Pengalaman Puasa 18 Jam

Ramadhan tahun ini saya berpuasa lebih panjang daripada biasanya. Di Indonesia, kita berpuasa kira-kira mulai pukul setengah 4 pagi hingga jam 6an sore. Karena faktor geografis, wilayah Indonesia bagian Barat lebih telat daripada Indonesia bagian Timur.

Karena faktor geografis pula, sejumlah wilayah seperti Eropa, pada tahun ini durasi puasanya lebih panjang. Ramadhan tahun ini saya beraktifitas di Freiburg, sebuah kota di bagian selatan Jerman, dan Leiden, sebuah kota kecil di Belanda. Subuh sekitar setengah 4 dan buka puasa baru pukul 21.30 malam. Belanda berada di sisi utara Jerman, jadi durasi puasanya relatif lebih panjang pula, sekitar 45-60 menit.

Jadwal siang memang lebih panjang daripada malam di Eropa pada musim panas. Kebetulan, Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim panas. Jadi, bukan hanya lama, tapi cuaca panas juga semakin melelah-lemaskan.

Tapi itu adalah perkiraan saya sebelum menjalaninya. Ketika masih di Indonesia beberapa bulan yang lalu, beberapa teman dan senior juga telah menyebut-nyebut hal ini. ‘Kamu akan menjalani puasa yang berat!’, lebih kurang begitu kata mereka. Tapi saya merasa beruntung karena di wilayah Skandinavia bahkan matahari seakan tak kunjung terbenam.

Dalam lagu Just give me a reason, Pink menyebut ‘nothing as bad as it seems.’ Lirik tersebut tepat sekali menggambarkan pengalaman puasa panjang saya. Ketika masih mengawang di pikiran, terasa berat, tapi sekali dijalani, ternyata kuat-kuat aja. Seperti biasa, keluarga dan sejumlah teman lainnya yang merasa khawatir. Setiap sebentar mereka bertanya: apakah puasa saya lancar?; sehat kan dengan puasa panjang?

Satu bulan sebelum Ramadhan, salah seorang kawan saya membayar nazarnya. Dia gagal ujian dua kali dalam satu mata kuliah. Jika ia gagal untuk ketiga kali, maka ia DO. Begitulah sistem pendidikan di Jerman. Barangkali mereka berpandangan jika Anda gagal tiga kali, maka Anda tidak dalam bidang ini.

Menghadapi beban itu, ia bernazar puasa. Tidak tanggung-tanggung, puasa satu bulan penuh, dan berturut-turut. Alhamdulillah ia lulus. Lega. Tentu saja ia harus menepati nazarnya. Tepat satu minggu sebelum Ramadhan nazarnya selesai. Satu hal yang paling mengesankan, dia masih kuat untuk main futsal, selama dua jam(!), setiap hari Minggu. Jika ia kuat, mengapa saya tidak? Sekali dijalani, memang, ternyata kuat-kuat aja.

Masalah durasi waktu memang tidak terlalu bermasalah buat saya. Sepertinya teman-teman di sini juga demikian. Akan tetapi, semua itu dengan catatan, persiapan yang cukup. Sahur harus cukup makan, terutama minum. Jika tidak, maka memang akan terasa sangat berat. Jika di Indonesia puasa bisa tetap lancar sampai bedug Magrib meskipun tak sahur, di sini tidak.

Itulah mengapa puasa saya jebol sehari. Ketika itu saya dalam perjalanan pulang dari Leiden. Di perjalanan, saya tetap puasa. Toh bukan saya yang nyupirin kereta apinya, dan toh di kereta saya terkadang menikmati pemandangan dan lebih seringnya tidur. Hari itu puasanya tetap lancar.

Saya baru sampai di Freiburg pukul 21.09. Jadwal buka hari itu pukul 21.38. Saya buka di restoran Thailand, dan pulang. Ternyata lelahnya perjalanan baru terasa ketika badan telah menyentuh kasur. Bangun-bangun, tau-tau sudah mepet Subuh. Bahan makanan tidak ada, dan belum masak. Saya sahur seadanya, roti yang dibawa dari Leiden dan minum. Siang, masih pukul satuan, badan terasa lemas, dan perut terasa panas. Akhirnya saya memutuskan beli roti, dimakan, pulang, dan masak, dan makan lagi.

Sekali lagi, masalah durasi waktu yang berkaitan dengan ketahanan fisik, tidak begitu mengganggu. Yang sesekali mengganggu berada di  tataran mental. Sekitar pukul satu atau dua siang, di Indonesia sudah pukul enam atau tujuh. Teman-teman di kampung halaman sudah buka. Sekitaran jam segitu, media sosial dipenuhi sama foto makanan-makanan khas buka; kolak, cendol, pisang goreng, martabak, dan sebagainya. Itu dia yang bikin ngiler. Laparnya sih biasa aja, tapi kangen makanan gituannya yang lebih.

Tapi bersyukur mahasiswa Indonesia dimanapun di luar negeri tidak ada yang sendirian, sepertinya. Selalu ada komunitas mahasiswa atau keluarga Indonesia. Dalam komunitas itulah kita sering masak-masak dan makan-makan menu Indonesia. Sekedar melepas kangen.

Hal yang terpenting untuk dibicarakan di sini juga adalah tentang suasana Ramadhan ala Indonesia yang tidak ditemukan di sini.  Ramadhan di Indonesia merupakan ibadah komunal. Semua orang, atau lebih tepatnya hampir semuanya, menjalani puasa. Ada festival buka bersama, ada sahur on the road, ada komunitas Para Pencari Ta’jil (PPT), dan ada konvoi ke masjid bareng-bareng.

Jika pasar malam menjadi momen orang-orang ke TKP, Ramadhan menjadi momen orang-orang beramai-ramai ke masjid. Di Tv ada Iklan sirup dan obat magh, sinetron dan lawakan edisi spesial sahur, dan sebagainya. Ada mercon, ada mudik di akhir, dan banyak lagi. Tidak dipungkiri, selain sisi ubdiyah, Ramadhan hadir di bumi Indonesia dengan banyak hal-hal duniawi.

Ramadhan dengan sedemikian rupa difestivalkan. Suasa kampung berubah. Nuansa dunia nyata maupun maya secara mendadak berganti; seperti mendadaknya artis-artis dan siaran televisi berganti genre. Itulah yang barangkali tidak ditemukan di negara-negara dengan penduduk Muslim minoritas. Festival-festival Ramadhan tidak sekental dan intens di Indonesia.

Bukan tidak ada, tapi tidak intens. Para Pencari Ta’jil bisa mendapatkan buka-sahur gratis di Masjid. Beberapa hari menjelang akhir Ramadhan, kantin mahasiswa di sini mengadakan acara buka bareng. Mereka yang biasa tutup pada pukul 8 malam, khusus hari tersebut masih buka pada pukul setengah 10. Mereka menyediakan menu Arab. Acaranya rame, banyak yang datang. Bukan hanya Muslim, tapi juga mereka yang ingin tahu tentang Ramazan (begitu kadang ditulis) atau sekedar ingin mencicipi menu Arab yang murah. Sebagai pembuka, salah seorang panitia memberikan kuliah singkat tentang hal-hal mendasar tentang Ramadhan; mulai dari apa itu puasa, sahur-buka, lailatul qadar, idul fitri, dan sebagainya.

Menjalani Ramadhan di sini berarti menjalani Ramadhan sebagai ibadah yang personal, benar-benar personal. Saya mengibaratkannya dengan shalat malam wa al-nāsu niyām. Orang-orang sibuk dengan mimpi mereka masing-masing, dan kita shalat dalam kesendirian yang khusyu’ dan bersahaja. Di situlah kentalnya spiritualitas shalat malam.

Begitu pula menjalani Ramadhan di sini. Orang-orang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Perkuliahan berjalan terus dan kesibukan kota tidak berbeda. Tidak ada suasana atau pola siaran tv yang mendadak berubah menyesuaikan momen Ramadhan. Dalam kondisi itu, kita menjalani puasa dalam kesendirian. Juga terasa bersahaja.

Pengalaman ini menghadirkan sebuah spiritualitas yang berbeda. Menjadi salah satu warna dari kegiatan-kegiatan Ramadhan yang saya hadapi setiap tahunnya selama ini. Saya ingin menutup tulisan ini dengan ucapan selamat hari Raya Idul Fitri. Min al-‘āidīn wa al-fāizin. Taqabbalallahu minnā wa minkum.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: