Patah (tak) Tumbuah Hilang (tak) Baganti

Beberapa tahun ini Sumatera Thawalib Parabek telah kehilangan beberapa ulama sekaligus guru besar, sebut saja dari Inyiak Ibrahim, kemudian Inyiak Imam Suar, terus di susul oleh Inyiak Ghafar, dan baru-baru ini kita kembali di tinggalkan oleh Inyiak Imam Muzakkir atau yang akrab di sapa dengan Inyiak Katik.

Dengan berpulangnya ulama dan guru besar ini, ada persoalan besar yang muncul. Hal ini tersirat dalam sebuah pertanyaan; apakah sesungguhnya yang telah terputus dari kita, dengan berpindahnya mereka kealam baka?

Pada hakekatnya mereka lebih dari mengajar dan duduk di depan jamaahnya. Dari kelas atau pun tempat-tempat mereka berdakwah, mereka selalu memancarkan ilmu dan tauhid. Di sana, mereka menggelar usaha pencerdasan umat, pembelah kabut kejahilan, menumbuhkan ruh i’tiqad dan sikap kritis. Dengan ketulusan dan kesedehanaan mereka membentuk pribadi yang kokoh lahir bathin. Sekaligus mereka menjadi tempat mengembalikan segala macam persoalan, persoalan dunia dan juga persoalan keagamaan.

Ketika kita mendengar kabar wafatnya mereka satu persatu, pernahkah kita mendengar nama seorang ulama muda yang akan menggantikan mereka yang telah berpulang? Daftar kehilangan tak dapat di tahan; dia akan bertambah panjang. Tapi nama-nama yang menggantikan belum kunjung terdengar.

Entah apa yang menjadi penyebab. Apakah di zaman sekarang ilmu di yang mereka dalami tidak menarik atau kurang menarik. Yang lebih menarik ialah kantor kedutaan kedutaan luar negeri, financial, kimia, biologi, dan lain sebagainya. Sementara itu, nahwu, sharf, ushul fiqh, mantiq, balaghah, dan ilmu agama lainnya menjadi ilmu yang telah di telan zaman.

Begitu juga, sumber tuntutan ruhani, sumber pembentukan akhlak, iman dan takwa bertambah lama bertambah kering. Kita melihat modernisasi pelajaran dan pendidikan umat Islam baru melahirkan orang orang ilmu umumnya bagus, tapi agamanya tanggung. Tak cukup alat mereka untuk ijtihad pemecahan hukum, dan tanggung pula untuk dijadikan sebagai panutan bagi umat.

Padahal di antara generasi-generasi muda banyak yang mempunyai bakat untuk menjadi pelanjut dari modal warisan yang makin lama makin habis. Kajian kitab kuning tidak sepopuler lomba olimpiade. Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua khususnya alumni Sumatera Thawalib Parabek dimana alumni berperan sebagai contoh dan motivator bagi generasi di bawahnya. Persoalan ini merupakan lapangan perjuangan yang tak heroik keliatannya, akan tetapi, sangat vital dan tak dapat di serahkan pada orang lain.

Teringat kata pak Natsir dalam salah satu pidatonya, kalau patah tak tumbuh hilang tak berganti dalam hal ini, jangan terkejut. Akan ada masa yang orang Islam menggembar gemborkan berjuang menegakkan kalimat Allah, akan tetapi tak tahu apa sesungguhnya yang diperjuangkan  itu. Percuma berteriak krisis moril merajalela, apabila sumber kekuatan ruhani dan pribadi dibiarkan kering.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: