Pengantar: Para Nabi dan Rasul Adalah Manusia Biasa

Tulisan ini merupakan pengantar untuk rubrik Mu’amalah Terapan yang berisikan tulisan-tulisan tentang membangun sebuah usaha berlandaskan prinsip-prinsip mu’amalah. Pada pengantar ini, saya menyampaikan sebuah motivasi bagi kita semua sebagai manusia yang hidup di dunia ini sebagai khalifah yang hanya menikmati jatah kita secukupnya.

Jatah yang diberikan terbatas ini harus kita manfaatkan dengan maksimal. Islam mengajarkan keteraturan dan keseimbangan. Islam itu sangat rasional dan sangat realistis. Islam itu indah dan damai. Islam itu sangat motivasional. Islam itu dahsyat apabila kita bisa menemukan “kata kunci” dalam memantik semangat hidup kita sebagai “abdi Allah”.

Para rasul dan nabi, adalah manusia pilihan Allah yang menjadi pedoman bagi kita. Kehidupan para rasul dan nabi adalah perumpamaan, pembelajaran, dan hikmah yang harus kita jadikan sebagai panutan dan pedoman dalam menjalani hidup dalam “garis dan tali yang lurus”. Para rasul dan nabi adalah tempat sandaran kita dalam menuntun jalan hidup umat manusia. Namun mereka tetap saja adalah manusia biasa. Walaupun di sisi lain, para rasul dan nabi mendapatkan keistimewaan sebagai manusia yang “diampuni” karena mereka hidup sebagai penebar wahyu Allah.

Allah Berfirman dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 110 Yang artinya sebagai berikut :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖفَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah (Muhammad) : Sesungguhnya aku ini hanyalah seseorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepada-ku; “Bahwa sesungguhnya Ilah (sesembahan) kalian itu adalah Ilah yang Esa”. Maka Siapa saja yang berharap perjuampaan dengan Rabb-Nya, maka Hendaklah ia mengerjakan amal shalih, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

Ayat di atas memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengakui bahwa ia adalah basyar sebagaimana umatnya. Mengenai kata basyar ini, Ibnu Faris menyebut bahwa kata ini berarti bagian luar (lahiriyah) sesuatu beserta kebaikan dan keindahannya.” Sementara kata basyarah (menggunakan ta marbuthah) berarti “kulit/bagian luar manusia.” Kata basyar digunakan sebagai sebutan bagi manusia merujuk kepada penampilan luar (lahiriyah) mereka (Lihat Nadhratun –Na’im Juz III hal. 780).

Jadi, kita bisa melihat, bahwa ayat di atas jelas-jelas memberikan penegasan bahwa para rasul secara lahiriyah tidak berbeda dengan manusia lain pada umumnya. Namun demikian, mereka adalah orang-orang pilihan, utusan-utusan dan perwakilan-perwakilan yang memang dipilih oleh Allah berdasarkan hak prerogatif Allah sebagai Pencipta dan Penguasa di bumi ini. Para rasul dan atau para nabi dipilih untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiyah; risalah kepada umat manusia, agar manusia tunduk dan taat kepada Allah semata, sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ 

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) untuk menyerukan Beribadah kepada Allah saja dan jauhilah Thaaghuut”. (Al-Nahl (16) : ayat 36)

Artinya, Allah mengutus rasul-Nya pada setiap zaman dengan umat yang berbeda-beda untuk selalu mengingatkan manusia kembali ke jalan Allah.

Bukan berarti memperlihatkan supremasi laki-laki dibanding perempuan, namun ini adalah sebuah keniscyaan yang sudah berlaku dan itu adalah Hak Allah. Semua rasul dan nabi yang diutus kehadapan umatnya, adalah para lelaki yang diberikan wahyu sehingga dengan wahyu inilah mereka mengajak umatnya untuk bertauhid. Sebagai lelaki biasa yang sama dengan manusia lainnya, mereka  tidak kekal dan abadi. Mereka bukanlah manusia pilihan yang mampu hidup tanpa memerlukan asupan makanan dan atau minuman untuk bertahan di dunia ini. Allah mempertegas hal ini dalam surat Al-anbiya’ ayat 7&8:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖفَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ. وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

“Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui. Dan Tidaklah kami jadikan mereka (para Rasul) tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak pula mereka itu orang-orang yang kekal”.

Jadi, sebagaimana kita manusia biasa, nabi dan rasul juga demikian. Mereka bekerja dan menghasilkan nafkah lahiriah, baik pangan, sandang, dan papan. Mereka bukanlah makhluk abadi; mereka juga merasa kelelahan, merasa sakit, dan menua. Kematian pun juga tidak luput dari mereka, bahkan dalam bentuk dibunuh.

Salah satu sifat manusia adalah memiliki rasa takut dan khawatir. Hal ini wajar karena kita adalah manusia yang lemah. Kita adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan abadi. Tidak ada manusia superhero. Manusia, makhluk yang diciptkan dari segumpal tanah yang di tiupkan roh di dalamnya, adalah makhluk lemah, tak berdaya, makhluk pelupa, dan sering berbuat salah.

Perasaan serupa juga dialami oleh para rasul. Umpamanya, Allah menggambarkan dalam surat Hud ayat 70 bahwa nabi Ibrahim yang merasa khawatir ketika Allah mengutus rombongan malaikat yang menyamar menjadi manusia untuk bertamu kepadanya.

Manusia biasa merasakan ketakutan-ketakutan dalam hidupnya. Takut miskin, takut kena ancamanan pembunuhan, takut diserang oleh orang lain, takut kekurangan harta, takut kehabisan harta, takut kematian akan datang kepadanya, takut kematian akan datang kepada keluarganya, takut kesepian di dunia tanpa kehadiran orang tersayangnya, takut tidak mendapatkan pekerjaan, takut usahanya bangkrut, takut, takut, dan takut lainnya.

Begitulah Al-Quran menggambarkan bahwa para nabi, sebagai basyar, memiliki sifat dan karakter yang sama dengan manusia pada umumnya. Ini pertama kali harus kita sadari.

Apa hubungannya dengan mu’amalah terapan? Mari kita tunggu edisi berikutnya.[]

 

Adri Syahrizal

Adri Syahrizal adalah Presiden Direktur Ritelteam Indonesia; sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang Konsultan manajemen Ritel dan UKM, Software ritel, Penjualan Rak Gondola supermarket dan Perlengkapan kasir. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 1991-1997.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: