Pendidikan dan Kepemimpinan

Pada hakikatnya, kepemimpinan merupakan sebuah seni untuk mempengaruhi orang lain sehingga menimbulkan keyakinan, respek, kepatuhan, kemauan, dan kepercayaan untuk melaksanakan apa yang telah dirancang oleh pemimpin. Telah banyak berkembang berbagai tipe dan metode kepemimpinan untuk memimpin masyarakat, salah satunya adalah kepemimpinan yang melayani. Kepemimpinan jenis ini merupakan jenis kepemimpinan yang berpusat pada rakyat yang lebih mengutamakan kebutuhan, kepentingan, dan aspirasi masyarakat dibanding dirinya. Orientasinya adalah untuk melayani, cara pandangnya holistic dan beroperasi dengan standar moral spiritual.

Kepemimpinan yang melayani memiliki keutamaan karena hubungan pemimpin dan masyarakat berorientasi pada pelayanan dan spiritual. Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk melayani kepentingan masyarakat agar menjadi lebih sejahtera. Untuk menjadi pemimpin yang seperti ini dibutuhkan proses karena sifat kepemimpinan itu diciptakan, meskipun ada yang telah mempunyai “bakat” memimpin dari lahir. Salah satu prosesnya adalah pendidikan. Pendidikan harus mampu mewujudkan pemimpin yang mempunyai orientasi melayani masyarakat. Ada banyak sistem pendidikan yang telah diterapkan yang diterjemahkan dalam bentuk kurikulum.  Namun demikian, untuk mewujudkan kepemimpinan yang melayani, sistem pendidikan tidak hanya terfokus pada pengembangan kecerdasan kognitif saja tapi juga pengembangan kecerdasan spiritual, emosional, dan metakognitif secara bersamaan.

Kecerdasan kognitif merupakan kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, dan memahami gagasan. Lain halnya dengan kecerdasan spiritual yang menggambarkan kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan diri secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan spiritual ditandai oleh kesadaran memahami diri sendiri (self–reflected) sehingga mampu menghadapi setiap kesulitan. Kecerdasan emosional merupakan  kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi. Kecerdasan emosional mampu meningkatkan rasa simpati dan empati kepada orang lain, merespon dan bernegosiasi secara emosional serta dapat menggunakan emosi sebagai alat memotivasi diri. Sedangkan kecerdasan metakognitif berkaitan dengan kemampuan untuk menggunakan kecerdasan, bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, tahu membedakan kebenaran dan pembenaran, serta mampu membuka dan mencari “pintu”. Orang yang mempunyai kecerdasan metakognitif mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan dengan bijak. Hal ini merupakan pondasi penting dalam sebuah pembaharuan untuk kehidupan yang produktif.

Pendidikan dengan semua aspek kecerdasan itulah yang bisa disebut dengan pendidikan komprehensif. Keempat aspek tersebut merupakan kebutuhan mutlak bagi seorang pemimpin, khususnya pemimpin yang berorientasi melayani. Sistem pendidikan komprehensif harus diterapkan baik secara formal maupun informal.

Dalam pendidikan formal, anak didik diajarkan bagaimana berempati kepada orang lain, mengatur kelompok, dan mengatasi masalah secara bijak. Kegiatan tersebut bisa diterapkan dalam sebuah kurikulum berbasis sistem kemprehensif yang mencakup semua kemampuan yang dibutuhkan. Sedangkan dalam pendidikan informal, anak-anak diajarkan bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat, mengenal lingkungan dan mengatur diri sendiri dari hal yang paling kecil sampai yang paling besar dalam rangka membangun kedisiplinan. Hal ini dapat dilakukan oleh keluarga di rumah, terutama orang tua. Pengenalan sejak dini terhadap masyarakat, lingkungan, dan kedisiplinan dapat menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan dan orang-orang sekitarnya serta membangun jiwa mandiri.

Dengan pengembangan pendidikan yang komprehensif ini diharapkan dapat membentuk pola kepemimpinan yang mempunyai rasa empati dan moral spiritual. Dengan begitu pemimpin tersebut mampu mengendalikan situasi, mengerti tentang persoalan masyarakat, serta dapat melakukan pembaharuan terhadap kondisi yang ada dengan membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak terhadap masyarakat. Akhirnya, akan melahirkan bangsa yang tangguh dan sejahtera.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: