita masih tidak ada apa-apanya dan masih perlu belajar lebih banyak. Wallaahu a’lam.

Komentar

  1. Jd inget, dl yg dijadiin patokan arah mata anginnya kaliurang (utara). Hehe
    Oia,, makan nasi+ayam di tenda biru krapyak cuma 6rb…ga tau deh kalau skrg 😀

    1. Haha, betul buk. Masih banyak keunikan di jogja yang nggak mungkin didapat di nagari Minang.. 😀

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: