Pentingkah Konteks dalam Tafsir?

 

Untuk memahami makna dan maksud dari sebuah kalimat ataupun pembicaraan, seseorang perlu mengetahui dalam situasi, kondisi, dan tempat seperti apa kalimat tersebut diucapkan. Yang demikian itu, dalam kajian kebahasaan dikenal dengan istilah konteks. Pengetahuan terhadap konteks berguna agar pembaca atau pendengar tidak salah dalam memahami sebuah kalimat/ ujaran. Beberapa unsur yang perlu diketahui dalam memahami konteks adalah pembicara serta waktu dan tempat ketika berbicara.

Tidak berbeda dengan al-Qur’an, yang merupakan kalam Allah dan diturunkan kepada Nabi Muhammad, ia juga perlu diketahui dan dianalisis konteksnya agar tidak disalahpahami oleh pembaca. Pemahaman terhadap al-Qur’an pada saat ia diturunkan dan pada saat sekarang tentu berbeda. Untuk itu, perlu dilakukan pengungkapan makna al-Qur’an hingga bisa diaplikasikan di setiap masa. Salah satu cara untuk menemukan makna asli dan ideal moral suatu ayat adalah dengan mengetahui konteks sosio-historis dari ayat tersebut.

Abdullah Saeed, seorang pakar studi Islam asal Australia, dalam bukunya Al-Quran Abad 21; Tafsir Kontekstual (diterjemahkan dari Reading the Qur’an in the Twenty-first Century, A Contextualist Approach), menyebut konteks sebagai sebuah konsep yang memiliki dua cakupan, yaitu konteks linguistik dan konteks makro. Konteks linguistik ia jelaskan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan cara sebuah frase, kalimat, atau teks tertentu ditempatkan dalam teks yang lebih besar. Sedangkan konteks makro adalah usaha memberikan perhatian terhadap kondisi sosial, politik, ekonomi, kultural, dan intelektual di sekitar teks al-Qur’an. Apa yang disebut oleh Saeed dengan konteks makro inilah yang dimaksud konteks sosio-historis dalam tulisan ini.

Pengetahuan tentang aspek kunci dari konteks tempat al-Qur’an diturunkan (Mekah dan Madinah) dapat membantu menghubungkan antara teks al-Qur’an dan lingkungan tempat teks tersebut muncul. Dibutuhkan pengetahuan yang mendetail tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup Nabi, baik di Mekah maupun di Madinah. Peristiwa-peristiwa besar seperti Isra’ Mi’raj, hijrahnya Nabi, serta peperangan antara orang Islam dengan para pengingkar Nabi memang disebutkan dalam al-Qur’an. Hanya saja al-Qur’an tidak menceritakannya secara rinci. Untuk itu, penguasaan terhadap sejarah kehidupan Nabi sangat diperlukan dalam memahami makna ayat. Demikian yang dikatakan Saeed dalam karyanya, The Qur’an: an Introduction.

Istilah konteks ‘makro’ yang dikemukakan oleh Saeed juga dapat ditemukan dalam teori sabab al-nuzul, yakni sabab al-nuzul mikro dan sabab al-nuzul makro. Sabab al-nuzul makro mencakup hal-hal yang luas yang berhubungan dengan sejarah dan kondisi sosial masyarakat tempat diturunkannya ayat, sedangkan sabab al-nuzul mikro hanya terbatas pada riwayat-riwayat tentang turunnya ayat tertentu. Kata ‘makro’ ini juga digunakan oleh Fazlur Rahman dalam bukunya Islam and Modernity ketika menjelaskan teori double movement-nya. Ia menggunakan istilah macro situation untuk menyebutkan kondisi sejarah yang meliputi seluruh situasi yang kemungkinan memiliki hubungan dengan munculnya ayat tertentu. Jadi, kondisi ini tidak terbatas pada orang-orang di sekitar turunnya ayat saja.

Mu’ammar Zayn Qadafy menyamakan konteks sosio-historis dengan sabab al-nuzul makro. Ini dapat dilihat dalam karyanya yang berjudul Buku Pintar Sababun Nuzul, dari Mikro hingga Makro. Ia mendefinisikan sabab al-nuzul makro berdasarkan beberapa istilah kunci yang diungkapkan oleh para pakar ilmu al-Qur’an dan tafsir yang menggambarkan sabab al-nuzul makro, seperti macro situation, historical background, existing situation of Arabian society, al-siyaq al-tarikhi al-ijtima’i, particular circumstances of Arabia, dan historical circumstances. Menurut Qadafy, definisi yang dapat mendeskripsikan hakikat sabab al-nuzul makro adalah سياق اجتماعي تاريخي حول نزول الآيات (konteks sosio-historis di sekitar turunnya ayat-ayat al-Qur’an).

Lebih lanjut ia jelaskan bahwa kata اجتماعي/ sosial di sini tidak dimaksudkan untuk ilmu tertentu (sosiologi) ataupun interaksi tertentu (sebagai lawan dari kata personal atau individual). Sosial di sini merupakan lawan dari kata eksak (ilmu alam), maka tercakuplah ke dalamnya kajian sosiologis, antropologis, psikologis, kultural, politis, dan yang lainnya. Tema-tema yang dikaji tidak terbatas pada penelitian sosiologis saja, seperti golongan sosial, jenis-jenis hubungan sosial, konflik berdasarkan kepentingan, peranan dan status sosial, serta hal lain yang berkaitan dengan pola sosial objek (dalam hal ini masyarakat) yang dikaji, akan tetapi juga meliputi segala hal yang terpikirkan dalam kajian atas kehidupan manusia.

Adapun kata تاريخي/ historis tidak lantas menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi di masa lampau sebelum ayat diturunkan. Kata itu menekankan arti keterkaitan suatu objek pada ruang dan waktu tertentu. Kemudian kata حول merujuk kepada dua batasan, yakni tema dan waktu. Sebagai batasan tema, kata حول (di sekitar, tentang, kira-kira) mengharuskan adanya hubungan antara konteks sosio-historis yang dimaksud, dengan isi ayat al-Qur’an yang ditafsirkan. Sebagai batasan waktu, kata ini tidak membatasi bahwa kondisi sosio-historis tersebut harus terjadi bersamaan dengan turunnya ayat  atau berjeda beberapa saat seperti yang disyaratkan mayoritas ulama dalam definisi sabab al-nuzul mikro.

Masih menurut Qadafy, konteks sosio-historis dapat diakui sebagai sabab al-nuzul makro jika batas akhir waktunya adalah saat ayat al-Qur’an diturunkan. Sedangkan batas awal waktunya tidak bisa ditentukan dengan menyebutkan tahun atau masa tertentu. Apabila konteks sosio-historis masih berhubungan dengan ‘situasi terkini’ saat ayat diturunkan, maka ia dapat disebut dengan sabab al-nuzul makro meskipun peristiwa itu terjadi jauh sebelum Islam datang.

Apa yang telah dirumuskan oleh Qadafy tentang definisi sabab al-nuzul ini menurut penulis cukup memuaskan dan dapat mewakili apa yang dimaksud dengan konteks sosio-historis. Batasan awal dan akhir waktu konteks sosio-historis yang ia buat pun sangat masuk akal dan dapat diterima. Misalnya ketika menafsirkan ayat dengan tema menyekutukan Tuhan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tradisi menyembah banyak tuhan/ berhala yang diyakini sebagai tuhan sudah terjadi jauh sebelum Islam datang. Itulah yang disebut dengan batasan awal sabab al-nuzul makro. Sedangkan batasan akhirnya adalah ketika ayat tentang larangan menyekutukan Tuhan itu diturunkan. Maka masa dan konteks sosio-historis setelah diturunkannya ayat tidak termasuk ke dalam sabab al-nuzul makro ayat tersebut.[]

 

Imroati Karmillah

Imroati Karmillah adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Menyelesaikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2 di pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: