Parabek: Jangan Abaikan Sejarahmu!

 Tahun 1910?

Kapankah kelahiran Madrasah Sumatera Thawalib Parabek? Jawaban yang populer adalah pada tahun 1910. Karena itu, pada tahun 2010 yang lalu, diadakanlah peringatan satu abad umur Madrasah ini. Napak tilas diagendakan untuk mengenang dan meresapi perjuangan dan cita-cita sang founding father, Syaikh Ibrahim Musa Parabek. Bukan hanya itu, siswa angkatan 2010/2011 didaulat sebagai siswa angkatan keseratus atau angkatan 1 abad.

Benarkah demikian? Apa buktinya?

Cerita! Itulah buktinya. Cerita dari mulut ke mulut dari guru-guru kepada murid. Tidak begitu sering. Tapi paling tidak, setiap penerimaan murid baru atau rekrutmen guru baru, cerita itu disampaikan. Tentu saja juga pada agenda peringatan satu abad enam tahun yang lalu.

Angka ini menjadi membingungkan sebenarnya. Jika ditilik referensi-referensi sejarah tentang Sumatera Barat secara umum, terutama tentang reformasi pendidikan, dan sejarah/biografi Syaikh Ibrahim Musa secara khusus, tidak disebutkan angka itu.

Syaikh Ibrahim Musa dilahirkan pada tahun 1884 dan meninggal pada tahun 1963. Tidak ada perbedaan dalam hal ini. Mengenai keberangkatan ke Mekah, Khairul Ashdiq menulis tahun 1901, dan beberapa referensi lainnya menyebut 1902. Tidak ada hal signifikan mengenai ini. Hal menarik muncul terkait kepulangan beliau. Disebutkan bahwa Syaikh Ibrahim Musa pulang ke kampung halaman pada tahun 1908, dan ketika itu ia langsung memulai program halaqah di Surau.

Enam tahun berselang, Syaikh Ibrahim Musa berangkat ke Mekah untuk kedua kalinya. Dua tahun di tanah Hijaz, ia pulang  pada tahun 1916. Menurut Subhan Afifi, pada tahun yang sama Syaikh Ibrahim Musa mebentuk kelompok belajar Muzakaratul Ikhwan. Sementara itu, Burhanuddin Daya menyebut Muzakaratul Ikhwan baru dibentuk pada tahun 1919. Khairul Ashdiq berada di posisi yang sama dengan Burhanuddin Daya.

Kesadaran organisasi tumbuh dan berkembang di Sumatera Barat. Begitu pula di Surau Parabek dan koleganya Surau Jambatan Basi. Kedekatan kedua Surau ini dengan Jong Sumatranen Bond yang dibangun oleh M. Hatta dan M. Yamin menginspirasi untuk membangun organisasi bernama Sumatera Thawalib pada tahun 1921. Secara bersamaan, Muzakaratul Ikhwan berganti nama menjadi Sumatera Thawalib diikuti oleh sejumlah sekolah lainnya. Dimanakah posisi angka 1910?

 Monumen Sejarah

Enam tahun menjadi murid dan setelah empat tahun kembali masuk ke lingkungan Madrasah sebagai guru sejatinya bukanlah waktu yang panjang. Tujuh tahun dibandingkan dengan sejarah panjang 106 tahun (1990?-2016) berjalannya aktifitas pendidikan di Madrasah Sumatera Thawalib sungguh sebuah perbandingan yang sangat mencolok. Namun begitu, dalam waktu yang singkat tersebut, terlihat jelas bahwa Madrasah Sumatera Thawalib Parabek tidak memiliki kesadaran sejarah!

Tentang angka 1910 ini hanyalah satu dari sekian pertanyaan yang perlu didalami. Ada banyak pertanyaan lainnya. Sejauh apa pengetahuan para siswa terhadap Syaikh Ibrahim Musa? Hanya nama, sepertinya; tak lebih dari itu! Suatu ketika, pada tahun ajaran 2012-2013, sekelompok siswa pernah melakukan survei kecil-kecilan tentang ini. Pertanyaan yang diajukan sangat sederhana; hanya pertanyaan-pertanyaan mendasar. Siapakah nama kecil Syaikh Ibrahim Musa? Berapa kali beliau berangkat haji? Pada umur berapa beliau berangkat? Kapan beliau memulai halaqah? Kapan beliau wafat? Nyaris tidak ada yang tahu. Mengenai pertanyaan terakhir sangat ironi karena data itu terpampang jelas di kuburan beliau di depan Masjid Jami’ Parabek. Perlukah survei ini dilanjutkan kepada guru?

Ini baru tentang satu nama, Syaikh Ibrahim Musa. Begitu banyak nama lainnya yang menjadi pondasi perjalanan sejarah Madrasah ini. Sudah berapa generasikah rentetan Syaikhul Madrasah semenjak Syaikh Ibrahim Musa hingga Inyiak Imam Muzakkir yang baru saja wafat beberapa bulan yang lalu? Ada yang bisa menjawab?

Dengan sangat menyesal, saya pribadi mengaku, saya tidak bisa menjawabnya. Hanya beberapa nama yang pernah disebut-sebut, Inyiak Ibrahim, Ust. Labiah, Inyiak Mukhtar disamping Inyiak Imam Suar, Ust. Abdul Ghaffar, dan Inyiak Imam Muzakkir yang masih sempat saya temui. Jika pengetahuan siswa begitu tipis tentang Inyiak Ibrahim Musa, apalagi tentang nama-nama terakhir. Saat ini, terbetik cita-cita di dalam hati untuk menelusuri itu semua dan menuliskan biografi masing-masing mereka, dalam 3-4 tahun mendatang (Jika ada yang tertarik, punya kesempatan, dan ingin memulai, akan sangat baik sekali).

Pihak yang bertanggung jawab memang abai dalam hal ini. Peringatan satu abad perjuangan Madrasah hanya sebatas seremonial. Tidak ada bekas dari napak tilas itu. Saat ini, di tengah pembangunan yang begitu intensif, monumen atau archive yang mampu bercerita tentang sejarah perjalanan dan perjuangan Madrasah ini tidak ditemukan. Tidak ada display foto-foto Syaikhul Madrasah sepanjang sejarah, tidak ada rekaman aktifitas dan pemikiran mereka, bahkan petunjuk tentang nama-nama mereka. Semua itu hanya hal-hal sederhana.

Monumen bukan sekedar monumen. Archive tidak bisu. Ia memang tidak bersuara. Tapi ketika ia diketengahkan ke pusat kegiatan, dilihat, dan diketahui keberadannya, oleh siswa, guru, dan seluruh civitas pondok pesantren, kesadaran sejarah akan muncul; kesadaran bahwa telah begitu panjang perjalanan telah dilalui oleh Madrasah ini; bahwa telah begitu banyak orang yang telah terlibat dan berkorban sedemikian rupa demi berdiri tegaknya lembaga ini; bahwa ada cita-cita luhur yang menjaga sejarah itu.

Kita tidak lagi bisa bergantung kepada cerita dari mulut ke mulut tentang peristiwa ini dan itu. Sejarah berdiri di atas dokumentasi. Tanpa dokumen, segala pengetahuan dan keyakinan yang ada bisa menjadi kabur. Ketahuilah, bahwa suara-suara miring seputar sejarah Nabi Muhammad dan Al-Quran berakar kepada polemik seputar dokumen. Semakin jelas sebuah dokumen, semakin kokoh sejarahnya, begitu sebaliknya. Dengan demikian, jika dokumen demi dokumen, monumen demi monumen sekolah ini tidak jelas, maka tidak jelas pula lah sejarahnya. Jika sejarahnya tidak jelas, identitas pun menjadi kabur. Tiada pegangan, tiada pijakan. Ide, pengetahuan, keyakinan, dan cita-cita melayang teroambang-ambing tanpa pondasi. Dengan mudah ditarik ke kiri, di ulur ke kanan, didorong dan dipatahkan. Jika semua itu terjadi, sungguh kritis.

Kesadaran sejarah harus ditumbuhkan. Siswa-siswa perlu diberi pengetahuan yang lebih banyak tentang para Syaikhul Madrasah. Buku dan lembaran tulisan mereka harus dipublikasi ulang. Ide, pikiran, rekam perjuangan dan sepak terjang mereka harus ditulis. Foto-foto mereka harus diperlihatkan. Ingatan tentang ini harus diciptakan. Supaya jelas berdiri tegaknya identitas dan cita-cita luhur madrasah ini.

Jadi, kapankah Madrasah ini didirikan? 1910 ataukah 1908, 1916, 1919, atau 1921? Apa perlu kita ganti dengan 1908 supaya terkesan lebih tua (yang artinya lebih bersejarah)? Atau, ditelaah lebih serius dengan merekonstruksi sejarah Madrasah ini secara utuh dari akar hingga ranting tertinggi dan ditindaklanjuti dengan membangun kesadaran sejarah bagi seluruh keluarga besar?[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Komentar

  1. […] Bagi Madrasah Sumatera Thawalib, sangat sedikit ditemukan sejarahnya yang dituliskan. Tidak banyak literatur yang dapat dijadikan rujukan. Baik tentang pendirinya dan orang-orang hebat lainnya yang telah mencurahkan ilmu dan ketauladanan bagi anak didiknya. Satu-satunya sumber rujukan tentang perjalanan Madrasah ini yang saya pernah temui hanyalah Ustad H. Abdul Gaffar. […]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: